Tak Cukup Pintar Mengajar! Ini Sosok Guru yang Dibutuhkan Menuju 2045

KUNINGANSATU.COM,- Tantangan dunia pendidikan menuju Indonesia Emas 2045 semakin kompleks. Krisis literasi, numerasi, dan karakter menjadi pekerjaan rumah yang menuntut kehadiran guru yang tidak hanya mampu menyampaikan materi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi perkembangan peserta didik.

Persoalan tersebut menjadi fokus utama dalam webinar bertajuk “Orientasi Pendidikan 2045” dengan tema “Menjadi Guru Berdampak di Tengah Krisis Literasi, Numerasi, dan Karakter.” Kegiatan ini diikuti mahasiswa, guru, calon guru, serta pemerhati pendidikan yang memiliki perhatian terhadap masa depan pendidikan Indonesia.

Webinar tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni akademisi sekaligus dosen Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan, Dr. Endun Abdul Haq, M.Pd., serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Dr. Elon Carlan, S.Pd., M.Pd.

Dalam pemaparannya, Dr. Endun Abdul Haq menekankan pentingnya perubahan paradigma pembelajaran. Menurutnya, pendidikan tidak lagi cukup hanya berorientasi pada kemampuan mengingat dan menghafal atau Lower Order Thinking Skills (LOTS).

Guru di era Pendidikan 2045, kata dia, harus mampu mendorong peserta didik untuk mengembangkan Higher Order Thinking Skills (HOTS). Kemampuan tersebut mencakup pemahaman konsep secara mendalam, kemampuan menjelaskan kembali materi dengan bahasa sendiri, menganalisis persoalan, mengevaluasi informasi, hingga menghasilkan solusi dan gagasan kreatif.

“Guru harus mampu menjadi fasilitator yang membimbing peserta didik agar memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan mampu memecahkan persoalan dalam kehidupan nyata,” demikian pokok pemaparan yang disampaikan dalam webinar tersebut.

Menurut Dr. Endun, keberadaan guru yang berdampak dapat dilihat dari sejumlah indikator. Di antaranya meningkatnya kemampuan literasi dan numerasi peserta didik, terbentuknya karakter yang kuat, integritas terhadap profesi, komitmen dalam menjalankan tugas, serta lahirnya karya nyata yang dapat menjadi warisan positif bagi dunia pendidikan dan masyarakat.

Dengan demikian, keberhasilan seorang guru tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak materi yang disampaikan di ruang kelas. Lebih jauh, guru dinilai dari perubahan dan dampak yang mampu dihadirkan dalam kehidupan peserta didiknya.

Ia juga mengingatkan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Keberhasilan belajar dan pembentukan karakter anak membutuhkan keterlibatan keluarga dan lingkungan masyarakat.

Keluarga, lanjutnya, merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Karena itu, komunikasi dan kolaborasi antara sekolah dengan orang tua perlu terus diperkuat. Pembinaan karakter, literasi, dan numerasi tidak akan berjalan optimal jika hanya dilakukan di sekolah tanpa dukungan dari lingkungan keluarga.

Pandangan tersebut sejalan dengan konsep Tri Pusat Pendidikan, yakni sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam mendukung tumbuh kembang peserta didik.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Dr. Elon Carlan, menyoroti sejumlah karakter yang harus dimiliki guru agar mampu memberikan dampak positif di tengah perubahan zaman.

Menurutnya, guru masa kini perlu memiliki jiwa entrepreneur, yakni kreatif dan inovatif dalam mengembangkan pembelajaran. Guru juga dituntut adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta perubahan kebutuhan peserta didik.

Selain itu, konsistensi dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab menjadi hal penting. Guru harus mampu menunjukkan sikap yang dapat menjadi teladan bagi peserta didik, baik dalam kedisiplinan, integritas maupun etika.

Penguasaan teknologi juga menjadi salah satu kemampuan yang tidak dapat diabaikan. Teknologi, kata dia, harus dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran agar lebih inovatif, interaktif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Namun, di atas semua kemampuan tersebut, keteladanan tetap menjadi kunci utama.

Teori, menurut Dr. Elon Carlan, merupakan sistem pendukung dalam proses pembelajaran. Akan tetapi, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas teori yang dikuasai seorang guru.

Sikap dan perilaku guru justru memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter peserta didik. Guru yang mampu memberikan contoh melalui kedisiplinan, integritas, etika, dan tanggung jawab akan lebih mudah menanamkan nilai-nilai karakter dibandingkan sekadar menyampaikannya melalui teori.

Guru, dengan demikian, harus mampu menjadi sosok yang digugu lan ditiru—dipercaya dan layak dijadikan teladan.

Webinar tersebut menegaskan bahwa menghadapi tantangan pendidikan menuju 2045 membutuhkan guru yang terus belajar, mampu beradaptasi, melek teknologi, kreatif, konsisten, serta memiliki keteladanan. Sebab, masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan teknologi, tetapi juga oleh kualitas manusia yang berada di balik proses pendidikan itu sendiri.

Di tengah krisis literasi, numerasi, dan karakter, guru berdampak bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup