Plastik “Naik Kasta”, UMKM hingga Petani di Kuningan Mulai Menjerit

KUNINGANSATU.COM – Gejolak perang di Timur Tengah yang mengganggu pasokan minyak dan bahan baku petrokimia dunia kini mulai terasa hingga ke denyut ekonomi rakyat di Kabupaten Kuningan. Tersendatnya distribusi nafta, bahan baku utama plastik yang selama ini banyak dipasok dari kawasan Timur Tengah melalui jalur Selat Hormuz, memicu lonjakan harga plastik di pasar domestik sejak akhir Maret 2026. Kenaikan itu bukan lagi sekadar isu industri besar, melainkan sudah merembet ke warung kecil, pedagang mainan, hingga penjual bakso di kampung-kampung.
Di lapangan, para pelaku usaha kecil mulai dipaksa menghitung ulang modal harian. Plastik yang sebelumnya dianggap kebutuhan sepele untuk bungkus atau kantong belanja kini berubah menjadi komponen biaya yang cukup menguras keuntungan.
Keluhan pertama datang dari Shintia, pedagang mainan anak serba Rp10.000 “Cebanan Toys” di Kecamatan Kuningan. Dengan gaya satire yang mengundang senyum pahit, ia menyebut harga plastik saat ini telah resmi “naik kasta”.
“Per 31 Maret 2026, harga plastik resmi naik kasta jadi barang mewah. Buat pejuang UMKM, buruan hitung ulang HPP biar ini plastik gak jadi stock split di dompet,” ujar Shintia saat ditemui di lapak dagangannya di Desa Kasturi, Sabtu (4/4/2026).
Bagi usaha serba murah seperti miliknya, kenaikan kecil pada harga plastik langsung terasa besar. Hampir setiap pembeli membutuhkan kantong, sementara harga jual barang tetap dipatok Rp10 ribu.
“Kalau sebelumnya masih bisa kasih plastik tanpa banyak hitungan, sekarang harus benar-benar diperhitungkan. Soalnya jualan saya serba Rp10 ribu, jadi selisih kecil pun sangat terasa,” lanjutnya.
Di tempat berbeda, dari sektor warung dan kebutuhan pertanian, tekanan yang sama dirasakan Lisna, pemilik salah satu warung di Desa Sagarahiang Kecamatan Kadugede. Menurutnya, lonjakan harga plastik kini terasa dua kali lipat karena bukan hanya dipakai untuk pelanggan warung, tetapi juga untuk kebutuhan petani di sekitar tempat tinggalnya.
“Saya belanja plastik biasanya paling gede habis Rp500 ribu itu dapat banyak, sekarang cuma sedikit, hampir belanja Rp1 juta,” kata Lisna.
Kenaikan paling tajam, lanjut dia, justru terjadi pada plastik untuk penutup lahan pertanian atau mulsa yang banyak dipakai petani sayuran di wilayahnya.
“Terus itu plastik untuk menutup lahan petani biasa Rp570 ribu per gulung, sekarang Rp750 ribu,” ujarnya.
Lonjakan itu membuat biaya tanam petani ikut membengkak. Di wilayah pertanian seperti Kuningan, kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan ongkos produksi dan berimbas pada harga hasil panen beberapa bulan ke depan.
Sementara itu, dari sektor kuliner rakyat, Uud, pedagang bakso MM Lestari di Desa Kedungarum, mengaku tekanan tidak hanya datang dari plastik bungkus, tetapi juga dari harga bahan baku pasar yang naik setelah Lebaran.
“Dari Lebaran teh harganya disamain sama warung Garawangi, bingung bahan-bahan di pasar pada naik,” kata Uud.
Meski berusaha menjaga pelanggan agar tidak lari, ia mengaku beberapa menu terpaksa mengalami penyesuaian.
“Kalau mie ayam masih tetap Rp10 ribu, mie ayam bakso Rp15 ribu. Bakso sekarang Rp14 ribu, biasanya Rp12 ribu,” jelasnya.
Menurut Uud, kenaikan harga mie, daging, bumbu, dan plastik bungkus membuat pedagang kecil berada dalam posisi serba sulit: harga harus dijaga tetap ramah kantong, tetapi modal terus naik dari hari ke hari.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana konflik global kini benar-benar menyentuh ekonomi paling bawah. Dari kantong plastik mainan anak, bungkus warung, mulsa lahan petani, hingga semangkuk bakso di pinggir jalan, semuanya ikut terdampak.
Jika kondisi pasokan bahan baku dunia belum pulih, pelaku UMKM dan petani di Kabupaten Kuningan khawatir gelombang kenaikan harga akan terus berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.***


















