“Pocong Keliling” Disebut Sudah Masuk Kuningan, Warga Jalaksana Heboh Unggah Foto Penampakan
KUNINGANSATU.COM – Isu pocong keliling yang sebelumnya menghebohkan sejumlah daerah di Jawa Timur kini mulai ikut menghantui perbincangan warga di Kabupaten Kuningan. Dalam beberapa hari terakhir, media sosial dan grup WhatsApp warga dipenuhi unggahan soal sosok menyerupai pocong yang disebut-sebut muncul pada malam hari di beberapa titik wilayah Kuningan.
Keresahan itu salah satunya muncul dari wilayah Kecamatan Jalaksana. Sejumlah warga mulai membagikan unggahan peringatan di status WhatsApp disertai foto-foto penampakan sosok berbalut kain putih yang berdiri di area gelap dan minim penerangan. Foto tersebut dengan cepat menyebar dari satu grup ke grup lainnya hingga memicu kekhawatiran warga.
“Hati-hati sudah sampai Nanggerang, meresahkan banget sih ini harus ada yang patroli, pak pol gimana ini takut,” tulis seorang warga Jalaksana bernama Novi dalam unggahan status WhatsApp, Minggu (24/5/2026).
Unggahan tersebut sontak memancing berbagai reaksi warga. Sebagian mengaku takut melintas di jalan sepi saat malam hari, sementara sebagian lainnya mempertanyakan kebenaran foto yang beredar karena belum diketahui asal-usul maupun waktu pengambilannya.
Unggahan lainnya diketahui dari status WhatsApp warga bernama Kenan yang memperingatkan kepada warga Citapen tentang kemunculan penampakan yang diduga Pocong Keliling tersebut.
“Sudah sampai ke Jalaksana lagi. Hati-hati warga Citapen kalau ketemu yang kayak gini hajar saja,” katanya.
Di sejumlah lingkungan warga, isu pocong keliling bahkan mulai menjadi bahan obrolan utama saat ronda malam, nongkrong di warung kopi hingga percakapan di grup keluarga. Tidak sedikit warga yang mengaitkan kemunculan isu itu dengan maraknya video viral dari Jawa Timur yang sebelumnya memperlihatkan sosok pocong berdiri di gang sempit hingga berkeliaran di jalanan desa.
Nani, warga Kecamatan Kuningan mengaku sempat terkejut saat pertama kali melihat unggahan foto pocong yang disebut berada di wilayah Jalaksana. Menurutnya, unggahan tersebut cepat sekali menyebar karena banyak warga langsung meneruskan pesan tanpa memastikan kebenarannya.
“Awalnya saya lihat dari status WhatsApp teman. Terus masuk lagi ke grup keluarga dan grup warga. Lama-lama jadi ramai dan bikin takut juga kalau malam,” ujar Nani.
Menurut Nani, suasana malam di beberapa wilayah yang masih minim penerangan membuat isu seperti itu mudah memancing imajinasi warga. Apalagi foto-foto yang beredar didominasi gambar buram dengan latar jalan gelap dan pepohonan.
“Kalau siang mungkin biasa saja, tapi kalau lihat foto begitu malam-malam jadi kepikiran terus. Apalagi sekarang videonya banyak di TikTok,” katanya.
Meski demikian, Nani berharap masyarakat tidak langsung percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya. Ia menilai fenomena viral di media sosial saat ini sering membuat kabar bohong berkembang lebih cepat dibanding klarifikasi.
Hal senada disampaikan Engkus, warga Kecamatan Garawangi. Ia mengaku isu pocong keliling sempat menjadi pembahasan warga saat ronda malam dalam dua hari terakhir.
“Pas ronda banyak yang cerita soal status WhatsApp itu. Ada yang bilang sudah keliling daerah sini, ada juga yang bilang cuma editan. Jadi simpang siur,” kata Engkus.
Menurutnya, derasnya arus informasi di media sosial membuat masyarakat mudah panik, terlebih jika unggahan disertai foto atau video yang tampak meyakinkan.
“Sekarang kalau ada foto langsung dianggap benar. Padahal bisa saja foto lama atau sengaja dibuat buat konten,” ujarnya.
Engkus mengatakan isu tersebut sedikit banyak mulai memengaruhi aktivitas warga, terutama anak-anak dan remaja yang biasanya masih berkumpul hingga larut malam. Beberapa orang tua bahkan mulai melarang anaknya keluar malam karena khawatir dengan isu yang beredar.
“Anak-anak jadi cepat pulang sekarang. Orang tua juga pada ngingetin jangan keluyuran malam dulu,” katanya sambil tertawa.
Fenomena pocong keliling sendiri sebelumnya ramai menghebohkan sejumlah daerah di Jawa Timur seperti Lamongan, Nganjuk, Sidoarjo hingga Malang Raya. Dalam beberapa kasus, polisi menemukan bahwa sosok pocong yang viral ternyata hanyalah aksi prank remaja demi membuat konten media sosial.
Di Lamongan misalnya, dua remaja sempat diamankan aparat kelurahan setelah video pocong yang mereka buat viral dan menimbulkan keresahan warga. Keduanya kemudian meminta maaf karena aksi iseng tersebut memicu kepanikan masyarakat.
Sementara di wilayah lain, polisi juga memastikan isu “begal pocong” maupun “pocong bercelurit” yang ramai di media sosial sebagian besar merupakan informasi bohong dan tidak terbukti.
Hingga saat ini belum ada laporan resmi terkait kemunculan pocong keliling di Kabupaten Kuningan. Namun cepatnya penyebaran foto dan narasi misterius di media sosial membuat isu tersebut terus berkembang dan menjadi perhatian warga.
Masyarakat pun diimbau lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi agar tidak menimbulkan keresahan maupun kepanikan di lingkungan sekitar.***
















