Koprek di Desa Cilowa: Bunyi Calung Bangunkan Sahur dengan Nuansa Budaya Sunda

KUNINGANSATU.COM, – Tradisi membangunkan warga untuk sahur masih lestari di sejumlah daerah di Indonesia. Di tengah maraknya penggunaan pengeras suara dan alat musik modern, warga Desa Cilowa, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, justru mempertahankan cara unik dan sarat nilai budaya yang dikenal dengan istilah koprek.
Berbeda dengan daerah lain yang identik dengan sound system dan alat musik modern, kelompok koprek di Desa Cilowa memanfaatkan alat-alat sederhana namun khas. Mulai dari jerigen, kentongan bambu yang oleh warga setempat dikenal sebagai kohkol hingga alat musik tradisional Sunda seperti calung. Bunyi ritmis yang dihasilkan berpadu dengan suasana dini hari, menciptakan nuansa Ramadan yang hangat dan khas pedesaan.
Salah satu anggota perkumpulan koprek Cilowa, Tedi Wahyudi, menjelaskan bahwa tradisi koprek telah berlangsung sejak lama dan rutin digelar setiap bulan Ramadan.
“Di Cilowa ada beberapa perkumpulan koprek. Alat yang digunakan juga beragam. Ada yang memakai kohkol, ada yang menggunakan pengeras suara atau sound system, alat musik modern, bahkan ada juga yang memanfaatkan calung,” ujar Tedi saat ditemui usai kegiatan koprek, Rabu (25/2/2026) dini hari.
Ia menuturkan, kelompoknya secara khusus memilih memadukan calung dengan satu buah jerigen yang difungsikan sebagai pengatur nada bas. Menurutnya, pilihan tersebut bukan tanpa alasan.
“Saya kebetulan menggunakan calung dan satu jerigen sebagai bas-nya. Kalau ditanya sejak tahun berapa, saya lupa. Yang jelas, ini sudah dilakukan sejak lama,” katanya.
Lebih jauh, Tedi menyebut penggunaan calung merupakan bagian dari upaya melestarikan budaya sunda agar tidak tergerus perkembangan zaman. Selain itu, calung dinilai lebih awet dibandingkan kohkol bambu yang relatif mudah rusak.
“Mungkin ini juga bentuk ikhtiar menjaga budaya Sunda supaya tidak hilang. Calung itu lebih tahan lama dan suaranya juga punya ciri khas,” tambahnya.
Bagi warga Desa Cilowa, koprek bukan sekadar tradisi membangunkan sahur. Lebih dari itu, ia menjadi ruang kebersamaan sekaligus simbol perlawanan budaya lokal di tengah arus modernisasi. Di era digital seperti sekarang, bunyi calung dan jerigen tetap setia menemani warga menyambut sahur setiap Ramadan.


















