Tour de Linggarjati 2025 Dikritik MPK: Seremonial Elitis, Beban bagi Masyarakat Kuningan
KUNINGANSATU.COM,- Gelaran Tour de Linggarjati (TDL) 2025 kembali menuai sorotan. Kamis (4/9/2025), Masyarakat Peduli Kuningan (MPK) menilai ajang balap sepeda yang diklaim sebagai promosi wisata internasional itu lebih menyerupai ritual seremonial elitis ketimbang instrumen pembangunan daerah.
Sejak diluncurkan pada 2016-2017, TDL terus dipertahankan sebagai agenda tahunan Hari Jadi Kuningan. Namun, menurut catatan MPK, dampak ekonomi yang ditimbulkan sangat jauh dari biaya sosial dan fiskal yang dikorbankan. Data menunjukkan, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang melalui TDL tidak pernah signifikan. Pada edisi perdana 2017, hanya sekitar 150 wisman dengan belanja langsung sekitar Rp2 miliar setara 0,005% dari total kunjungan wisatawan Kuningan yang mencapai 3,06 juta. Tren itu berulang di 2024, dengan wisman 120-150 orang, tinggal kurang dari dua hari, dan devisa tak lebih dari Rp500 juta.
Kondisi serupa terlihat di sektor perhotelan. Tingkat okupansi hotel stagnan di kisaran 40-55%, dengan dominasi pemesanan dari panitia, official, dan peserta, bukan wisatawan umum. Klaim peningkatan pariwisata daerah, kata MPK, tidak pernah ditopang data empiris.
Ironisnya, masyarakat kecil justru ikut menanggung beban. Pedagang kecil dan UMKM di sepanjang rute TDL mengaku omzet turun akibat jalan ditutup, akses terganggu, hingga mobilitas terbatas. Dalih pemerintah daerah bahwa TDL tak membebani APBD karena ada sponsor pun terbantahkan. MPK menemukan fakta bahwa perbaikan dan penambalan jalan di jalur TDL tetap dibiayai APBD.
“Ini jelas bentuk distorsi anggaran publik. Dana yang seharusnya dipakai memperbaiki jalan-jalan vital malah dialihkan demi seremoni tahunan,” kritik MPK.
Sorotan ini kian menguat setelah Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, pada 2 September 2025 mengingatkan pemerintah daerah untuk menunda kegiatan seremonial yang dianggap pemborosan.
“Menunda semua kegiatan seremonial yang terkesan pemborosan, apalagi yang kelihatan seperti pesta dan musik… sangat tidak tepat digelar saat ini,” tegas Mendagri Tito Karnavian.
Bagi MPK, situasi ini menegaskan perlunya reorientasi Tour de Linggarjati. Ajang ini tidak boleh lagi sekadar simbol perayaan, melainkan harus benar-benar menjadi instrumen pembangunan ekonomi daerah yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat khususnya pelaku usaha lokal.
“TDL bisa tetap dipertahankan, tetapi harus diposisikan ulang. Jika tidak, ia hanya akan terus jadi festival elite yang membebani rakyat,” tandas MPK.
















