Terganjal Anggaran, Karir Pesik Kuningan di Liga 3 Terancam Kandas!

KUNINGANSATU.COM,- Pesik Kuningan menghadapi tantangan besar setelah memastikan diri lolos ke kompetisi Liga 3. Di balik keberhasilan tersebut, persoalan anggaran menjadi pekerjaan rumah serius yang harus segera dipikirkan sebelum kompetisi bergulir.

Manajer Pesik Kuningan, Nono, mengatakan keikutsertaan dalam Liga 3 bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban bagi klub yang telah dinyatakan lolos. Jika tidak mengikuti kompetisi, Pesik Kuningan berpotensi mendapatkan sanksi dari PSSI.

Hal itu disampaikan Nono saat ditemui di Perum Panorama Asri, Selasa (21/7/2026).

“Sekarang kita sudah lolos ke Liga 3 dan itu wajib diikuti oleh klub-klub yang sudah ditetapkan,” ujar Nono.

Menurutnya, tantangan terbesar yang kini dihadapi Pesik Kuningan adalah kebutuhan anggaran. Berkaca pada kompetisi Liga 4 sebelumnya, biaya yang dikeluarkan sudah cukup besar. Sementara untuk tampil di Liga 3, kebutuhan dana diperkirakan meningkat secara signifikan.

Nono memperkirakan kebutuhan anggaran Liga 3 minimal meningkat sekitar 50 persen dibandingkan anggaran yang dibutuhkan saat mengikuti Liga 4.

“Kalau saya perhatikan, dari Liga 4 ke Liga 3 itu mungkin minimal 50 persen dari kebutuhan anggaran di Liga 4,” katanya.

Ia menyebut, keputusan mengenai kelanjutan Pesik Kuningan di Liga 3 kini sangat bergantung pada kebijakan Bupati Kuningan. Termasuk keberlanjutan dukungan investor yang sebelumnya turut membantu perjalanan klub.

Nono mengaku hingga kini belum mengetahui secara pasti apakah investor akan kembali melanjutkan investasinya untuk menghadapi kompetisi Liga 3.

“Saya belum tahu juga terkait dengan itu. Kita juga belum ngobrol apa-apa. Yang jelas kembali kepada kebijakan Pak Bupati seperti apa. Kuncinya adalah di Bupati,” ungkapnya.

Bukan tanpa alasan, Nono mengingatkan adanya konsekuensi serius apabila Pesik Kuningan memutuskan tidak mengikuti Liga 3. Klub bisa saja kembali memulai perjalanan dari Liga 4 Seri 1. Bahkan, terdapat kemungkinan sanksi pembekuan yang membuat klub tidak dapat mengikuti kompetisi dalam waktu cukup lama.

“Pembekuan itu bisa sekitar lima tahun. Tidak bisa kita mengikuti kompetisi lagi,” ujarnya.

Menurut Nono, kondisi tersebut tentu sangat disayangkan. Pesik Kuningan, kata dia, telah melalui proses panjang untuk bisa menapaki kompetisi hingga akhirnya berhasil lolos ke Liga 3.

Ia juga menilai sepak bola di Kabupaten Kuningan memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Selain banyaknya turnamen yang digelar, keberadaan sekolah sepak bola (SSB) juga menjadi modal penting dalam pembinaan pemain muda.

“Bola di Kuningan itu sangat bagus dan berkembang. Sekarang banyak turnamen dan pembibitan melalui SSB juga banyak. Jadi harus terus berjalan,” katanya.

menurutnya, jika Kuningan mendapat kesempatan menjadi tuan rumah pertandingan Liga 3, dampaknya akan sangat besar bagi masyarakat dan citra daerah.

“Sepak bola ini hiburan masyarakat dan sangat digandrungi. Apalagi kalau bisa menjadi tuan rumah Liga 3 di Kuningan, tentu akan booming. Masyarakat terhibur dan Kabupaten Kuningan juga akan lebih dikenal secara nasional,” pungkasnya.

Kini, masa depan Pesik Kuningan di Liga 3 masih menunggu keputusan lebih lanjut, terutama terkait kepastian dukungan anggaran dan kebijakan Pemerintah Kabupaten Kuningan.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup