Bikin Warga Bertahan 5 Jam! Karnaval Budaya Kuningan Tampilkan Sejarah hingga Kerajaan Saunggalah
KUNINGANSATU.COM,- Jalanan pusat Kabupaten Kuningan berubah menjadi panggung budaya pada Minggu (13/9/2026). Ribuan masyarakat memadati sepanjang jalur helaran Karnaval Budaya dalam rangka Hari Jadi ke-528 Kuningan.
Mengusung tema “Tumapak ka Jaman Baheula: Napak Tilas Kuningan”, karnaval tahun ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni dan hiburan. Sejumlah peserta membawa masyarakat menyusuri perjalanan panjang Kuningan melalui berbagai visualisasi sejarah, tradisi, hingga kekayaan budaya daerah.
Sejak rombongan peserta mulai melintas, antusiasme warga terus terlihat. Masyarakat dari berbagai usia berdiri di sepanjang rute untuk menyaksikan parade yang berlangsung sekitar lima jam tersebut.
Beragam penampilan disuguhkan dalam helaran. Mulai dari replika Kuda Putih, kesenian tradisional, angklung, pencak silat, Polisi Cilik, drumband, marching band, hingga berbagai kostum dan replika bernuansa sejarah.
Tidak hanya peserta dari lingkungan pemerintahan, helaran juga melibatkan pelajar, TNI-Polri, organisasi masyarakat, komunitas, perguruan tinggi, dunia usaha, serta perwakilan dari berbagai kecamatan di Kabupaten Kuningan.
Salah satu bagian yang menjadi perhatian yakni penggambaran perjalanan sejarah Kuningan. Peserta mengangkat berbagai periode, mulai dari masa pra-sejarah, perkembangan Hindu-Buddha, masuknya Islam, era kolonial, perjuangan kemerdekaan, Perundingan Linggarjati, hingga kehidupan Kuningan pada masa kemerdekaan.
Nuansa sejarah juga diperkuat dengan hadirnya kisah Kerajaan Saunggalah serta representasi Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman. Berbagai kreativitas peserta kemudian dipadukan dengan busana Nusantara dan pertunjukan seni yang membuat suasana helaran semakin meriah.
Di tengah parade, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar bersama Wakil Bupati Tuti Andriani, Ketua DPRD, Dandim 0615, Kapolres, Kajari, serta Sekda Kuningan yang juga Ketua Hari Jadi ke-528 tampil mengenakan kostum Nusantara dan busana Kerajaan Saunggalah.
Rombongan tersebut berjalan kaki sekitar satu kilometer menuju Panggung Kehormatan di kawasan Taman Kota Kuningan.
Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar mengatakan, pelaksanaan helaran menjadi kesempatan untuk kembali mengenalkan sejarah dan budaya daerah kepada masyarakat.
Menurutnya, perkembangan zaman tidak seharusnya membuat masyarakat meninggalkan identitas dan akar budaya yang telah diwariskan para leluhur.
“Tradisi adalah akar, budaya adalah jati diri,” ujar Dian saat melepas rangkaian Helaran Budaya Kuningan.
Ia menilai kemajuan daerah harus tetap berjalan beriringan dengan upaya menjaga nilai-nilai sejarah dan budaya.
“Kita boleh modern, tapi kita tidak boleh lupa dan harus tetap mengingat jasa-jasa leluhur. Jati diri, tradisi harus jadi bagian hidup kita, masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang,” katanya.
Dian juga mengapresiasi konsep helaran tahun ini yang menurutnya semakin terarah. Setiap kelompok peserta membawa tema masing-masing sehingga pertunjukan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga menyampaikan pesan kepada masyarakat.
“Saya sangat puas, merasa terhibur, dan saya lihat juga masyarakat bertahan sampai akhir. Lima jam tanpa jeda dan sekarang lebih terkonsep. Setiap peserta mengusung tema dan tata kelolanya kita atur, dan ternyata mereka bisa,” ungkapnya.
Bagi Dian, kemeriahan karnaval tersebut memiliki nilai lebih karena menyatukan unsur hiburan dan edukasi.
“Ini jujur merupakan hiburan yang menarik dan berisi, ada tontonan dan ada juga tuntunan. Mudah-mudahan jadi spirit bagi kita untuk membangun ke arah lebih baik,” tuturnya.
Pesan yang dibawa peserta pun tidak berhenti pada sejarah. Sejumlah kelompok turut menyampaikan kampanye mengenai kebersihan, kepedulian terhadap lingkungan, pemerintahan yang baik, serta harapan terhadap kemajuan Kabupaten Kuningan.
Selain parade budaya, rangkaian acara juga diwarnai pemberian Anugerah Tokoh Pinunjul Kuningan kepada Andi Gani Nena Wea, S.H., M.H. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya kepada masyarakat dan pembangunan daerah.
Dian berharap kegiatan kreatif seperti helaran budaya dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya menggali potensi Kuningan.
Ia bahkan membuka peluang menghadirkan festival dengan skala yang lebih besar, termasuk kegiatan bertaraf internasional, dengan konsep yang tidak membebani APBD.
Menurutnya, Kuningan memiliki modal besar berupa kekayaan alam, sumber daya manusia, budaya, dan ekonomi kreatif yang masih dapat dikembangkan lebih jauh.
“Saya ingin Kuningan melejit melesat ke depan dengan segala potensi yang ada. Ini kita belum tergali saja. Kalau bukan oleh kita, siapa lagi?” pungkasnya.















