Kuningan Jadi Pusat Gerakan Tanam Nasional, Ada Target Besar yang Dikejar Kementan!

KUNINGANSATU.COM – Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat upaya peningkatan produksi pangan nasional melalui Gerakan Tanam Serentak yang dipusatkan di desa Kertaungaran kecamatan Sindang agung Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Sabtu (7/11/2026).

Gerakan tersebut dilaksanakan secara bersamaan di 14 provinsi di Indonesia sebagai langkah mendorong peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT), menyusul mulai datangnya musim hujan di sejumlah wilayah.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dr. Idha Widi Arsanti, S.P., M.P., mengatakan gerakan tanam serentak menjadi salah satu upaya mengoptimalkan ketersediaan air hujan agar segera dimanfaatkan petani untuk melakukan penanaman.

Menurutnya, momentum awal musim hujan harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Terlebih, target LTT nasional yang telah ditetapkan mencapai sekitar 2 juta hektare, sementara realisasinya hingga saat ini masih kurang dari 10 persen.

“Realisasinya masih sangat rendah, kurang dari 10 persen hingga saat ini. Tentu saja harus kita optimalkan peluang-peluang dengan adanya hujan dan ketersediaan air. Ini harus kita gerakkan semuanya yang ada di lapangan,” ungkap Idha saat diwawancarai di sela-sela kegiatan.

Ia berharap gerakan tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu menggerakkan seluruh pemangku kepentingan di daerah untuk mempercepat aktivitas pertanaman.

Dalam kegiatan tersebut, Kementan menargetkan gerakan tanam dapat menjangkau sekitar 3.000 hektare lahan di seluruh Indonesia.

Pemilihan Kabupaten Kuningan sebagai lokasi pusat kegiatan bukan tanpa alasan. Menurut Idha, daerah ini memiliki potensi lahan optimasi lahan (oplah), lahan cetak sawah rakyat, serta dukungan Brigade Pangan yang telah dibentuk untuk mempercepat kegiatan pertanian.

Kementan ingin memastikan percepatan tanam tidak hanya terfokus di luar Pulau Jawa, tetapi juga menjangkau daerah-daerah di Pulau Jawa yang memiliki karakteristik agroekosistem berbeda.

“Kita mengetahui bahwa di Kuningan ini ada lahan-lahan oplah, kemudian juga lahan cetak sawah rakyat. Brigade Pangan juga sudah dibentuk. Kita ingin menggerakkan semua pihak untuk mendukung percepatan tanam, khususnya di lahan oplah dan cetak sawah rakyat yang sebagian sudah selesai dikonstruksi,” jelasnya.

Khusus di Kabupaten Kuningan, lahan yang telah disiapkan untuk kegiatan pertanaman mencapai sekitar 20 hektare.

Meski demikian, Idha mengakui percepatan tanam di setiap daerah membutuhkan pendekatan berbeda. Kondisi geografis, karakteristik lahan, hingga ketersediaan sarana dan prasarana pertanian menjadi faktor yang harus diperhitungkan.

Ia mencontohkan, pengelolaan lahan di wilayah dataran tinggi seperti Kuningan tidak bisa disamakan dengan daerah yang memiliki hamparan lahan datar dan luas seperti sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, maupun Papua Selatan.

“Penyesuaian terkait alat dan mesin pertanian (alsintan) yang digunakan tentu dilakukan dengan melihat kondisi agroekosistem yang ada,” ujarnya.

Dengan demikian, penggunaan alsintan harus disesuaikan dengan kondisi lahan agar kegiatan pengolahan tanah hingga penanaman dapat berjalan efektif.

Selain mengejar peningkatan produksi, gerakan tanam serentak juga diharapkan memberikan dampak terhadap stabilitas harga pangan, khususnya komoditas beras.

Idha menjelaskan, pola tanam yang dilakukan secara rutin dan terjadwal memungkinkan kegiatan panen berlangsung lebih merata sepanjang tahun.

Dengan pola tersebut, pemerintah berupaya menghindari penumpukan hasil panen pada waktu tertentu yang berpotensi menyebabkan harga gabah dan beras turun. Sebaliknya, ketika memasuki masa paceklik, pasokan yang terbatas kerap memicu kenaikan harga.

“Kalau kita melakukan kegiatan tanam setiap hari, maka harapannya tiga bulan yang akan datang kita juga bisa melakukan panen setiap hari. Dengan begitu, pola panen akan lebih merata sepanjang tahun,” terangnya.

Ia menambahkan, distribusi waktu tanam dan panen yang mengikuti kalender tanam menjadi salah satu strategi untuk menjaga keseimbangan pasokan pangan di pasar.

Dengan ketersediaan hasil panen yang lebih teratur, gejolak harga akibat perbedaan musim panen diharapkan dapat ditekan.

Di sisi lain, Kementan juga mulai mengantisipasi potensi dampak perubahan iklim, termasuk ancaman El Nino yang dapat memicu kekeringan dan mengganggu produktivitas pertanian.

Idha mengatakan kondisi alam memang tidak dapat diubah, tetapi dampaknya bisa diminimalkan melalui langkah antisipasi dan koordinasi lintas sektor.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memanfaatkan informasi prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai dasar menentukan langkah penanganan di lapangan.

Ia mencontohkan, kondisi kekeringan yang terjadi di sejumlah daerah pada September dan Oktober lalu perlu diantisipasi melalui berbagai strategi, salah satunya program pompanisasi.

“Untuk mengantisipasi kekeringan, salah satu strateginya melalui pompanisasi dan berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum,” pungkasnya.

Melalui gerakan tanam serentak ini, Kementan berharap percepatan tanam di berbagai daerah dapat berjalan lebih optimal, sehingga target peningkatan produksi pangan nasional tercapai sekaligus menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan bagi masyarakat.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup