Jenazah Jamil Tiba di Timbang, Isak Tangis Keluarga Pecah Setelah 3 Bulan Menanti

KUNINGANSATU.COM – Suasana haru menyelimuti rumah duka di Desa Timbang, Kecamatan Cigandamekar, Kabupaten Kuningan, Minggu (8/11/2026) dini hari. Tangis keluarga pecah saat jenazah Jamil, warga setempat yang meninggal dunia di Laos, akhirnya tiba di kampung halaman setelah sekitar tiga bulan dinantikan.

Pantauan KUNINGANSATU.COM di lokasi, jenazah tiba sekitar pukul 01.30 WIB menggunakan ambulans dan diiringi pihak keluarga bersama tim Rieke Diah Pitaloka. Kedatangan jenazah disambut isak tangis keluarga yang tak kuasa menahan kesedihan setelah penantian panjang untuk membawa almarhum pulang.

Kepulangan Jamil memang mengakhiri penantian keluarga. Namun, persoalan yang menyertai keberangkatan hingga kematiannya di Laos belum selesai. Tim Rieke Diah Pitaloka memastikan akan mengawal dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang diduga berkaitan dengan kasus tersebut.

Perwakilan tim hukum Rieke Diah Pitaloka, Teuku Ruly Fachrialsyah, menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) atas dukungan dan koordinasi dalam proses pemulangan jenazah.

Menurut Ruly, proses pemulangan membutuhkan perjuangan panjang. Salah satu kendala yang sempat dihadapi adalah persoalan pembiayaan dari pihak Laos. Namun, setelah dilakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kemlu dan KBRI, jenazah akhirnya dapat dipulangkan ke Indonesia.

“Proses panjang yang dilalui akhirnya membuat almarhum bisa dipulangkan. Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak Kemlu dan KBRI yang sudah betul-betul berupaya bersama-sama membantu pemulangan jenazah,” ujar Ruly di rumah duka.

Ia juga menyebut terdapat informasi mengenai biaya pemulangan yang mencapai sekitar Rp170 juta. Meski demikian, dirinya mengaku tidak mengetahui secara pasti rincian biaya tersebut.

Di luar proses pemulangan, tim hukum menyoroti dugaan praktik perekrutan pekerja migran secara ilegal yang diduga melibatkan seorang oknum berinisial F. Oknum tersebut disebut mengajak sejumlah warga Kuningan untuk bekerja ke luar negeri, khususnya Kamboja dan Laos.

Terkait kematian Jamil, Ruly menjelaskan bahwa berdasarkan hasil autopsi dan keterangan kepolisian Laos, almarhum dinyatakan meninggal akibat gantung diri. Meski demikian, tim hukum mengaku masih mencurigai adanya kemungkinan tindak pidana lain yang perlu diusut lebih lanjut.

“Kalau hasil autopsi dan keterangan pihak kepolisian Laos, almarhum ini gantung diri. Tapi kami mencurigai adanya penghilangan nyawa di sana,” ungkapnya.

Kecurigaan tersebut, lanjut Ruly, muncul setelah tim memperoleh keterangan dari sejumlah korban lain yang berhasil dipulangkan dalam keadaan hidup. Mereka disebut mengalami berbagai bentuk penyiksaan selama berada di lokasi kerja.

“Beberapa keterangan dari para korban yang sudah bisa dipulangkan dalam keadaan hidup, banyak bentuk penyiksaan di sana. Modus operandinya sama, pemberangkatan secara ilegal, sampai di sana ada yang disetrum dalam kondisi hidup dan bentuk-bentuk penyiksaan lainnya,” beber Ruly.

Ruly menegaskan, pihaknya tidak ingin persoalan ini berhenti pada pemulangan jenazah. Berdasarkan arahan Mabes Polri, tim hukum berencana membuat laporan dugaan TPPO ke Polres Kuningan pada Senin (9/11/2026).

Ia juga mengingatkan masyarakat, khususnya warga Kuningan dan Jawa Barat, agar lebih waspada terhadap tawaran pekerjaan di luar negeri yang menjanjikan keberangkatan gratis, pembiayaan penuh, hingga kemudahan pengurusan paspor.

Menurutnya, calon pekerja migran harus memastikan legalitas perekrut dan jalur pemberangkatan melalui prosedur resmi pemerintah.

“Jangan pernah teriming-iming untuk bekerja di luar negeri secara gratis dan ilegal. Kita harus mengecek apakah pemberangkatannya resmi dari pemerintah atau bukan,” tegasnya.

Ruly juga mengapresiasi masyarakat dan media yang turut membantu proses investigasi serta menyebarluaskan informasi mengenai kasus Jamil. Menurutnya, upaya pencegahan TPPO tidak cukup hanya dilakukan dengan menangani korban, tetapi juga harus dibarengi edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah terjebak tawaran pekerjaan ilegal.

Sementara itu, Muhammad Mardan, paman Jamil, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu perjuangan keluarga hingga jenazah almarhum dapat dipulangkan.

Ia secara khusus mengapresiasi Rieke Diah Pitaloka beserta tim, Kementerian Luar Negeri, KBRI, serta jajaran pemerintahan mulai dari desa, kecamatan hingga kabupaten. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada masyarakat dan media yang telah membantu menyebarluaskan informasi mengenai kondisi Jamil.

“Kami sekeluarga mengucapkan banyak-banyak terima kasih. Alhamdulillah, di luar dugaan kami, informasi ini sampai ke tangan Ibu Rieke. Terima kasih banyak kepada Ibu Rieke dan timnya, khususnya Kemlu, KBRI, seluruh jajaran pemerintahan desa, kecamatan, dan kabupaten yang ikut berbela sungkawa terhadap kejadian ini,” ungkap Muhammad Mardan.

Bagi keluarga, kepulangan Jamil menjadi momen yang sangat dinantikan setelah sekitar tiga bulan menunggu dalam ketidakpastian. Meski harus menerima kenyataan pahit, keluarga mengaku bersyukur akhirnya dapat membawa almarhum kembali ke kampung halaman.

“Kami sangat senang sekali. Luar biasa, ini penantian selama tiga bulan. Penuh dengan berbagai macam keinginan, intinya anak kami ingin pulang,” tuturnya.

Keluarga berharap peristiwa yang menimpa Jamil menjadi pelajaran bagi masyarakat agar lebih berhati-hati ketika menerima tawaran pekerjaan di luar negeri. Mereka juga berharap tidak ada lagi warga yang mengalami nasib serupa.

“Jangan sampai ada korban-korban lain, khususnya di Timbang, khususnya di Kuningan, dan umumnya masyarakat se-Indonesia,” pungkas Muhammad Mardan.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup