Mengenal Kode pada Ompreng MBG: SUS 304 vs SUS 201, Mana yang Aman untuk Anak?
KUNINGANSATU.COM,- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini tengah menjadi sorotan publik, bukan hanya karena skala pelaksanaannya yang masif, tetapi juga terkait dengan spesifikasi wadah makan (ompreng) yang digunakan oleh jutaan siswa di seluruh Indonesia. Salah satu aspek penting yang kini ramai dibicarakan adalah kode SUS yang tercantum pada material ompreng, seperti SUS 304 dan SUS 201. Kode tersebut bukan sekadar angka, melainkan penanda jenis dan kualitas baja tahan karat (stainless steel) yang digunakan dalam produksi ompreng. Pemahaman terhadap kode ini menjadi krusial, terutama untuk menjamin keamanan pangan dan kesehatan anak-anak penerima program MBG.
Perbedaan SUS 304 dan SUS 201Dilansir dari Tempo.co, anggota Asosiasi Produsen Wadah Makanan Indonesia (Apmaki), Agus, menyebut sebagian ompreng impor untuk program MBG diduga berasal dari Cina dan diproduksi menggunakan material SUS 201, bukan SUS 304 seperti standar Badan Gizi Nasional (BGN).

Padahal, SUS 304 dikenal sebagai material food grade dengan ketahanan tinggi terhadap karat dan aman digunakan untuk peralatan makan. Sebaliknya, SUS 201 umumnya dipakai untuk produk industri non-pangan seperti pagar atau pipa dekoratif.
“Jangan sampai anak yang ingin sehat, malah jadi racun,” ujar Agus, memperingatkan potensi bahaya penggunaan material mudah berkarat pada perlengkapan makan.
SUS 304: Standar Food Grade untuk Program MBG
Mengacu pada repository Universitas Islam Riau (repository.uir.ac.id), SUS 304 merupakan jenis austenitic stainless steel yang memiliki komposisi:
Karbon: 0,042%
Mangan: 2%
Fosfor: 0,034%
Sulfur: 0,015%
Silikon: 0,049%
Kromium: 18-19,5%
Nikel: 8-10,5%
Nitrogen: 0,1%
Besi: sisanya
Kandungan kromium dan nikel tinggi menjadikan SUS 304 sangat tahan terhadap korosi, oksidasi, serta aman untuk kontak langsung dengan makanan. Material ini lazim digunakan dalam industri makanan, kimia, dan farmasi karena sifatnya yang higienis dan stabil terhadap panas maupun asam makanan.
Berdasarkan standar BGN, ompreng MBG berbahan SUS 304 memiliki ketebalan 0,6 milimeter dan terdiri atas lima sekat untuk memisahkan lauk, sayur, dan karbohidrat. Dimensinya berukuran 28 x 22 x 6 cm, disesuaikan dengan kebutuhan gizi harian siswa.
SUS 201: Alternatif Murah, tapi Kurang Tahan Karat
Sementara itu, mengacu pada repository SMAK St. Louis 1 Surabaya (repository.smakstlouis1sby.sch.id), SUS 201 memiliki komposisi:
Karbon: 0-0,15%
Mangan: 5,5-7,5%
Fosfor: 0-0,06%
Sulfur: 0-0,03%
Silikon: 0-1%
Kromium: 16-18%
Nikel: 3,5-5,5%
Nitrogen: 0-0,25%
Kandungan kromium dan nikel yang lebih rendah membuat SUS 201 lebih rentan terhadap korosi dibanding SUS 304. Material ini lebih ekonomis dan sering digunakan untuk produk non-food grade, seperti pipa dekoratif, rangka, dan pagar jalan.Menurut situs teknik Everich.com, permukaan SUS 201 cenderung lebih gelap karena kandungan mangan tinggi. Walaupun sekilas mirip dengan SUS 304, perbedaan kualitasnya baru dapat diketahui melalui uji laboratorium. Karena itu, material ini tidak direkomendasikan untuk peralatan makan anak-anak tanpa lapisan pelindung tambahan.

Edukasi Publik dan Pengawasan Material MBG
Polemik ini menunjukkan pentingnya edukasi publik tentang kode SUS. Masyarakat, terutama pengelola dapur dan satuan pendidikan penerima program MBG, perlu memahami perbedaan antara SUS 304 (food grade) dan SUS 201 (non-food grade) agar tidak salah memilih peralatan makan.
Pemerintah melalui BGN diharapkan memperketat pengawasan dan verifikasi spesifikasi teknis seluruh perlengkapan MBG agar selaras dengan tujuan utama program yakni menyajikan makanan bergizi yang aman dan sehat bagi anak-anak Indonesia.***
















