Ironi Gelar S.Pd: Ketika Biaya Kuliah Mahal Tak Sebanding dengan Slip Gaji
KUNINGANSATU.COM – Di tengah meningkatnya biaya pendidikan tinggi, profesi guru dinilai menghadapi tantangan besar dalam menarik minat generasi muda. Besarnya investasi yang harus dikeluarkan untuk menempuh pendidikan hingga meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) dinilai belum sebanding dengan kesejahteraan yang diterima, terutama bagi guru honorer pada awal karier.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Fakha Assiathul Sa’ana, mahasiswi Universitas Kuningan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian anak muda mulai mempertimbangkan kembali cita-cita menjadi seorang pendidik.
“Menjadi guru adalah profesi yang sangat mulia karena memiliki peran besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa banyak calon guru harus melalui proses pendidikan yang panjang dengan biaya yang tidak sedikit. Ketika lulus, realitas kesejahteraan yang dihadapi, khususnya bagi guru honorer, sering kali tidak sesuai dengan pengorbanan yang telah dilakukan,” ujar Fakha.
Mahasiswi semester 4 ini juga menjelaskan bahwa untuk memperoleh gelar S.Pd., mahasiswa harus menjalani perkuliahan selama bertahun-tahun dengan berbagai kebutuhan akademik, mulai dari biaya kuliah, buku, praktik lapangan, hingga penyusunan tugas akhir. Setelah lulus, sebagian calon guru juga masih harus mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebagai bagian dari proses pengembangan profesional.
Menurut Fakha, kondisi tersebut membuat banyak lulusan kependidikan akhirnya memilih berkarier di sektor lain yang dianggap menawarkan kesejahteraan lebih baik dan peluang karier yang lebih menjanjikan.
“Fenomena ini bukan berarti anak muda tidak memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan. Justru banyak yang ingin menjadi guru, tetapi mereka juga harus memikirkan masa depan, kebutuhan hidup, dan tanggung jawab ekonomi. Pilihan karier akhirnya dipengaruhi oleh pertimbangan yang realistis,” katanya.
Ia menilai kesejahteraan guru merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan. Apabila kondisi tersebut tidak segera dibenahi, dikhawatirkan minat generasi muda untuk menempuh pendidikan keguruan akan terus menurun.
“Kita membutuhkan guru-guru berkualitas untuk mencetak generasi yang berkualitas pula. Karena itu, profesi guru juga harus mendapatkan penghargaan yang layak, bukan hanya dalam bentuk penghormatan secara moral, tetapi juga melalui kesejahteraan yang memadai,” tuturnya.
Fakha berharap pemerintah terus memperkuat kebijakan yang berpihak pada peningkatan kualitas sekaligus kesejahteraan tenaga pendidik. Menurutnya, guru merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan bangsa sehingga sudah selayaknya memperoleh dukungan yang seimbang dengan peran strategis yang diemban.
“Harapan saya, ke depan profesi guru tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan dengan penghasilan yang minim, tetapi menjadi profesi yang mampu memberikan kepastian karier, kesejahteraan, dan kebanggaan bagi generasi muda yang ingin mengabdikan diri di dunia pendidikan,” pungkasnya.***















