Robot dan AI Diterjunkan ke Sawah, Petani Kini Tinggal Pegang Remote!

KUNINGANSTAU.COM – Pemandangan petani berjalan di belakang traktor saat mengolah sawah tampaknya perlahan akan menjadi cerita lama. Di Kabupaten Kuningan, teknologi pertanian berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai diperkenalkan untuk membantu pekerjaan petani, mulai dari traktor yang dapat dikendalikan dari jarak jauh hingga robot pendeteksi penyakit tanaman.

Inovasi tersebut hadir melalui kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Kuningan dan IPB University dalam pengembangan serta hilirisasi teknologi pertanian cerdas yang diproyeksikan menjadi bagian dari masa depan sektor pertanian Indonesia.

Kerja sama yang melibatkan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan bersama Tim Riset IPB University itu diarahkan untuk mempercepat transformasi menuju pertanian modern atau smart agriculture. Selain meningkatkan produktivitas, teknologi ini juga diharapkan mampu menjawab persoalan berkurangnya tenaga kerja pertanian serta mendorong minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.

Tim riset IPB University dipimpin oleh Dr. Ridwan Siskandar bersama para peneliti dan pengembang teknologi yang selama ini fokus mengembangkan berbagai inovasi pertanian berbasis kecerdasan buatan.

Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah AI-TRAC (Artificial Intelligence Tractor Retrofit Autonomous Control). Teknologi ini memungkinkan traktor tangan roda dua konvensional diubah menjadi traktor pintar yang dapat dioperasikan melalui kendali jarak jauh (remote control) maupun berjalan secara otomatis menggunakan sistem otonom.

Dengan sistem tersebut, operator tidak lagi harus terus berada di belakang traktor selama proses pengolahan lahan berlangsung. Pengawasan cukup dilakukan melalui perangkat kendali yang telah terhubung dengan sistem kecerdasan buatan.

Teknologi AI-TRAC dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi kerja, mengurangi beban operator, meningkatkan keselamatan kerja, sekaligus mendukung penerapan pertanian presisi yang semakin dibutuhkan dalam sistem produksi pangan modern.

Tak hanya menghadirkan traktor pintar, IPB University juga memperkenalkan ANTRAC, robot cerdas berbasis AI dan teknologi deep learning yang dirancang untuk mendeteksi penyakit antraknosa pada tanaman cabai atau yang lebih dikenal petani sebagai penyakit patek.

Melalui teknologi pengenalan citra (image recognition), ANTRAC mampu mengenali gejala awal penyakit secara lebih cepat dan akurat dibandingkan pengamatan visual biasa. Deteksi dini ini memungkinkan petani mengambil langkah pengendalian lebih cepat sebelum serangan penyakit meluas dan menyebabkan kerugian yang lebih besar.

Ketua Tim Riset AI-TRAC dan ANTRAC IPB University, Dr. Ridwan Siskandar, menegaskan bahwa masa depan pertanian Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan menghadirkan teknologi yang mudah diakses dan dimanfaatkan langsung oleh petani.

“Hilirisasi inovasi menjadi kunci. Riset tidak boleh berhenti di laboratorium atau menjadi laporan akademik semata. Teknologi harus hadir di tengah petani, menjawab persoalan nyata, dan menciptakan nilai tambah ekonomi. Untuk itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, penyuluh, dan petani menjadi sangat penting,” ujarnya, Jum’at (5/6/2026).

Menurut Ridwan, kecerdasan buatan bukan hanya dapat meningkatkan efisiensi mekanisasi pertanian, tetapi juga memperkuat sistem perlindungan tanaman melalui kemampuan deteksi dini berbagai penyakit.

“Dengan dukungan AI, petani dapat mengambil keputusan lebih cepat, lebih tepat, dan berbasis data. Inilah arah pertanian modern yang sedang kita bangun bersama,” katanya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., menilai teknologi AI-TRAC dan ANTRAC sejalan dengan arah pembangunan pertanian daerah yang mengedepankan modernisasi, efisiensi, dan peningkatan daya saing petani.

“Pemerintah Kabupaten Kuningan memandang AI-TRAC dan ANTRAC sebagai instrumen penting dalam transformasi menuju pertanian presisi yang adaptif terhadap tantangan zaman. Inovasi ini tidak hanya menjawab kebutuhan peningkatan produktivitas dan efisiensi, tetapi juga menjadi solusi atas keterbatasan tenaga kerja pertanian serta tantangan regenerasi petani,” ungkapnya.

Menurut Wahyu, modernisasi pertanian menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda apabila sektor pertanian ingin tetap menjadi penggerak ekonomi daerah sekaligus penopang ketahanan pangan.

“Jika kita ingin generasi muda kembali tertarik ke sektor pertanian, maka pertanian harus tampil modern. Anak-anak muda hari ini tumbuh bersama teknologi digital. Karena itu, pertanian juga harus bertransformasi menjadi sektor yang modern, berbasis inovasi, dan mampu memberikan nilai ekonomi yang menjanjikan,” ujarnya.

Ia menilai kehadiran AI-TRAC dan ANTRAC menjadi bukti bahwa teknologi mampu membantu petani bekerja lebih efisien sekaligus mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

“Jika AI-TRAC membantu petani dalam pengolahan lahan, maka ANTRAC membantu petani menjaga kesehatan tanaman. Keduanya merupakan contoh nyata bagaimana inovasi dan kecerdasan buatan dapat dihadirkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi petani di lapangan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Wahyu memastikan Pemkab Kuningan siap mendukung proses hilirisasi teknologi tersebut melalui penguatan kapasitas penyuluh pertanian, pengembangan kelembagaan petani, integrasi dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, hingga dukungan implementasi di lapangan.

“Kami ingin memastikan bahwa inovasi ini tidak berhenti sebagai prototipe atau proyek riset semata. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan oleh petani, meningkatkan produktivitas usaha tani, menekan biaya produksi, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Sebagai bentuk komitmen bersama, pada akhir kegiatan dilakukan penandatanganan dokumen penyelesaian bottleneck antara Tim Riset IPB University dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan. Dokumen tersebut menjadi landasan percepatan implementasi teknologi melalui pembagian peran yang jelas serta mitigasi berbagai hambatan yang mungkin muncul di lapangan.

Masuknya robot dan kecerdasan buatan ke area persawahan menunjukkan bahwa transformasi pertanian bukan lagi sekadar wacana. Melalui kolaborasi dengan IPB University, Kabupaten Kuningan mulai mempersiapkan diri menyambut era baru pertanian modern, ketika teknologi digital, robotika, dan kecerdasan buatan menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas dan ketahanan pangan.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup