Ekspansi Arunika Dikritik, Roy: Estetika Tak Bisa Menutup Luka Alam!
KUNINGANSATU.COM,- Di balik pemandangan indah lereng Gunung Ciremai dan hangatnya suasana Arunika Eatery maupun Joglo Arunika, ada kegelisahan yang mulai tumbuh di tengah masyarakat. Tempat yang ramai dikunjungi karena estetika ala Jepang dan panorama alam yang memanjakan mata itu ternyata menyimpan cerita lain, cerita tentang alam yang kian terhimpit dan warga yang mulai merasa gelisah dengan arah pembangunan wisata di kawasan Palutungan.
Perasaan itu disuarakan oleh Roy Aldilah, Presidium Pergerakan Kuningan (PERAK) pada Jum’at (28/11/2025). Dengan nada yang lebih menggugah, ia mengingatkan bahwa keindahan tidak boleh menutupi kenyataan bahwa kawasan tersebut berada di wilayah lindung geologi. Bagi banyak orang, Palutungan bukan hanya tempat wisata, tetapi ruang hidup, ruang sembahyang alam, sekaligus benteng terakhir bagi keseimbangan ekosistem lereng.
“Di sini bukan hanya ada wisata. Ada warga, ada mata air, ada tanah yang sibuk bekerja menjaga kita dari bencana,” ungkap Roy, menggambarkan bahwa pembangunan tanpa kendali bukan sekadar soal regulasi, tetapi soal kepekaan dan rasa hormat pada alam.
Kegelisahan itu kian beralasan ketika data BPBD Kuningan menunjukkan betapa rentannya daerah ini. Sepanjang 2025 sudah terjadi 225 bencana, dan 157 di antaranya adalah longsor. Tidak sedikit warga yang hidup di bawah lereng merasakan langsung degup takut setiap kali hujan deras turun. Longsor di kawasan Cilengkrang, yang berada tidak jauh dari Joglo Arunika, menjadi contoh nyata bagaimana tanah bisa bergerak kapan saja tanpa aba-aba.
Dalam konteks itu, Presidium Pergerakan Kuningan meminta pemerintah dan pengelola wisata untuk melihat lebih dalam, melampaui dinding estetik, melampaui lampu-lampu dekorasi. Mereka menuntut keterbukaan data izin, evaluasi lingkungan yang jujur, serta keberanian untuk menunda ekspansi jika diperlukan.
“Kita hanya ingin memastikan bahwa anak-anak di kaki Gunung Ciremai bisa tidur tanpa cemas, dan bahwa sumber air yang selama ini kita nikmati tetap mengalir bersih,” kata Roy.
Gerakan ini juga tidak ingin tampil sebagai pihak yang menolak wisata. Justru mereka mengajak masyarakat untuk merayakan alam dengan cara yang lebih bijak. Wisata harus tumbuh bersama lingkungan, bukan menggerusnya. Mereka mengajak komunitas, akademisi, LSM, dan warga lokal untuk bersama-sama menjaga lereng Ciremai dengan kepedulian yang konsisten.
Seruan ini sebenarnya sederhana namun menyentuh. Ketika alam dirawat, manusia pun ikut terselamatkan. Roy menutup pesannya dengan suara yang tenang tetapi tajam, “Alam bukan barang dagangan. Hidup warga tidak boleh menjadi taruhan demi estetika dan cuan. Kita hanya ingin ruang hidup yang adil dan lestari.”
Di tengah hiruk-pikuk dunia wisata modern, suara seperti itu mungkin terdengar pelan. Namun dari suara-suara kecil yang penuh kepedulian itulah perubahan besar biasanya bermula.***















