Bukan Hanya Orang Dewasa, HIV di Kuningan Juga Ditemukan pada Pelajar

KUNINGANSATU.COM – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Kuningan kembali mengingatkan pentingnya edukasi HIV/AIDS sejak usia sekolah. Pasalnya, kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kuningan terus ditemukan dan jumlah kumulatifnya kini telah mencapai sekitar 1.500 orang.

Ketua KPA Kabupaten Kuningan, Asep Susan Sonjaya Suparman atau yang akrab disapa Asep Papay, menyampaikan hal tersebut seusai menjadi narasumber dalam kegiatan edukasi pencegahan bullying di SMPN 1 Cilimus, Rabu (19/8/2026).

Kegiatan bertajuk “Teman Bukan Lawan, Ciptakan Sekolah Tanpa Bullying” tersebut digelar mahasiswa KKN UNISA Kelompok 03 Desa Bojong. Selain KPA, kegiatan juga menghadirkan narasumber dari BNN dan UPTD PPA.

Menurut Asep, perkembangan kasus HIV/AIDS di Kuningan perlu menjadi perhatian bersama. Ia menyebut, dalam satu tahun penemuan kasus baru dapat mencapai lebih dari 100 orang.

“Setiap tahunnya dari Januari sampai Desember itu penemuan kasus baru lebih dari 100 orang. Itu sangat mengkhawatirkan. Tiap tahun meningkat dan kumulatif sudah lebih dari 1.400-an, sekarang sekitar 1.500 orang,” kata Asep.

Ia menyebut peningkatan kasus secara tahunan berada di kisaran 30 persen. Adapun data terbaru untuk tahun berjalan masih dalam proses pemutakhiran, meski sejumlah kasus baru telah ditemukan sejak awal tahun.

Kondisi tersebut menjadi alasan KPA terus mendorong penguatan edukasi, terutama kepada generasi muda. Asep menilai, pemahaman mengenai HIV/AIDS, narkoba, perlindungan diri, serta perilaku berisiko perlu diberikan sebelum seseorang memasuki usia dewasa.

Pelajar Juga Masuk dalam Temuan Kasus

Asep mengungkapkan bahwa HIV/AIDS tidak hanya ditemukan pada kelompok usia dewasa. Kasus juga pernah ditemukan pada kalangan pelajar tingkat SMP hingga SMA.

“Pelajar ada yang terpapar, SMP dan SMA juga ada,” ungkapnya.

Menurut dia, temuan tersebut menjadi alarm agar pendidikan kesehatan dan pencegahan perilaku berisiko tidak dianggap sebagai isu orang dewasa semata.

Selain itu, terdapat pula kasus pada anak usia sekolah dasar yang berkaitan dengan penularan dari ibu kepada anak. Karena itu, pemeriksaan dan deteksi dini terhadap ibu hamil menjadi bagian penting dalam upaya memutus rantai penularan.

Asep menilai pemeriksaan kesehatan sebelum pernikahan maupun selama kehamilan dapat membantu mendeteksi risiko lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat.

Mahasiswa Diminta Jadi Agen Perubahan

Asep mengapresiasi kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKN UNISA. Menurutnya, kegiatan edukasi di lingkungan sekolah menjadi langkah positif karena memberikan kesempatan kepada pelajar untuk memperoleh informasi dari berbagai pihak.

“Hal yang positif memang harus terus digelorakan. KKN ini sangat bermanfaat untuk masyarakat, khususnya lingkungan sekitar. Adik-adik SMP mendapatkan edukasi dan pengetahuan baru dari berbagai narasumber,” ujarnya.

Ia berharap mahasiswa tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi selama menjalankan KKN. Pengetahuan yang diperoleh, kata dia, dapat terus disebarkan kepada masyarakat setelah mahasiswa kembali ke lingkungan masing-masing.

“Ini sangat mengedukasi dan mencerahkan. Mudah-mudahan terus digelorakan oleh kawan-kawan mahasiswa sebagai agent of change,” katanya.

Jangan Stigma Orang dengan HIV

Di tengah upaya pencegahan, Asep juga menyoroti pentingnya menghilangkan stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS.

Ia meminta masyarakat tidak mengucilkan maupun memberikan perlakuan diskriminatif kepada mereka yang telah terpapar. Dengan penanganan dan pola hidup yang tepat, orang dengan HIV tetap dapat menjalani kehidupan secara sehat dan produktif.

“Jangan sampai yang tidak terpapar memberikan stigma, jangan sampai mengucilkan, karena AIDS itu bisa dikendalikan,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Asep juga mengingatkan masyarakat untuk menghindari perilaku yang dapat meningkatkan risiko penularan. Ia menekankan pentingnya menjaga kesetiaan dalam hubungan serta tidak menggunakan narkoba suntik secara bergantian, terutama berbagi jarum suntik.

Sementara bagi mereka yang telah terpapar HIV, Asep mengimbau agar tetap menjaga kondisi kesehatan dan tidak memiliki keinginan menularkan virus kepada orang lain.

“Yang terpapar tetap sehat, jaga kesehatan, jaga pola kesehatan, dan jangan sampai ada niat untuk menularkan,” pungkasnya.

Asep menegaskan, penanggulangan HIV/AIDS membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat. Pemerintah, lembaga terkait, dunia pendidikan, mahasiswa, keluarga, dan masyarakat dinilai memiliki peran masing-masing untuk mendorong tercapainya zero infection atau tidak adanya infeksi baru.

“Ini bukan tanggung jawab hanya pemerintah daerah. Ini tanggung jawab kita bersama untuk zero infection. Nol infeksi menjadi tanggung jawab bersama,” tegas Asep.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup