Ada Apa dengan Sekda dan Kepala BPKAD? Bupati Sampai Bilang “Kualat”
KUNINGANSATU.COM – Ada pemandangan yang tidak biasa di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan, Selasa (2/6/2026). Tiga figur yang selama ini dikenal kompak dalam mengawal jalannya pemerintahan daerah mendadak berada di kubu yang berbeda.
Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar, Sekretaris Daerah U Kusmana, dan Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Deden Kurniawan Sopandi terlibat dalam perdebatan yang cukup seru. Masing-masing memiliki argumentasi kuat dan sama-sama bertahan pada pendiriannya.
Situasi tersebut sempat memancing rasa penasaran. Tidak sedikit yang menduga perbedaan pandangan itu berkaitan dengan kebijakan pemerintahan, pengelolaan keuangan daerah, hingga program pembangunan yang sedang berjalan. Maklum, ketiganya merupakan figur sentral dalam roda pemerintahan Kabupaten Kuningan.
Namun setelah ditelusuri, penyebabnya ternyata jauh dari urusan birokrasi.
Tidak ada kaitannya dengan APBD, mutasi jabatan, proyek pembangunan maupun kebijakan strategis daerah lainnya. Perbedaan pendapat yang membuat ketiganya berada di kubu berbeda justru dipicu oleh sesuatu yang jauh lebih santai.
Semuanya bermula ketika mereka ditanya negara mana yang akan didukung pada ajang sepak bola terbesar dunia yang akan mulai bergulir pada 11 Juni 2026 mendatang.
Bupati Dian menjadi orang pertama yang menjawab. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menyebut satu nama dengan penuh keyakinan.
“B.R.A.Z.I.L…!!” jawabnya penuh semangat.
Jawaban tegas itu langsung membuka babak perdebatan. Sebab dua anak buahnya ternyata memiliki pilihan berbeda.
“Portugal dong,” sahut Sekretaris Daerah U Kusmana sambil tersenyum santai.
“Inggris, Brazil,” timpal Kepala BPKAD Deden Kurniawan Sopandi sambil terkekeh.
Mendengar dua orang kepercayaannya tidak berada di kubu yang sama, Dian spontan bereaksi.
“Waduuuuuhhh… gak asik itu orang,” katanya sambil tertawa lepas.
Perdebatan pun mulai menghangat. Ketika kembali ditanya soal peluang tim favoritnya, Bupati Dian tidak menunjukkan sedikit pun keraguan.
“Brazil dong… Juara… Juara… Juara,” ujarnya penuh keyakinan.
Sementara itu, U Kusmana tetap teguh bersama Portugal. Saat diminta menjelaskan alasannya, ia lebih dulu menyebut nama pemain yang menjadi ikon sepak bola negara tersebut.
“Suka Portugal karena ada Ronaldo,” katanya sambil tersenyum.
Namun setelah itu, ia menjelaskan alasan yang lebih mendalam terkait gaya permainan tim pilihannya.
“Alasan jatuh hati ke Portugal mainnya lugas, tiktaknya juga keren… selain Portugal dulu saya favorit juga Brazil,” ujarnya antusias.
Mendengar nama Brasil ikut disebut, godaan pun langsung mengarah kepada Sekda. Jangan-jangan mulai melirik pilihan Bupati?
Namun U Kusmana buru-buru menepis anggapan tersebut.
“Ah gak dong, sekarang paten Portugal,” tegasnya sambil menggelengkan kepala.
Di sisi lain, Deden juga tidak kalah mantap dengan pilihannya. Ketika diminta menentukan satu negara yang benar-benar dijagokan, ia langsung mengarah ke Inggris.
“Asal mula football modern Inggris,” katanya mantap.
Tak hanya soal sejarah, Deden juga mengaku menyukai karakter permainan tim berjuluk The Three Lions tersebut.
“Permainan yang lebih menarik tanpa banyak drama itu Inggris. Full power, speed, teknik,” ujarnya penuh keyakinan.
Pilihan berbeda itu kemudian menjadi bahan candaan. Deden sempat digoda karena dianggap tidak mengikuti pilihan pimpinan.
Namun jawabannya justru membuat suasana semakin cair.
“Pimpinan itu bukan kapten kesebelasan,” katanya sambil terbahak-bahak.
Gelak tawa pun pecah. Apalagi ketika diketahui bahwa Bupati tetap bersama Brasil dan Sekda tetap berada di kubu Portugal.
Meski demikian, Deden sama sekali tidak bergeser.
“Tetep Inggris, semoga Inggris final lawan Brazil,” harapnya optimistis.
Ketika Deden diberi tahu bahwa Bupati menyebut pilihan berbeda bisa membuat mereka “kualat”, ia kembali membalas dengan humor.
“Biar tidak kualat, nanti saya beli jersey Brazil untuk beliau, dijamin ori bukan KW,” katanya sambil tertawa lebar.
Candaan kemudian berkembang semakin jauh. Muncul guyonan bahwa mereka yang tidak mendukung Brasil bisa saja terkena “sanksi” berupa TPP yang dipending.
Mendengar hal itu, Deden langsung menyambar.
“Yang Pak Sekda saja yang dipendingnya,” gurau Deden sambil terbahak-bahak.
Ucapan itu sontak memancing gelak tawa. Apalagi sepanjang perdebatan, Sekda memang terlihat paling konsisten mempertahankan Portugal sebagai jagoannya.
Namun U Kusmana tampaknya tidak terlalu memikirkan ancaman bercanda tersebut. Ia tetap tenang dan kembali menegaskan bahwa perbedaan pilihan itu hanya berlaku di lapangan hijau.
“Hahaa hanya khusus untuk sepak bola ya, hal-hal lain semuanya sehati dong,” katanya sambil tersenyum lebar.
Pernyataan itu langsung disambut anggukan dan tawa dari mereka yang terlibat dalam perdebatan.
Di tengah suasana yang semakin cair, Deden sempat mencoba mengambil posisi yang terlihat lebih aman.
“Kalau begitu oke lah, saya dukung Brazil jadi juara,” katanya seolah mulai melunak.
Pernyataan itu sempat membuat kubu Brasil tersenyum puas.
Namun ternyata kalimat tersebut belum selesai.
“Mendukung Brazil juara ke-2, juara ke-1 Inggris,” ujarnya sambil terbahak-bahak.
Gelak tawa kembali pecah. Dian tetap bertahan bersama Brasil.U Kusmana tetap setia kepada Portugal.Dan Deden tetap kukuh berada di belakang Inggris.
Mendengar dua anak buahnya tidak juga berubah pikiran, Bupati Dian akhirnya hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa.
“Kualat… hahaha…” canda Bupati.
Meski berlangsung seru, seluruh perdebatan itu terjadi dalam suasana penuh keakraban. Tidak ada ketegangan, tidak ada perselisihan, dan tentu saja tidak berpengaruh sedikit pun terhadap jalannya pemerintahan.
Sebaliknya, percakapan tersebut justru memperlihatkan sisi lain para pejabat daerah yang ternyata sama antusiasnya dengan masyarakat dalam menyambut pesta sepak bola dunia.
Kini posisi masing-masing kubu masih belum berubah. Dian tetap setia bersama Brasil. U Kusmana tetap mantap mendukung Portugal. Sementara Deden masih kukuh menjagokan Inggris.
Lalu siapa yang akan tersenyum paling lebar ketika turnamen berakhir nanti?Jawabannya mungkin baru akan diketahui beberapa pekan ke depan. Namun sebelum itu terjadi, Deden tampaknya sudah menyiapkan satu usulan yang bisa diterima seluruh kubu.
“Ayo kita agendakan nobar,” kata Deden mengakhiri perdebatan.
Dan untuk sementara, usulan itulah yang menjadi satu-satunya keputusan yang berhasil menyatukan kubu Brasil, Portugal, dan Inggris di lingkungan Pemkab Kuningan.***















