474 Tahun Desa Cipedes Kuningan, Milangkala Jadi Momentum Bangkit Bersama
KUNINGANSATU.COM,- Usia Desa Cipedes, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan, telah melewati perjalanan panjang selama 474 tahun. Milangkala yang diperingati pada Minggu (6/9/2026) menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengenang sejarah sekaligus melihat kembali arah pembangunan desa ke depan.
Rangkaian peringatan hari jadi tersebut berlangsung dalam suasana kebersamaan. Selain doa bersama, masyarakat juga menggelar pagelaran wayang golek sebagai bagian dari upaya menjaga kesenian tradisional Sunda agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.
Pemerintah Desa Cipedes memaknai milangkala bukan hanya sebagai agenda seremonial. Peringatan tahun ini turut menjadi kesempatan untuk mengingat jasa para pendahulu yang telah membangun fondasi desa sejak masa lalu.
Hal itu sejalan dengan pepatah Sunda, “hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke”, yang mengandung makna bahwa kehidupan hari ini tidak terlepas dari perjalanan masa lalu.
Melalui momentum tersebut, masyarakat diajak mensyukuri perjalanan Desa Cipedes, memanjatkan doa untuk keselamatan dan keberkahan, serta mengenang para sesepuh dan perintis desa.
Milangkala juga dijadikan ruang introspeksi bagi pemerintah desa. Evaluasi diperlukan untuk melihat sejauh mana penyelenggaraan pemerintahan dan berbagai program pembangunan telah memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., yang hadir dalam kegiatan tersebut, mengapresiasi keberadaan masyarakat Cipedes yang dinilai mampu menjaga kebersamaan di tengah perjalanan desa yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Menurutnya, kekuatan sebuah desa tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran pembangunan. Partisipasi masyarakat, gotong royong, serta kepedulian antarwarga menjadi modal penting dalam menjaga keberlangsungan pembangunan.
“Milangkala bukan sekadar momen untuk mengenang sejarah, tetapi makna terpenting dari acara ini adalah meningkatkan kecintaan kita terhadap desa, diiringi introspeksi, refleksi, dan evaluasi sejauh mana penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan memberi manfaat nyata,” kata Dian.
Ia berharap semangat kebersamaan tersebut terus dipertahankan sehingga Desa Cipedes dapat mengawal berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari pendidikan, kesehatan, infrastruktur, hingga penguatan ekonomi kerakyatan.
Di sisi lain, pagelaran wayang golek dalam rangkaian milangkala menjadi bagian penting dari pesan kebudayaan yang ingin disampaikan. Kesenian tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana menyampaikan nilai kehidupan, budi pekerti, pesan moral, serta ajaran agama.
Memasuki usia 474 tahun, Desa Cipedes juga menatap tantangan generasi mendatang. Salah satu upaya yang didorong adalah membangun karakter anak muda melalui nilai-nilai kearifan lokal Sunda yang terangkum dalam filosofi Panca Waluya, yakni cageur, bageur, bener, pinter, dan singer.
Nilai tersebut diharapkan menjadi bekal bagi generasi muda agar mampu mengikuti perubahan zaman tanpa tercerabut dari identitas dan budaya daerah.
Dengan semangat tersebut, milangkala ke-474 Desa Cipedes tidak berhenti pada perayaan usia. Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa masa depan desa dibangun dari sejarah, kebersamaan, budaya, dan kerja nyata masyarakatnya.















