Handphone Jadi “Tuyul” di Era Digital, Ini Pesan Alan Suwgiri
KUNINGANSATU.COM – Besarnya jumlah penduduk usia produktif menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, bonus demografi dinilai tidak akan otomatis menjadi keuntungan apabila generasi muda tidak dibekali keterampilan, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Pengurus Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Jawa Barat, Alan Suwgiri, menilai bonus demografi Indonesia harus diarahkan menjadi bonus demografi yang berkualitas. Salah satu kuncinya adalah mendorong generasi muda agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menjadikannya sebagai alat untuk menghasilkan karya dan pendapatan.
Alan menyampaikan pandangan tersebut dalam refleksinya mengenai perubahan ekonomi di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, generasi muda saat ini memiliki akses yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya untuk memulai kegiatan ekonomi.
“Dulu untuk membangun usaha dibutuhkan toko, kantor, pegawai, modal besar, dan akses pasar yang luas. Sekarang seseorang bisa memulai usaha dari kamar tidurnya hanya dengan handphone, internet, kreativitas, dan kemampuan memanfaatkan teknologi,” ujar Alan.
Menurut Alan, perkembangan teknologi telah mengubah cara orang bekerja dan menjalankan usaha. Telepon pintar, media sosial, marketplace hingga AI kini tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi maupun hiburan.
Berbagai perangkat tersebut dapat digunakan untuk membuat konten, menawarkan jasa, memasarkan produk, melakukan riset, menyusun strategi bisnis hingga mengembangkan produk digital.
Karena itu, ia mengingatkan generasi muda agar tidak terjebak menjadi konsumen di tengah besarnya peluang ekonomi digital.
“Jangan hanya menjadi penonton di media sosial. Jadilah kreator. Jangan hanya menjadi pembeli di marketplace. Cobalah menjadi penjual. Jangan hanya bertanya kepada AI. Gunakan AI untuk membuat sesuatu yang bernilai,” katanya.
Alan menilai kehadiran AI justru dapat memperbesar kemampuan seseorang. Teknologi tersebut dapat membantu pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak waktu, tenaga, bahkan sumber daya manusia.
Namun, ia menegaskan AI bukan mesin uang yang dapat bekerja tanpa keterampilan manusia.
“AI itu seperti memperbesar kemampuan manusia. Orang yang kreatif dan mau belajar akan memiliki alat yang jauh lebih kuat untuk menghasilkan sesuatu,” ujarnya.
Perubahan lain yang menurut Alan sangat penting adalah semakin terbukanya akses terhadap pasar.
Seseorang kini tidak harus memiliki toko fisik untuk menjual produk. Media sosial dapat digunakan sebagai etalase, marketplace menjadi tempat transaksi, sementara telepon pintar dapat menjadi perangkat kerja sekaligus pusat pengelolaan usaha.
“Sekarang kamar tidur bisa menjadi kantor. Handphone bisa menjadi toko. Media sosial bisa menjadi etalase. Marketplace bisa menjadi pasar. AI bisa menjadi asisten. Dan internet bisa menjadi jalan untuk menjangkau konsumen di mana saja,” tutur Alan.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat peluang ekonomi tidak lagi hanya terbuka bagi perusahaan besar. Mahasiswa, pelajar, pekerja, ibu rumah tangga, pelaku UMKM maupun anak muda yang baru belajar berwirausaha juga memiliki kesempatan untuk memasuki pasar.
Karena itu, persoalan lapangan kerja, kata Alan, tidak cukup hanya dijawab dengan mendorong anak muda menjadi pencari kerja. Mereka juga harus dibekali kemampuan menciptakan pekerjaan.
“Kita tidak bisa hanya mengajarkan anak muda untuk mencari pekerjaan. Kita juga harus mengajarkan mereka bagaimana menciptakan pekerjaan, menciptakan produk, membangun pasar, dan menghasilkan uang dari keterampilan yang mereka miliki,” katanya.
Ada satu istilah unik yang digunakan Alan untuk menggambarkan perubahan tersebut, yakni “tuyul”.
Ia mengibaratkan perangkat dan teknologi yang berada di tangan masyarakat saat ini sebagai “tuyul” dalam konteks ekonomi modern. Jika dahulu dalam cerita masyarakat dikenal sosok yang memelihara tuyul untuk mendapatkan uang secara instan, maka di era digital setiap orang sebenarnya memiliki alat yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan nilai ekonomi.
“Kalau dulu dalam cerita masyarakat ada orang yang ingin kaya lalu memelihara tuyul, sekarang kita sebenarnya sudah memiliki ‘tuyul’ masing-masing. Handphone kita adalah tuyulnya. Media sosial adalah tuyulnya. Marketplace adalah tuyulnya. AI adalah tuyulnya,” ujarnya.
Meski demikian, Alan menegaskan analogi tersebut bukan berarti teknologi dapat menghasilkan uang dengan sendirinya.
Teknologi baru akan menjadi aset produktif apabila digunakan bersama kreativitas, keterampilan, disiplin, strategi dan kemauan untuk terus belajar.
“Masalahnya, tuyul zaman sekarang jangan hanya menghabiskan susu. Jangan sampai handphone kita setiap hari menghasilkan pengeluaran kuota, belanja online, langganan aplikasi, hiburan tetapi tidak pernah menghasilkan pendapatan,” katanya.
Ia mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, mulai melihat handphone bukan hanya sebagai barang konsumsi, tetapi juga sebagai aset ekonomi.
Alan juga menilai kemudahan teknologi membuat kreativitas menjadi semakin penting. Ketika hampir semua orang dapat mengakses perangkat dan teknologi yang sama, keunggulan tidak lagi hanya ditentukan oleh mahalnya perangkat yang dimiliki.
Menurutnya, nilai justru lahir dari kemampuan seseorang membaca masalah, mencari solusi, mengemas ide, membangun kepercayaan dan menawarkan sesuatu yang dibutuhkan masyarakat.
“Handphone mahal belum tentu menghasilkan uang. AI canggih juga belum tentu menghasilkan uang. Marketplace besar belum tentu menghasilkan uang. Yang menghasilkan adalah manusia yang mampu mengubah semua alat itu menjadi sesuatu yang memiliki nilai,” jelasnya.
Ia pun mengajak anak muda melihat berbagai persoalan di sekitarnya sebagai peluang.
Persoalan transportasi dapat dikembangkan menjadi jasa. Kebutuhan pangan dapat melahirkan produk. Permasalahan pendidikan dapat menjadi peluang layanan pembelajaran. Sementara kebutuhan pemasaran dapat membuka ruang bagi jasa digital.
Bahkan, hobi yang selama ini hanya dianggap sebagai kegiatan mengisi waktu dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi jika dikelola secara serius.
Di sisi lain, Alan tidak menampik bahwa perkembangan AI akan membawa perubahan terhadap dunia kerja. Sejumlah pekerjaan yang bersifat rutin dan repetitif berpotensi semakin banyak dibantu teknologi.
Namun, kondisi tersebut menurutnya tidak seharusnya membuat generasi muda hanya merasa takut.
“Pekerjaan memang berubah. Tetapi kebutuhan manusia tidak pernah berhenti. Ketika ada pekerjaan yang hilang, akan muncul kebutuhan baru. Tantangannya adalah apakah generasi muda kita mampu beradaptasi dan mengambil peluang baru tersebut,” ujarnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun mentalitas sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Ijazah dan gelar, kata Alan, tetap penting, tetapi tidak cukup untuk menghadapi perubahan yang berlangsung cepat.
“Jangan merasa setelah lulus kuliah berarti proses belajar selesai. Justru setelah lulus, kita harus semakin banyak belajar karena dunia bergerak sangat cepat,” katanya.
Alan berpandangan bahwa pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha dan keluarga memiliki peran masing-masing dalam menyiapkan generasi muda menghadapi perubahan tersebut.
Sekolah dan perguruan tinggi perlu memperkuat literasi digital, kewirausahaan, kreativitas dan kemampuan problem solving. Dunia usaha dapat membuka ruang magang dan kolaborasi, sedangkan pemerintah perlu memperluas akses terhadap infrastruktur digital serta pembiayaan.
Di tingkat keluarga, anak muda juga perlu diberi ruang untuk mencoba, mengalami kegagalan, belajar dan mengembangkan gagasannya.
“Bonus demografi jangan hanya dihitung dari berapa banyak anak muda yang kita miliki. Yang lebih penting adalah berapa banyak anak muda yang produktif, kreatif, mandiri, mampu menciptakan pekerjaan, dan mampu menghasilkan nilai bagi masyarakat,” ujar Alan.
Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini bukan sekadar mencari pekerjaan. Lebih jauh, mereka harus mampu memanfaatkan perubahan teknologi untuk menciptakan peluang ekonomi baru.
Indonesia, kata dia, sebenarnya memiliki modal teknologi yang sangat besar. Internet, telepon pintar, media sosial, marketplace dan AI telah tersedia dan dapat digunakan oleh masyarakat.
“Zaman kita mungkin memiliki tantangan yang berbeda dengan zaman orang tua kita. Tetapi kita juga mendapatkan kemewahan yang luar biasa. Kita memiliki internet, handphone, media sosial, marketplace, AI, dan akses terhadap berbagai informasi yang hampir tidak terbatas. Jangan sampai peluang sebesar ini hanya digunakan untuk hiburan,” katanya.
Alan berharap generasi muda Indonesia, termasuk yang berada di daerah, mulai mengubah posisi dari konsumen menjadi produsen.
Menurutnya, jika teknologi digunakan untuk belajar, berkarya, membangun usaha dan menghasilkan pendapatan, maka bonus demografi Indonesia dapat menjadi kekuatan ekonomi yang besar.
“Kalau dulu orang harus mencari tuyul untuk mendapatkan uang, sekarang tuyulnya sudah ada di tangan kita. Namanya handphone. Ditambah media sosial, marketplace, AI, dan berbagai instrumen ekonomi digital lainnya. Tinggal pertanyaannya: apakah kita cukup kreatif untuk membuat tuyul itu menghasilkan uang, atau justru kita yang setiap hari mengeluarkan uang untuk memberinya susu?” pungkas Alan.















