Pro-Kontra Geothermal Ciremai Mengemuka, Harnida: Jangan Setuju atau Menolak Sebelum Ada Kajian
KUNINGANSATU.COM – Rencana eksplorasi panas bumi atau geothermal di kawasan Gunung Ciremai kembali menghangatkan perbincangan di Kabupaten Kuningan. Di tengah suara pro dan kontra yang mulai mengemuka, Ketua Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Kuningan, Harnida Darius, SH, memilih mendorong satu hal yang menurutnya jauh lebih mendasar yakni kajian yang komprehensif dan kehati-hatian pemerintah.
Bagi Harnida, geothermal Ciremai tidak semestinya langsung ditempatkan dalam dua kutub sederhana, antara mendukung atau menolak. Sebab, menurutnya, baik pihak yang setuju maupun yang keberatan sama-sama membutuhkan pijakan data dan kajian ilmiah yang jelas.
“Yang menolak dan yang menyetujui juga belum tahu kajiannya macam bagaimana. Akhirnya hanya asumsi. Mungkin begini, mungkin begitu, tapi kita juga belum tahu,” kata Harnida saat diwawancarai di ruang Fraksi Golkar DPRD Kuningan, Jumat (11/9/2026) sore.
Karena itu, ia meminta seluruh pihak menahan diri untuk tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan sebelum kajian mengenai rencana geothermal tersebut benar-benar dibuka dan dipahami secara utuh.
“Yang jelas, masing-masing baik yang menolak ataupun yang menyetujui harus berdasarkan kajian. Kajian dululah,” tegasnya.
Salah satu hal yang menjadi perhatian Harnida adalah persoalan air. Ia mengaku masih membutuhkan penjelasan yang lebih komprehensif mengenai bagaimana air digunakan dalam sistem geothermal, sekaligus bagaimana air tersebut dikembalikan ke dalam sistem.
Sebelumnya, Harnida mendapatkan penjelasan dari ahli geologi bahwa dalam sistem pembangkit panas bumi, air yang digunakan dapat diinjeksikan kembali ke reservoir.
Namun, penjelasan tersebut menurutnya belum sepenuhnya menjawab sejumlah pertanyaan mendasar.
“Yang jelas bahwa itu memerlukan air banyak,” ujarnya.
Pertanyaan Harnida kemudian mengarah pada proses reinjeksi. Jika air yang digunakan nantinya dikembalikan ke dalam sistem, ia ingin mengetahui secara jelas di mana lokasi pengembaliannya, bagaimana mekanismenya, serta apakah proses tersebut memiliki potensi memengaruhi kondisi air di lingkungan sekitar.
“Tadi kata ahli geologi bahwa di dalam teknis geothermal itu air dimasukkan, aslinya kan memerlukan air banyak. Tapi dikembalikan lagi katanya airnya itu. Lah, kan kita juga belum tahu. Kembalinya di mana?,” katanya.
Persoalan tersebut dinilai penting karena Gunung Ciremai bukan sekadar kawasan yang memiliki potensi panas bumi. Gunung tersebut juga memiliki peran penting terhadap sistem sumber daya air yang selama ini menopang kehidupan masyarakat Kuningan.
Harnida memahami bahwa secara alamiah air memiliki siklus dan dapat kembali ke dalam tanah. Namun, yang menurutnya perlu dipastikan adalah apakah aktivitas pengambilan dan pemanfaatan air dalam pengembangan geothermal berpotensi mengganggu keseimbangan yang sudah ada.
“Kalau secara alamiah memang air kembali ke bumi. Tapi apakah dalam penyedotan air itu tidak ada yang terganggu, penggunaan air?. Kan begitu kira-kira. Itu yang kita pikirkan,” ungkapnya.
Dari titik itulah Harnida meminta pemerintah tidak gegabah. Ia mengakui terdapat kewenangan pemerintah pusat dalam pengelolaan sumber daya alam, termasuk potensi panas bumi. Namun, menurutnya, kewenangan tersebut tetap harus berjalan beriringan dengan karakteristik wilayah serta aspirasi masyarakat yang berada di sekitar kawasan.
“Poinnya harus hati-hati,” katanya.
Menurut Harnida, karakter ekologis Gunung Ciremai dan kekhawatiran masyarakat Kuningan tidak boleh dikesampingkan hanya karena proses pengelolaannya berada dalam kewenangan pemerintah pusat.
“Jangan sampai persoalan kewenangan yang ada di pusat, pusat ini melihat daripada kultur daerah. Ini harus didengarkan. Kekhawatiran masyarakat Kabupaten Kuningan harus didengar,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pembicaraan mengenai pemanfaatan panas bumi di Gunung Ciremai bukanlah isu yang baru muncul. Wacana tersebut, kata Harnida, telah bergulir sejak sekitar 2011.
Dalam perjalanan sebelumnya, sejumlah perusahaan pernah dikaitkan dengan rencana eksplorasi panas bumi di kawasan tersebut. Namun, rencana-rencana tersebut pada akhirnya belum sampai pada tahap pemanfaatan.
Bagi Harnida, perjalanan panjang tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi. Terlebih, jika kini muncul kembali wacana baru mengenai proses lelang pengelolaan potensi panas bumi Ciremai.
Ia berharap pengalaman masa lalu dapat menjadi pelajaran, terutama dalam membangun komunikasi yang lebih terbuka antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, DPRD dan masyarakat.
Menurutnya, jangan sampai masyarakat justru mengetahui rencana tersebut dari potongan informasi yang berkembang, sementara substansi mengenai aspek teknis, lingkungan, kebutuhan air, mekanisme eksplorasi hingga manfaat ekonominya belum dijelaskan secara utuh.
Karena itu, pemerintah daerah dan DPRD Kuningan, menurut Harnida, juga perlu mendapatkan informasi yang lengkap. Dengan begitu, pembahasan mengenai geothermal tidak berhenti pada perdebatan pro dan kontra, melainkan dapat masuk pada diskusi yang lebih substansial berdasarkan data.
Termasuk ketika berbicara mengenai sikap Fraksi Golkar.
Harnida menegaskan, dirinya belum ingin membawa Fraksi Golkar pada posisi mendukung maupun menolak rencana geothermal Ciremai. Baginya, sikap politik seharusnya lahir setelah informasi dan kajian yang dibutuhkan tersedia.
“Bukan setuju atau tidak setuju. Kajian dulu,” ujarnya.
Ia berharap seluruh pihak dapat mengedepankan kehati-hatian sekaligus membuka ruang dialog yang sehat. Sebab, menurutnya, rencana pemanfaatan potensi panas bumi tidak boleh justru melahirkan keresahan baru hanya karena masyarakat tidak memperoleh informasi yang memadai.
Pada akhirnya, Harnida menempatkan Gunung Ciremai sebagai kepentingan bersama. Potensi energi yang ada di dalamnya memang dapat dikaji untuk dimanfaatkan, tetapi kelestarian kawasan dan kepentingan masyarakat sekitar juga harus menjadi bagian penting dalam setiap pengambilan keputusan.
“Jadi, hati-hati. Jangan sampai karena yang mengatur dari pusat, kekhawatiran masyarakat di daerah tidak didengar,” pungkasnya.***













