Temuan Nitrit MBG Bandung Barat 4 Kali Batas Aman, Uha: Racun Yang Dilindungi Proyek Korup!

KUNINGANSATU.COM,- Program mercusuar Makan Bergizi Gratis (MBG), yang katanya bakal mengangkat derajat gizi 82,9 juta anak sekolah dari kubangan stunting, kini terbukti menjadi racun mematikan. Ketua LSM Frontal, Uha Juhana, Sabtu (4/10/2025), mengungkap data media Kompas edisi 3 Oktober 2025 yang mengejutkan. Kadar nitrit pada menu MBG di Kabupaten Bandung Barat berupa melon dan lotek mencapai 3,91 mg/L dan 3,54 mg/L. Angka tersebut hampir empat kali lipat melebihi batas aman EPA (1 mg/L).

Akibatnya, sebanyak 1.315 siswa terkapar dengan kondisi mual, muntah, pusing, lemas, bahkan sesak napas. “Ini bukan lagi kegagalan biasa, tetapi kejahatan terorganisir yang disembunyikan di balik anggaran triliunan dan air mata buaya,” tegas Uha.

Ia menilai nitrit itu tidak mungkin datang begitu saja. Berdasarkan investigasi awal, terdapat dua penyebab utama. Pertama, penggunaan pengawet berlebihan untuk menjaga makanan yang dimasak malam hari agar tetap layak disantap siang hari. Kedua, proses memasak dengan suhu tinggi yang berpotensi mengubah nitrit menjadi nitrosamin, yaitu senyawa karsinogenik yang memicu kanker lambung dan pankreas. Ditambah lagi penggunaan garam yang memicu pembentukan nitrit dari nitrat alami dalam sayur, kemudian diperparah dengan sistem penyimpanan dan distribusi yang amburadul.

“Ini bukan gizi, ini adalah bom waktu yang sengaja dilempar ke perut anak bangsa,” ujar Uha.

Ia menambahkan, wajar jika ada yang mencurigai adanya sabotase. Dari total anggaran Rp71 triliun, hanya Rp13 triliun yang terserap sementara sisanya sebesar Rp58 triliun lenyap entah ke mana.

“Di balik dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) konon ada tangan kuat yang membuat kritik ditolak mentah-mentah,” katanya.

Menurutnya, bukan kebetulan apabila menu ultra-processed seperti nugget dan sosis yang kaya nitrit dan digoreng pada suhu tinggi justru menjadi andalan MBG.

“Ini bukan soal ketidaktahuan, melainkan keserakahan yang melindungi proyek politik, bukan niat untuk memberikan makanan bergizi kepada anak-anak,” tegasnya.

Sejak Januari, total korban nasional sudah mencapai 5.626 siswa, dan tragedi Bandung Barat hanyalah puncak gunung es dari skandal ini.Uha juga menyinggung pernyataan Wakil Kepala BGN, Nanik S Deyang, yang menangis dan meminta maaf pada 26 September lalu.

“Itu hanya drama murahan. Janji adanya sertifikasi SLHS dan evaluasi dapur tidak akan berarti apa-apa apabila akar masalahnya dibiarkan, yaitu korupsi dan kompetensi nol,” kritiknya.

Ia membandingkan dengan praktik di Korea, Cina, atau Amerika, di mana kantin sekolah berdiri secara mandiri, chef terlatih, dan inspeksi kesehatan rutin menjadi standar.

“Di sana makan tidak dilakukan di kelas sembarangan, tetapi di ruang khusus yang higienis, tanpa embel-embel proyek balas jasa kampanye. Kenapa kita tidak bisa meniru mereka, justru memilih racun berkedok gizi?” kata Uha.

Sebagai solusi, LSM Frontal menuntut agar MBG dihentikan segera. Menurut Uha, lebih baik proses masak diserahkan kepada sekolah masing-masing dengan pengawasan kepala sekolah, orang tua, atau koperasi sekolah.

“Kalau ada kasus keracunan, evaluasinya langsung ke sekolah, bukan kepada SPGG yang kebal kritik. Bangun kantin sederhana, masak harian dengan bahan segar, tanpa pengawet berlebih, dan lakukan uji laboratorium rutin,” sarannya.

Ia menegaskan, pihak sekolah memiliki tanggung jawab besar kepada murid dan orang tua, berbeda dengan pejabat proyek yang hanya takut audit.

“Kalau pemerintah terus keras kepala dan membabi buta menjalankan MBG, ini bukan lagi soal gizi, melainkan soal niat jahat yang menyamar di balik janji manis. Publik harus bangkit untuk memberikan tekanan. Cukup sudah anak-anak generasi penerus bangsa dijadikan kelinci percobaan. Waktunya selamatkan masa depan bangsa!” pungkasnya.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup