Dugaan Penggunaan Mata Air Tanpa Izin di TNGC Dilaporkan ke Polres Kuningan

KUNINGANSATU.COM,- Pasca Aksi Moral ALAMKU bertajuk “Mapag Bapa Aing” di Gedung Sate, Bandung, Masyarakat Peduli Kuningan (MPK) bersama Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) dan Gerakan Satu Kuningan (GASAK) secara resmi melaporkan seluruh titik dugaan penggunaan mata air ilegal di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, ke Satreskrim Polres Kuningan, Rabu (14/1/2026).

Laporan tersebut diterima langsung oleh Kasat Reskrim Polres Kuningan, AKP Abdul Aziz. Rombongan pelapor dipimpin Koordinator MPK, Yusuf Dandi Asih, didampingi Ketua GASAK Nurdin serta PA GMNI, Ismah Winartono.

“Kami bersyukur laporan ini diterima. Hari ini kami secara resmi mengadukan persoalan tata kelola mata air ilegal di kawasan TNGC yang kami nilai telah merugikan negara sekaligus merusak lingkungan,” ujar Yusuf kepada awak media.

Yusuf mengungkapkan, berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan pihaknya, praktik pengambilan air tanpa izin di kawasan TNGC telah berlangsung menahun dan cenderung dibiarkan. Dari sekitar 168 titik mata air yang ada di kawasan tersebut, sebanyak 68 titik telah dimanfaatkan, dan sedikitnya 14 titik di antaranya diduga tidak mengantongi izin atau berstatus ilegal.

Menurutnya, terdapat dua kerugian besar akibat praktik pengambilan air tanpa izin tersebut. Pertama, hilangnya potensi pendapatan negara karena tidak adanya pemasukan melalui skema Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Kedua, dampak kerusakan lingkungan akibat eksploitasi mata air yang dilakukan tanpa perhitungan volume dan debit air yang sesuai.

“Pengambilan air tanpa perhitungan yang jelas sama saja dengan perampokan sumber daya alam dan perusakan lingkungan,” tegasnya.

Ia menambahkan, mata air merupakan bagian penting dari sistem penyangga ekosistem Gunung Ciremai. Eksploitasi yang dilakukan secara berlebihan berpotensi menyebabkan penurunan debit mata air dan mengancam keseimbangan lingkungan di kawasan tersebut.

“Mata air itu adalah isi dan kandungan gunung. Jika terus diambil tanpa kendali, dampaknya hanya tinggal menunggu waktu. Ini bukan semata soal hari ini, tapi soal keberlanjutan lingkungan ke depan,” ujarnya.

Yusuf juga menyebutkan bahwa pihaknya telah memiliki data lengkap terkait penurunan debit mata air di kawasan Gunung Ciremai.

“Data terakhir yang kami miliki tahun 2024, dan akan kami perbarui kembali untuk tahun 2025,” pungkasnya.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup