Ditinjau Anggota DPR RI Tak Jadi Solusi, Warga Randusari “Geruduk” DPRD Kuningan

KUNINGANSATU.COM,- Puluhan warga Dusun 2, Desa Randusari, Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan, mendatangi Gedung DPRD Kabupaten Kuningan, Selasa (15/9/2026). Mereka datang membawa dua galon sampel air yang disebut berasal dari sekitar Bendungan Kuningan.

Kedatangan warga tersebut merupakan bentuk penyampaian keluhan terkait kondisi lingkungan yang mereka rasakan sejak beroperasinya Bendungan Kuningan. Salah satu persoalan yang paling dikeluhkan adalah bau air yang disebut mengganggu aktivitas warga.

Kepala Desa Randusari, Tata Kasta, mengatakan sekitar 40 orang ikut dalam rombongan yang datang ke DPRD Kabupaten Kuningan. Menurutnya, kedatangan warga berkaitan dengan sejumlah kekhawatiran terhadap dampak keberadaan bendungan, terutama bagi masyarakat yang tinggal dekat dengan area pembuangan air.

“Tuntutannya itu dampak bendungan. Kesatu mungkin dampak bau. Kedua, kekhawatiran tinggi,” kata Tata Kasta saat ditemui di DPRD Kabupaten Kuningan.

Ia menjelaskan, permukiman warga berada cukup dekat dengan area pembuangan air bendungan. Kondisi tersebut membuat masyarakat merasa khawatir, terlebih ketika debit air dan aktivitas di sekitar bendungan meningkat.

“Memang Bendungan Kuningan salah satu bendungan yang mungkin dekat sekali dengan asdam, dengan pembuangan airnya. Hanya berjarak 20 meter,” ujarnya.

Tata Kasta menyebut persoalan tersebut sebenarnya bukan kali pertama disampaikan kepada pihak terkait. Sekitar dua tahun lalu, kata dia, pernah ada kunjungan anggota DPR RI ke lokasi untuk melihat langsung kondisi masyarakat.

Namun, hingga kini warga menilai belum ada tindak lanjut yang benar-benar menyelesaikan persoalan mereka.

“Kurang lebih dua tahun ke belakang. Tindak lanjutnya memang belum ada. Maka dari itu sekarang tindak lanjutnya lagi, bersurat ke DPRD Kabupaten biar disampaikan ke DPRD Pusat sekalian,” katanya.

Selain persoalan bau, warga juga mengkhawatirkan kondisi air tanah di sekitar permukiman. Tata Kasta mengatakan berdasarkan pemantauan Dinas Kesehatan, air dari sumur masyarakat di sekitar lokasi disebut memiliki tingkat polutan tinggi sehingga tidak layak untuk dikonsumsi secara langsung.

Ia menambahkan, dari sekitar 150 rumah di satu dusun, warga yang paling dekat dengan area pembuangan air menjadi kelompok yang paling dikhawatirkan terdampak.

“Kalau satu dusun kurang lebih 150 rumah. Tapi yang dekat-dekatnya nanti ditinjau dari pihak yang terkait mana yang perlu,” tuturnya.

Keluhan serupa disampaikan Rohmat, salah seorang warga Dusun 2, Desa Randusari. Ia menjelaskan, dua galon air yang dibawa ke DPRD bukan untuk keperluan pemeriksaan, melainkan sebagai simbol agar keluhan warga dapat dilihat langsung oleh para wakil rakyat.

“Untuk simbolis aja, Pak. Biar ketahuan bahwa masyarakat kita itu benar-benar bau air ini,” ujar Rohmat.

Menurutnya, persoalan bau tersebut sudah dirasakan warga sejak awal dibukanya Bendungan Kuningan. Kondisi itu terutama dirasakan ketika memasuki musim kemarau.

“Udah lama. Mulai pembukaan itu ada, sepekan kemarau. Ini cuma bawa dua galon doang, simbolis. Empat tahun berarti,” katanya.

Rohmat mengatakan warga sebelumnya juga telah menyampaikan persoalan tersebut saat anggota DPR RI datang meninjau lokasi. Namun, menurut dia, belum ada solusi yang dianggap mampu menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.

“Cuma di situ aja, didukung pakai kanopi aja,” ujarnya.

Warga kini berharap pemerintah dapat memberikan solusi yang lebih permanen. Salah satu opsi yang mereka dorong adalah relokasi warga yang tinggal paling dekat dengan area pembuangan air bendungan.

“Harapan masyarakat mah, kampung itu mau penginnya direlokasi aja. Udah enggak nyaman di situ. Dipindah aja,” kata Rohmat.

Selain bau, Rohmat menyebut sejumlah warga merasakan gangguan lain yang diduga berkaitan dengan kondisi lingkungan di sekitar permukiman. Salah satunya adalah rasa perih pada mata ketika bau tersebut muncul.

“Yang dirasakan itu perih mata,” ujarnya.

Ia juga mengatakan kondisi air tanah di sekitar permukiman ikut menjadi perhatian warga. Menurutnya, air yang telah melalui proses pengolahan masih dapat digunakan, tetapi kondisi air dari sejumlah sumur warga disebut mulai menimbulkan bau.

“Air tanah mah kalau dicek dari kesehatan yang sudah diolah itu sudah bersih. Tapi kalau sumur-sumur jadi bau juga sekarang,” katanya.

Sementara itu, kedatangan warga ke DPRD Kabupaten Kuningan dilakukan setelah pemerintah desa menerima undangan untuk mengikuti audiensi. Tata Kasta menyebut pihak desa hadir bersama unsur kewilayahan agar persoalan yang dirasakan masyarakat dapat disampaikan secara langsung.

Ia berharap audiensi tersebut menjadi pintu masuk bagi pemerintah daerah dan pihak terkait untuk melakukan peninjauan serta mencari solusi atas keresahan warga Dusun 2 Desa Randusari.

“Supaya masyarakat tahu kalau ingin ikut, ayo. Biar tidak saya sendiri. Saya sudah berusaha, bisa menyaksikan sendiri,” pungkasnya.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup