IMM Kuningan Soroti Gejala New Orba dalam Pembungkaman Kritik

KUNINGANSATU.COM, – Upaya sistematis untuk membungkam pihak-pihak yang berani mengungkap kebenaran kini semakin nyata dan tidak lagi terselubung. Mahasiswa, aktivis, warga, dan elemen masyarakat sipil yang menyuarakan fakta justru kerap menjadi sasaran tekanan, intimidasi, dan delegitimasi, hanya karena berani membuka persoalan yang semestinya dipertanggung jawabkan secara terbuka. Hal tersebut di sampaikan oleh Ketua PC IMM Kabupaten Kuningan, Renis Amarulloh, Minggu (4/1/26).
Ia menilai Pola semacam ini bukanlah kebetulan, melainkan pengulangan sejarah dalam bentuk baru. Watak lama Orde Baru kembali hadir dengan kemasan berbeda. Jika pada masa lalu kritik dibungkam atas nama keamanan negara, hari ini kebenaran ditekan dengan dalih stabilitas, citra institusi, dan kepentingan kekuasaan. Fenomena inilah yang patut disebut sebagai New Orba.
Ia menegaskan bahwa pembungkaman terhadap pengungkap kebenaran merupakan bentuk kekerasan politik yang paling halus, namun sekaligus paling berbahaya.
“Ketika orang-orang yang menyampaikan fakta justru ditekan, disudutkan, dan dicurigai, maka yang sedang dibangun bukanlah ketertiban, melainkan budaya takut. Dan ketakutan adalah fondasi utama rezim otoriter,” tegas Renis.
Alih-alih menjawab substansi persoalan yang diungkap, sebagian pihak justru memilih jalan pintas dengan menyerang pembawa kebenaran. Niat dipersoalkan, motif diragukan, dan legitimasi dipatahkan. Cara semacam ini menunjukkan satu hal yang jelas: ketidakmampuan menghadapi fakta sekaligus keengganan untuk bertanggung jawab.
Dalih menjaga stabilitas dan kehormatan institusi tidak dapat dijadikan pembenaran untuk membungkam kebenaran. Sejarah Orde Baru telah membuktikan bahwa stabilitas yang dibangun di atas kebohongan dan pembungkaman hanya melahirkan kepatuhan semu, bukan keadilan yang berkelanjutan.
“Inilah ciri New Orba: kebenaran tidak dipatahkan dengan argumen, tetapi ditekan dengan kekuasaan; kritik tidak dijawab, melainkan dibuat lelah dan takut,” ujarnya.
IMM Kuningan menilai bahwa pembungkaman terhadap pengungkap kebenaran merupakan alarm keras bagi demokrasi. Ketika ruang kritik dipersempit dan keberanian warga dipatahkan, maka penyalahgunaan kekuasaan berpotensi tumbuh tanpa pengawasan, sementara pelanggaran dianggap sebagai sesuatu yang lumrah.
Sebagai gerakan mahasiswa Islam yang berpijak pada nilai moral dan intelektual, IMM Kuningan menyatakan sikap tegas untuk berdiri bersama siapa pun yang berani menyuarakan kebenaran demi kepentingan publik. Bagi IMM, kritik dan pengungkapan fakta bukan ancaman bagi negara, melainkan prasyarat mutlak bagi keadilan dan kemanusiaan.
“Orde Baru runtuh bukan karena terlalu banyak kritik, tetapi karena kebenaran terlalu lama dibungkam. Jika praktik ini terus dinormalisasi, maka New Orba bukan sekadar peringatan, melainkan kenyataan yang sedang kita biarkan tumbuh,” pungkas Renis.


















