Serentak di 5 Desa, KKN Kolaboratif Angkut 270 Trash Bag Sampah

KUNINGANSATU.COM,- Persoalan sampah di lingkungan pedesaan menjadi perhatian mahasiswa KKN Kolaboratif Kabupaten Kuningan Tahun 2026. Melalui Aksi Pandawara KKN Kolaboratif, lima kelompok mahasiswa menggelar aksi bersih-bersih secara serentak di lima desa pada Minggu (9/8/2026).

Kegiatan tersebut menyasar sejumlah titik yang ditemukan masih terdapat tumpukan sampah, terutama di sekitar pinggiran sungai dan saluran air.

Lima desa yang menjadi lokasi aksi yakni Desa Pakembangan, Desa Kutakembaran, Desa Gewok, Desa Cirukem, dan Desa Kadatuan, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan.

Koordinator Tim Aksi Pandawara KKN Kolaboratif Kabupaten Kuningan Tahun 2026, Wahid Aropi, mengatakan kegiatan tersebut berawal dari kepedulian mahasiswa terhadap kondisi lingkungan di desa-desa lokasi KKN.

Menurutnya, persoalan sampah menjadi salah satu permasalahan yang ditemukan secara hampir bersamaan di lima desa tersebut.

“Tujuan acara ini diselenggarakan untuk meningkatkan kesadaran, terutama kepada teman-teman mahasiswa KKN. Di lima desa tersebut kami menemukan permasalahan yang sama, yaitu persoalan sampah,” ujar Wahid.

Ia menjelaskan, mahasiswa menemukan sampah yang berserakan di sejumlah titik, termasuk kawasan sekitar sungai dan selokan. Kondisi tersebut kemudian mendorong mahasiswa untuk melakukan aksi langsung dengan membersihkan lokasi yang dinilai membutuhkan perhatian.

“Karena itu kami melakukan aksi bersih-bersih di lokasi yang memang sudah banyak sampah, seperti di pinggiran sungai dan selokan,” katanya.

Aksi dilakukan secara serentak oleh masing-masing kelompok KKN sesuai dengan lokasi penempatan. Selain membersihkan lingkungan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

Hasilnya, mahasiswa dari lima kelompok tersebut berhasil mengumpulkan sebanyak 270 trash bag sampah dari berbagai titik lokasi.

Jumlah tersebut terdiri dari 57 trash bag di Desa Pakembangan yang dikumpulkan dari tiga titik, 63 trash bag di Desa Kutakembaran dari dua titik, 58 trash bag di Desa Gewok dari dua titik, 10 trash bag di Desa Cirukem dari satu titik, serta 85 trash bag di Desa Kadatuan dari tiga titik.

Wahid menyebut jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan menjadi gambaran bahwa persoalan kebersihan lingkungan masih membutuhkan perhatian bersama.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti setelah pelaksanaan KKN selesai. Menurutnya, upaya menjaga kebersihan lingkungan perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan mahasiswa, masyarakat, pemerintah desa, serta berbagai unsur lainnya.

“Kami mengajak masyarakat di lima desa tersebut untuk sama-sama menjaga lingkungan, terutama dalam hal sampah. Mari membuang sampah pada tempat yang telah disediakan oleh pemerintah desa dan tidak lagi membuang sampah ke sungai,” tuturnya.

Selain mengganggu kebersihan dan kenyamanan lingkungan, sampah yang dibuang ke sungai maupun saluran air juga dapat menghambat aliran air. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan, terutama ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

Melalui Aksi Pandawara, mahasiswa KKN Kolaboratif berupaya menjadikan kegiatan kebersihan sebagai bagian dari edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Gerakan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa menjaga lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Bagi mahasiswa, aksi bersih-bersih tersebut bukan sekadar kegiatan tambahan selama menjalankan KKN. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi awal dari kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan secara bersama-sama setelah program KKN berakhir.

Dengan terkumpulnya 270 trash bag dari lima desa, Aksi Pandawara KKN Kolaboratif menjadi salah satu langkah nyata mahasiswa dalam merespons persoalan lingkungan yang mereka temukan di lapangan.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup