4 Ortom Muhammadiyah Tampil di MASTA UMKU, Mahasiswa Baru Mulai Pilih Wadah Berproses
KUNINGANSATU.COM,- Mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Kuningan (UMKU) diajak mengenal lebih dekat berbagai organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah melalui kegiatan Masa Ta’aruf Organisasi Otonom (MASTA ORTOM).
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB tersebut mengusung tema “Menguatkan Ideologi, Solidaritas, dan Sinergi Kader untuk Mewujudkan Generasi Muhammadiyah yang Berkemajuan.” Agenda ini menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk melihat secara langsung aktivitas organisasi sekaligus mengenal wadah pengembangan diri di lingkungan UMKU.
Dalam kegiatan tersebut, empat organisasi diperkenalkan kepada mahasiswa baru, yakni Hizbul Wathan (HW), Tapak Suci, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA).
Pengenalan tidak hanya dilakukan melalui pemaparan mengenai organisasi. Para anggota masing-masing Ortom juga menampilkan kemampuan yang sebelumnya telah dipersiapkan melalui latihan selama beberapa pekan.
Penampilan tersebut menjadi bagian dari cara masing-masing organisasi menunjukkan karakter dan aktivitasnya. Mahasiswa baru dapat melihat secara langsung bagaimana proses latihan membentuk kedisiplinan, keberanian, kepemimpinan hingga rasa kebersamaan.
Dengan konsep tersebut, MASTA ORTOM diharapkan tidak berhenti pada pengenalan nama dan struktur organisasi. Mahasiswa baru juga mendapatkan gambaran mengenai pengalaman yang bisa diperoleh ketika terlibat aktif dalam kegiatan kemahasiswaan.
Pelaksanaan MASTA ORTOM turut disaksikan jajaran Pimpinan Muhammadiyah. Kehadiran mereka menjadi bagian dari perhatian terhadap proses kaderisasi di lingkungan kampus sekaligus regenerasi kepemimpinan Muhammadiyah.
Pimpinan Daerah Muhammadiyah yang membidangi Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI), Hermawan, M.Si., dalam sambutannya menekankan pentingnya keteguhan sikap bagi para kader, khususnya mereka yang dipercaya menjadi pimpinan organisasi.
Menurut Hermawan, kepemimpinan tidak cukup hanya dibangun melalui kemampuan berbicara atau menyampaikan gagasan. Seorang pemimpin harus memiliki integritas, kompetensi, serta keberanian mengambil sikap ketika menghadapi berbagai persoalan.
“Jadilah kader yang tegas, memiliki integritas, dan berkualitas. Khususnya para pimpinan komisariat, harus menjadi tonggak kepemimpinan untuk menyiapkan pemimpin generasi berikutnya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan para kader agar tidak mudah terpengaruh oleh kepentingan pragmatis maupun narasi yang dapat menggeser prinsip perjuangan organisasi.
“Jangan mudah terprovokasi atau diiming-imingi kepentingan pragmatis, apalagi hanya karena sebuah narasi kemudian berubah dan berpihak kepada yang keliru,” lanjutnya.
Hermawan kemudian mendorong mahasiswa untuk terus meningkatkan kompetensi. Menurutnya, kualitas seorang kader harus dapat terlihat dari cara berpikir, perkataan, hingga tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Bangun kompetensi dalam diri. Tunjukkan kualitas melalui perkataan, perbuatan, dan tindakan nyata. Para pimpinan juga harus mampu memberikan energi positif kepada juniornya agar terjadi perubahan yang baik dan lahir generasi emas,” katanya.
Sejumlah pimpinan organisasi turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Roy Aldilah, Ketua Umum UKM Hizbul Wathan (HW) Kafilah UM Kuningan Rey Rahma Wijaya, Ketua Umum UKM Tapak Suci Giwang Purnama, Ketua Umum PK Djazman Al-Kindi Ridho Juliano, serta Ketua Umum PK Djarnawi Hadikusuma Roni.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa proses kaderisasi Muhammadiyah di UMKU berlangsung melalui berbagai wadah dengan karakter masing-masing. HW, Tapak Suci, IMM maupun NA memiliki aktivitas dan pendekatan yang berbeda, namun sama-sama menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar dan mengembangkan potensi.
Bagi mahasiswa baru, MASTA ORTOM menjadi langkah awal untuk menentukan ruang berproses selama menjalani kehidupan kampus. Mereka tidak hanya diperkenalkan dengan organisasi, tetapi juga diberi kesempatan melihat langsung nilai-nilai kedisiplinan, solidaritas, kepemimpinan dan intelektualitas yang dibangun di dalamnya.
Dari kegiatan tersebut, mahasiswa baru diharapkan dapat memilih ruang organisasi yang sesuai dengan minat dan potensinya, sekaligus mengambil bagian dalam proses kaderisasi dan keberlanjutan gerakan Muhammadiyah di masa mendatang.















