Tabola Bale Menggema di Tiongkok, Satria: Ketika Budaya Jadi Bahasa Universal

KUNINGANSATU.COM – Tak ada yang menyangka alunan Tabola Bale yang identik dengan nuansa Nusa Tenggara Timur (NTT) bakal menggema di Alun-Alun Rakyat Kota Shaoshan, Tiongkok. Lagu Indonesia itu justru menjadi pengikat suasana ketika delegasi Partai Golkar berbaur dan menari bersama warga lokal.

Salah satu yang turut menjadi bagian dari momen tersebut adalah anggota DPRD Kabupaten Kuningan dari Fraksi Partai Golkar, Satria Rizky Utama, S.E. Bersama delegasi lainnya, Satria ikut larut dalam suasana kebersamaan yang berlangsung spontan dan penuh keakraban.

Momen tersebut bermula ketika 20 orang delegasi Partai Golkar yang diundang International Department of the CPC Central Committee (IDCPC) tiba di kawasan Alun-Alun Rakyat Kota Shaoshan setelah sebelumnya melakukan persiapan bermalam di Hunan Shaoshan Executive Leadership Academy (HSELA).

Begitu memasuki kawasan alun-alun, suasana malam langsung terasa hidup. Musik berbahasa Mandarin terdengar dari kejauhan, sementara lampu-lampu menghiasi kawasan tersebut. Puluhan warga terlihat menikmati malam dengan berdansa dan menari bersama.

Sekitar 40 warga berdansa secara berpasangan mengikuti irama musik dengan gerakan cepat namun teratur. Tak jauh dari sana, sekitar 12 perempuan yang rata-rata berusia 45 tahun ke atas tampil dengan seragam olahraga berwarna ungu muda. Mereka menari mengikuti musik disko Mandarin dengan penuh semangat, sementara sejumlah warga lokal ikut bergabung di barisan belakang.

Pemandangan tersebut membuat delegasi Partai Golkar tertarik untuk ikut bergabung. Satria bersama delegasi lainnya kemudian mengambil posisi di barisan belakang dan mencoba mengikuti gerakan para penari.

Gerakan yang terlihat sederhana ternyata tidak mudah diikuti. Namun, kesulitan tersebut justru membuat suasana semakin cair. Tawa dan kegembiraan muncul ketika para delegasi berusaha menyesuaikan gerakan dengan warga setempat.

Di tengah suasana tersebut, muncul ide spontan untuk memperkenalkan musik Indonesia kepada warga Shaoshan. Dengan bantuan Ms. Wang Qun sebagai penerjemah, delegasi kemudian berkomunikasi dengan salah satu penari yang mengendalikan perangkat audio.

Tak lama kemudian, alunan Tabola Bale yang dinyanyikan Silet Open Up mulai terdengar di tengah alun-alun. Musik dengan nuansa khas NTT itu menggantikan lagu Mandarin yang sebelumnya mengiringi tarian warga.

Delegasi Partai Golkar kembali menari bersama warga lokal. Satria pun turut larut dalam suasana tersebut. Perbedaan bahasa dan budaya seolah tidak lagi menjadi penghalang ketika musik Indonesia dimainkan dan semua bergembira bersama.

“Bisa menjadi bagian dari momen sederhana seperti ini tentu menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Kita datang dari Indonesia dengan bahasa dan budaya yang berbeda, tetapi ternyata musik dan kebersamaan bisa menjadi jembatan untuk saling mengenal dan berbagi kebahagiaan,” ujar Satria kepada kuningansatu.com, Sabtu (15/8/2026).

Ia menilai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa persahabatan antarnegara tidak selalu harus dibangun melalui forum resmi dan pertemuan formal. Interaksi sederhana melalui seni dan budaya juga dapat menciptakan kedekatan.

“Bagi saya, ini bukan sekadar menari bersama. Ada pesan bahwa ketika kita mau membuka diri dan menghargai budaya lain, perbedaan justru bisa menjadi kekuatan untuk membangun persahabatan. Saya bangga bisa ikut menjadi bagian dari momen yang sederhana, tetapi sangat bermakna ini,” katanya.

Bergemanya Tabola Bale di Shaoshan menjadi pengalaman yang tidak direncanakan sebelumnya, tetapi justru meninggalkan kesan mendalam bagi para delegasi. Lagu bernuansa NTT tersebut menjadi jembatan yang mempertemukan masyarakat Indonesia dengan warga lokal dalam suasana penuh kegembiraan.

Malam itu, musik dan tarian menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi bahasa universal. Tanpa harus berbicara dalam bahasa yang sama, warga Shaoshan dan delegasi Indonesia dapat berbagi ruang, gerak dan kebahagiaan.

Bagi Satria Rizky Utama, kesempatan menjadi bagian dari momen tersebut merupakan pengalaman berharga sekaligus gambaran bahwa pertukaran budaya dapat berlangsung melalui hal-hal sederhana. Sebuah lagu dari Indonesia yang menggema ribuan kilometer dari tanah air akhirnya mampu menghadirkan suasana akrab di tengah masyarakat Shaoshan.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup