Lewat Kaderisasi, PMII UNISA Siapkan Generasi Muda Berdaya Saing

KUNINGANSATU.COM,- Mahasiswa yang berasal dari lingkungan Pondok Pesantren Al-Khoiriyah Cibingbin kini mulai menunjukkan kiprah yang lebih aktif di dunia organisasi kampus. Sejumlah santri yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan tercatat terlibat dalam berbagai organisasi kemahasiswaan, mulai dari Himpunan Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (HIMA PAI) hingga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Perkembangan tersebut menjadi sorotan dalam kegiatan kajian organisasi dan penguatan kaderisasi yang digelar kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UNISA di Pondok Pesantren Al-Khoiriyah, Minggu (31/5/2026).

Kegiatan yang diikuti kader PMII dari kalangan santri itu menjadi ruang diskusi sekaligus refleksi mengenai pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam organisasi sebagai bagian dari proses pengembangan diri dan kepemimpinan.

Wakil Ketua I Bidang Kaderisasi PMII Kuningan, Reza Adiansyah, yang hadir sebagai pemantik kajian menegaskan bahwa kaderisasi memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, kapasitas kepemimpinan, serta kepekaan sosial mahasiswa.

Menurutnya, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan sarana belajar yang mampu membekali mahasiswa dengan kemampuan memimpin, berdiskusi, memecahkan persoalan, hingga membangun jejaring yang bermanfaat bagi masa depan.

“Melalui kaderisasi, mahasiswa belajar banyak hal yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas. Organisasi menjadi tempat untuk melatih tanggung jawab, mengembangkan kapasitas diri, dan menyiapkan diri untuk mengabdi kepada masyarakat,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, Fauzi, salah seorang kader PMII UNISA yang juga santri Al-Khoiriyah, menilai kegiatan kajian organisasi perlu terus dilakukan agar semangat belajar dan tradisi intelektual di kalangan mahasiswa pesantren tetap terjaga.

Ia menyebut forum diskusi seperti ini mampu memperluas wawasan, mempererat hubungan antar kader, sekaligus meningkatkan motivasi mahasiswa pesantren untuk aktif berorganisasi tanpa meninggalkan kewajiban akademik maupun aktivitas kepesantrenan.

“Diskusi seperti ini sangat penting karena menjadi wadah bertukar gagasan dan pengalaman. Selain itu, dapat memperkuat semangat berorganisasi di tengah kesibukan kuliah dan kegiatan pesantren,” katanya.

Sementara itu, Demisioner Rayon FIK PMII Komisariat UNISA, Adi Dimyati, mengaku bangga melihat perubahan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa Al-Khoiriyah dalam organisasi kampus sebelumnya masih terbilang minim.

Namun, melalui proses kaderisasi dan pendampingan yang berkelanjutan, kini mulai bermunculan mahasiswa pesantren yang aktif mengambil peran di berbagai organisasi kemahasiswaan.

“Dulu sangat jarang mahasiswa Al-Khoiriyah yang kuliah di UNISA ikut aktif di organisasi kampus. Sekarang sudah ada yang terlibat di HIMA PAI maupun BEM. Ini perkembangan yang sangat positif dan perlu terus didorong,” ungkap Adi.

Ia menambahkan, mahasiswa yang berasal dari lingkungan pesantren memiliki tanggung jawab ganda. Selain dituntut berprestasi secara akademik, mereka juga membawa identitas sebagai santri yang diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Karena itu, menurutnya, kemampuan akademik, pengalaman organisasi, serta kepedulian sosial harus berjalan beriringan agar mahasiswa pesantren siap menjadi agen perubahan ketika kembali ke tengah masyarakat.

Melalui kegiatan penguatan kaderisasi tersebut, PMII UNISA berharap semakin banyak mahasiswa pesantren yang berani mengambil peran dalam organisasi kampus. Langkah itu dinilai penting sebagai bekal untuk membangun kepemimpinan, memperluas pengalaman, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan kehidupan sosial di masa mendatang.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup