Batik Muning Cerme, Karya Tangan Sunyi yang Menghangatkan Panggung Nasional
KUNINGANSATU.COM,- Di balik gemerlap penganugerahan GTK Hebat 2025 di Istora Senayan Jakarta, ada satu momen yang mencuri perhatian publik karena sarat makna yakni penyerahan Batik Muning Cerme, karya vokasional siswa tunarungu SLBN Taruna Mandiri, kepada Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Abdul Mu’ti. Batik tersebut dibawa langsung oleh Kokoy Kurnaeti, S.Pd., M.Pd., Kepala SLBN Taruna Mandiri sekaligus Juara 2 Nasional Kepala SLB Dedikatif 2025.
Bukan sekadar suvenir, Batik Muning Cerme adalah representasi dari kemampuan, kemandirian, dan kreativitas peserta didik berkebutuhan khusus. Setiap motif dibuat melalui proses pembelajaran vokasional yang terstruktur, di mana para siswa tunarungu dilatih untuk memahami pola, meracik warna, dan mengeksekusi teknik batik dengan ketelitian tinggi. Di tangan mereka, batik bukan hanya keterampilan, tetapi medium ekspresi yang menunjukkan bahwa anak-anak disabilitas mampu berkarya setara dengan para perajin profesional.
Momen penyerahan batik ini menjadi sorotan karena untuk pertama kalinya sebuah karya vokasional dari SLB di Kuningan tampil di panggung nasional dan diberikan langsung kepada pejabat negara. Kokoy menyebut batik tersebut sebagai “persembahan dari hati”, bentuk penghormatan kepada dunia pendidikan dan bukti bahwa SLB bukan hanya tempat mendidik, tetapi ruang tumbuhnya kreativitas tanpa batas.
Batik Muning Cerme sendiri telah menjadi identitas SLBN Taruna Mandiri. Motifnya terinspirasi dari alam lokal dan filosofi kemandirian, dirancang bersama guru untuk memastikan setiap goresan mengandung nilai edukatif. Karya ini juga menjadi salah satu produk unggulan sekolah yang rutin dipamerkan dalam berbagai agenda daerah hingga nasional. Bahkan, ketertarikan terhadap vokasional batik SLBN Taruna Mandiri pernah datang dari tamu internasional seperti Ukai Saito Sensei, CEO Tasuc Corporation Jepang, yang terkesan dengan kemampuan para siswa.
Penyerahan batik di Senayan seakan menjadi puncak perjalanan panjang pendidikan vokasional di SLBN Taruna Mandiri. Kokoy menegaskan bahwa karya tersebut adalah bukti nyata bahwa dengan bimbingan yang tepat, siswa berkebutuhan khusus dapat menghasilkan produk bernilai seni tinggi.
“Ini bukan tentang batiknya saja, tetapi tentang pesan bahwa anak-anak kita mampu berdiri sejajar, mampu berkarya, dan layak mendapat panggung,” ungkapnya kepada media, Minggu (30/11/2025).
Melalui Batik Muning Cerme, nama SLBN Taruna Mandiri dan Kabupaten Kuningan ikut terangkat. Lebih dari itu, karya ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh Indonesia bahwa pendidikan vokasional SLB bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian penting dari pembangunan kemandirian dan keberdayaan penyandang disabilitas.***















