“DIRIDHOI” Mulai Jadi Buah Bibir, Ridho Suganda Tak Mau Mendahului Takdir Politik
KUNINGANSATU.COM – Wacana duet Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar dengan M. Ridho Suganda dalam kontestasi politik mendatang mulai menjadi perhatian publik.
Istilah “DIRIDHOI” yang belakangan muncul di tengah masyarakat pun ikut memantik spekulasi. Akronim yang menggabungkan nama Dian dan Ridho itu dinilai sebagai bentuk harapan sekaligus aspirasi dari sebagian masyarakat Kuningan.
Menanggapi wacana tersebut, M. Ridho Suganda memilih bersikap tenang. Ia menilai kedekatannya dengan Bupati Dian sejauh ini merupakan bagian dari silaturahmi sekaligus komunikasi sebagai sesama putra daerah yang sama-sama memiliki perhatian terhadap Kuningan.
“Pada prinsipnya, silaturahmi dengan siapa pun harus kita jaga dengan baik. Apalagi kita sama-sama memiliki perhatian terhadap Kuningan. Kalau kemudian masyarakat melihat kedekatan tersebut dan memiliki harapan tertentu, tentu saya menghargai itu sebagai sebuah aspirasi,” ujar Ridho, Jum’at (28/8/2026).
Mantan Wakil Bupati Kuningan itu menegaskan tidak ingin terburu-buru menerjemahkan hubungan baik tersebut sebagai sinyal politik. Menurutnya, perjalanan politik masih panjang dan berbagai kemungkinan masih dapat berubah mengikuti perkembangan situasi.
“Soal politik tentu ada mekanisme, ada pertimbangan, dan ada proses yang harus dihormati. Saya kira terlalu dini kalau sekarang sudah berbicara mengenai pasangan atau kontestasi. Yang terpenting bagi saya adalah bagaimana kita tetap menjaga komunikasi dan memberikan kontribusi yang baik untuk masyarakat,” katanya.
Ridho juga menyampaikan apresiasi terhadap kepemimpinan Bupati Dian Rachmat Yanuar. Baginya, setiap pemimpin memiliki tantangan dan ruang pengabdian masing-masing.
Karena itu, ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat terus memberikan energi positif bagi pembangunan daerah, terlepas dari perbedaan pandangan politik.
“Kita semua tentu memiliki harapan yang sama, yaitu Kuningan semakin baik. Perbedaan pandangan atau pilihan politik jangan sampai membuat kita kehilangan semangat untuk membangun daerah. Kalau komunikasi dan silaturahmi bisa terus dijaga, saya kira itu sesuatu yang positif,” ungkapnya.
Mengenai istilah “DIRIDHOI”, Ridho pun tidak ingin memberikan respons berlebihan. Ia memilih menghargai aspirasi yang berkembang sembari menyerahkan proses politik kepada waktu.
“Kalau masyarakat punya harapan, tentu kita hormati. Tapi saya kira biarkan semuanya berjalan sesuai prosesnya. Ada waktunya nanti masyarakat, partai politik, dan para tokoh menentukan sikap. Saya sendiri tidak ingin mendahului sesuatu yang memang belum waktunya,” tuturnya.
Ridho menilai hubungan baik antartokoh di Kuningan tidak selalu harus dibaca dalam perspektif politik. Menurutnya, komunikasi lintas kelompok dan perbedaan pandangan justru penting untuk menjaga suasana daerah tetap kondusif.
“Jangan setiap komunikasi kemudian selalu ditarik ke politik. Kita harus bisa melihatnya lebih luas. Persaudaraan, silaturahmi dan komunikasi yang baik itu penting, siapa pun orangnya dan apa pun latar belakangnya,” kata Ridho.
Meski belum memberikan kepastian mengenai arah politiknya, Ridho tidak menutup kemungkinan untuk kembali mengambil bagian dalam kontestasi politik Kuningan.
Ia mengatakan, pengabdian kepada masyarakat tetap menjadi prinsip yang dipegangnya. Namun, mengenai bentuk, waktu, maupun kemungkinan pasangan politik, menurutnya masih membutuhkan proses dan pertimbangan yang matang.
“Kalau untuk pengabdian kepada masyarakat, tentu prinsipnya saya selalu terbuka. Tetapi mengenai bentuknya seperti apa, kapan waktunya, dan dengan siapa, tentu semuanya ada proses dan pertimbangannya. Kita lihat saja nanti. Yang jelas, saya ingin memberikan yang terbaik untuk Kuningan,” pungkasnya.***















