Retreat Makin Ngetren, Setelah Kades Kini Kepsek

KUNINGANSATU.COM – Setelah sebelumnya menggelar retret bagi kepala desa, Pemerintah Kabupaten Kuningan kini memperluas pola pembinaan kepemimpinan ke sektor pendidikan. Sebanyak 77 kepala sekolah SMP se-Kabupaten Kuningan mengikuti Retreat Jabatan Kepala Sekolah SMP Tahun 2026 di Kebun Raya Kuningan (KRK), Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Jumat (21/8/2026).

Kegiatan tersebut dibuka Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. Hadir pula Sekda Kuningan U. Kusmana, S.Sos., M.Si., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Elon Carlan, S.Pd., M.Pd., Camat Pasawahan Asep Dudi Riadi, S.E., M.Si., Pasiops Kodim 0615/Kuningan Kapten Kav. Sutardi, serta para pembina dan pelatih.

Dalam sambutannya, Dian tidak mengawali pembicaraan dengan target maupun angka capaian pendidikan. Ia justru mengajak para kepala sekolah melihat kembali tujuan utama dari keberadaan sekolah.

“Apa sebenarnya yang sedang kita bangun ketika kita membangun sebuah sekolah? Apakah kita sedang membangun gedung, apakah kita sedang membangun prestasi, atau sebenarnya kita sedang membangun manusia?” ujar Dian.

Menurutnya, jawaban atas pertanyaan tersebut harus menjadi dasar bagi setiap kepala sekolah dalam menjalankan kepemimpinannya.

“Bagi saya jawabannya adalah yang terakhir. Kita sedang membangun manusia,” tegasnya.

Dian mengatakan gedung sekolah dapat direnovasi, kurikulum dapat berubah, dan teknologi pendidikan terus berkembang. Namun, manusia yang dibentuk melalui pendidikan akan menentukan wajah Kabupaten Kuningan dalam jangka panjang.

Karena itu, pendidikan tidak bisa dipandang hanya sebagai urusan sekolah. Pendidikan, kata Dian, berkaitan dengan berbagai persoalan pembangunan daerah, mulai dari kemiskinan, kualitas tenaga kerja, karakter masyarakat hingga daya saing daerah.

“Ketika kita berbicara tentang pendidikan dalam RPJMD Kabupaten Kuningan 2025–2029, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang masa depan Kuningan,” katanya.

Dian juga mengingatkan masih adanya pekerjaan rumah dalam sektor pendidikan. Rata-rata lama sekolah Kabupaten Kuningan pada 2024 tercatat 7,9 tahun dan ditargetkan meningkat menjadi 9,7 tahun pada 2029. Sementara harapan lama sekolah ditargetkan meningkat dari 12,27 tahun menjadi 12,60 tahun.

Target tersebut membutuhkan kepemimpinan sekolah yang mampu menerjemahkan kebijakan pemerintah menjadi perubahan nyata di lingkungan pendidikan.

Dian menempatkan kepala sekolah sebagai sosok strategis dalam proses tersebut. Kepala sekolah, menurutnya, bukan hanya pengelola administrasi, tetapi memiliki peran dalam membentuk karakter dan budaya sekolah.

“Kepala sekolah bukan sekadar orang yang mengelola administrasi sekolah. Kepala sekolah adalah arsitek budaya sekolah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, budaya disiplin akan tumbuh ketika kepala sekolah membangunnya. Begitu pula budaya belajar dan saling menghargai. Keteladanan dan keberanian kepala sekolah melakukan perubahan akan menentukan arah perkembangan sekolah.

“Kalau kepala sekolah berani melakukan perubahan, sekolah akan bergerak,” kata Dian.

Selain kepemimpinan, Dian meminta sekolah memastikan anak mendapatkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang bagi anak untuk bertanya, berbeda, menemukan bakat, sekaligus mengenali dirinya sendiri.

Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya dilihat dari berapa banyak anak yang bersekolah. Yang lebih penting, kata Dian, adalah melihat apa yang dialami anak selama menjalani proses pendidikan.

Retreat ini diharapkan menjadi ruang refleksi dan evaluasi bagi para kepala sekolah sekaligus menyamakan persepsi dalam memperkuat kemampuan manajerial dan kepemimpinan untuk menjalankan visi dan misi pendidikan di Kabupaten Kuningan.

Setelah kepala desa mendapatkan pembinaan melalui retreat dalam konteks kepemimpinan pemerintahan desa, kini kepala sekolah mendapatkan ruang serupa untuk memperkuat kepemimpinan pendidikan. Pesannya sama yakni pemimpin tidak cukup hanya menjalankan rutinitas, tetapi harus mampu menggerakkan perubahan di lingkungan yang dipimpinnya.

“Pendidikan bagi kita bukan sekadar urusan sekolah. Pendidikan adalah bagian dari strategi pembangunan daerah,” pungkas Dian.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup