Camat Yono Rahmansah: Penataan PKL Ramadan di Alun-alun Cigugur Demi Kenyamanan Bersama
KUNINGANSATU.COM,- Aktivitas Pedagang Kaki Lima (PKL) yang marak setiap bulan Ramadan di depan Alun-alun Kelurahan Cigugur, Kecamatan Cigugur, akhirnya ditata ulang. Langkah ini dilakukan setelah adanya keluhan masyarakat terkait kemacetan dan potensi risiko kecelakaan di kawasan tersebut.
Hal itu disampaikan Camat Cigugur, Yono Rahmansah, saat ditemui di Alun-alun Cigugur, Sabtu (21/2/26).
Menurutnya, penataan bermula dari aduan warga yang masuk melalui akun media sosial resmi Kecamatan Cigugur pada hari pertama Ramadan.
“Kami menerima komplain dari masyarakat tentang keberadaan PKL yang berjualan di pinggir jalan depan Alun-alun Kelurahan Cigugur. Di situ cukup mengganggu lalu lintas, ada risiko keamanan dan kemacetan,” ujar Yono.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Yono langsung menginstruksikan Lurah Cigugur untuk melakukan penertiban. Aparat kelurahan bersama Linmas kemudian mengarahkan para pedagang untuk berpindah lokasi ke area dalam Alun-alun Cigugur.
Langkah itu, kata dia, dilakukan agar aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan ketertiban umum.
“Alhamdulillah, Pak Lurah bergerak cepat. Para pedagang diarahkan berjualan di dalam alun-alun. Sekarang lebih tertata. Yang jualan nyaman, pembeli juga nyaman, anak-anak bisa sambil bermain,” jelasnya.
Yono memperkirakan jumlah pedagang yang dialihkan mencapai lebih dari 20 orang, bahkan bisa mendekati 30 pedagang. Tidak hanya dari Kelurahan Cigugur, sejumlah pedagang dari luar wilayah kelurahan juga ikut berjualan di lokasi tersebut.
“Kurang lebih 20 sampai 30 pedagang. Kami mengakomodir juga yang dari luar Kelurahan Cigugur. Silakan berjualan, asal tertib dan mengikuti aturan, termasuk soal kebersihan dan sampah,” tegasnya.
Ia menekankan, penataan bukan untuk membatasi ruang usaha, melainkan menciptakan situasi yang lebih aman dan tertib selama Ramadan.
Saat ditanya apakah pola penataan serupa akan diterapkan di kelurahan lain di wilayah Kecamatan Cigugur, Yono menyebut hal itu bergantung pada kondisi masing-masing wilayah, terutama yang berada di jalur jalan provinsi maupun jalan kabupaten.
Ia mencontohkan, sebelumnya Kelurahan Sugamulya juga pernah mengarahkan pedagang takjil berjualan di depan masjid yang berada di jalur cepat.
“Wilayah yang berada di jalur provinsi atau kabupaten memang biasanya banyak aktivitas ekonomi. Itu yang perlu kita tertibkan agar tidak mengganggu arus lalu lintas,” katanya.
Menariknya, respons pedagang terhadap kebijakan ini dinilai cukup positif. Yono mengungkapkan, sebagian pedagang mengaku omzet mereka justru meningkat setelah berjualan di dalam alun-alun.
“Respon pedagang antusias. Bahkan ada yang menyampaikan omzetnya naik. Karena suasananya lebih nyaman, pembeli tidak khawatir soal kendaraan lewat atau risiko anak-anak menyeberang tiba-tiba,” ungkapnya.
Dengan penataan tersebut, Pemerintah Kecamatan Cigugur berharap aktivitas jual beli takjil selama Ramadan tetap hidup, namun tetap memperhatikan aspek keselamatan, ketertiban, dan kebersihan.
“Intinya kita ingin semua nyaman. Pedagang bisa mencari rezeki, masyarakat aman dan tertib,” pungkasnya.















