Dari Tiongkok ke Indonesia, Transformasi Gaple Jadi Mind Sport Penghapus Stigma Judi

KUNINGANSATU.COM – Domino atau yang dikenal luas di Indonesia sebagai gaple memiliki perjalanan sejarah panjang yang berawal dari Tiongkok kuno sekitar abad ke-12 dengan nama gupai. Permainan ini awalnya berkembang sebagai media hiburan berbasis ubin yang menekankan pola, perhitungan, dan strategi sederhana dalam bentuk interaksi sosial masyarakat.

Dari Tiongkok, domino kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia melalui jalur perdagangan, hingga masuk ke Eropa pada abad ke-18. Di Italia, Prancis, dan Inggris, permainan ini mengalami standardisasi aturan dan berkembang di kalangan bangsawan sebelum akhirnya menjadi permainan rakyat yang dikenal luas di berbagai negara.

Di Indonesia, domino kemudian bertransformasi menjadi gaple dan tumbuh sebagai bagian dari budaya sosial masyarakat. Permainan ini hadir di berbagai ruang interaksi seperti warung kopi, pos ronda, hingga kegiatan komunitas. Namun dalam perkembangan sosialnya, domino kerap mengalami stigma negatif karena dalam praktik tertentu sering disalahgunakan sebagai media perjudian informal di beberapa lingkungan.

Stigma inilah yang kemudian menjadi salah satu tantangan utama dalam perjalanan domino di Indonesia. Meski pada dasarnya merupakan permainan strategi, persepsi publik sering kali mengaitkan domino dengan aktivitas taruhan, sehingga menimbulkan citra negatif yang melekat cukup lama di sebagian masyarakat.

Dalam beberapa tahun terakhir, upaya sistematis dilakukan untuk mengubah persepsi tersebut melalui formalisasi domino sebagai olahraga pikiran (mind sport). Salah satu langkah penting adalah hadirnya organisasi seperti Perkumpulan Olahraga Domino Indonesia (PORDI) yang berupaya menata ulang domino sebagai cabang olahraga berbasis strategi, konsentrasi, dan kecerdasan berpikir.

Selain itu, dukungan dari struktur keolahragaan nasional seperti Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) di berbagai daerah turut memperkuat posisi domino sebagai olahraga resmi yang memiliki sistem pembinaan dan kompetisi. Dengan demikian, domino tidak lagi hanya dipandang sebagai permainan santai, tetapi juga sebagai cabang olahraga yang dapat dipertandingkan secara profesional.

Transformasi ini juga terlihat dari maraknya penyelenggaraan turnamen domino di berbagai daerah di Indonesia. Di Makassar, turnamen domino berskala nasional melibatkan ribuan peserta dari berbagai provinsi, menunjukkan bahwa permainan ini telah memiliki ekosistem kompetisi yang luas dan terorganisir.

Di Kalimantan Selatan, turnamen PORDI Kalsel Cup juga berhasil menarik ratusan pasangan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari luar pulau, yang menandakan meningkatnya minat masyarakat terhadap domino sebagai olahraga kompetitif.

Sementara di Surabaya, Jawa Timur, turnamen domino berskala besar juga digelar dengan melibatkan komunitas lintas daerah. Kegiatan ini memperkuat posisi domino sebagai olahraga yang mulai memiliki struktur kompetisi berjenjang dan sistem pembinaan yang lebih jelas.

Di tengah geliat nasional tersebut, Kabupaten Kuningan juga turut mengambil bagian dalam transformasi ini. Pada Sabtu (18/4/2026), digelar deklarasi pengurus cabang organisasi olahraga domino (ORADO) masa bakti 2026-2030 sekaligus Kejuaraan Cabang (Kejurcab) yang dihadiri langsung oleh Bupati Kuningan bersama berbagai unsur olahraga daerah.

Momentum ini menjadi titik penting dalam upaya mengangkat domino dari sekadar permainan tradisional menuju olahraga yang lebih terstruktur. Bupati Kuningan menegaskan bahwa domino memiliki nilai edukatif yang kuat, terutama dalam hal strategi, kesabaran, ketelitian, dan kemampuan membaca situasi lawan.

Lebih jauh, ia juga menekankan bahwa pengembangan domino sebagai olahraga merupakan bagian dari upaya menghapus stigma negatif yang selama ini melekat di masyarakat.

“Domino itu mengajarkan strategi, kesabaran, dan cara membaca lawan. Ini bukan sekadar permainan, tetapi olahraga pikiran yang harus kita arahkan ke hal positif,” ujarnya.

Upaya transformasi ini juga diharapkan mampu memutus persepsi lama yang mengaitkan domino dengan praktik perjudian. Dengan adanya organisasi resmi, aturan pertandingan yang baku, serta sistem turnamen yang transparan, domino mulai diposisikan sebagai olahraga yang menjunjung tinggi sportivitas dan nilai edukatif.

Pemerintah daerah juga mendorong agar komunitas domino dapat berkembang hingga tingkat desa sebagai wadah aktivitas positif masyarakat. Selain menjadi sarana hiburan sehat, domino diharapkan mampu menjadi ruang interaksi sosial yang membangun solidaritas tanpa unsur taruhan.

Dengan semakin banyaknya turnamen di berbagai daerah seperti Makassar, Banjarmasin, Surabaya, hingga Kuningan, domino kini berada pada fase penting transformasi budaya. Dari permainan rakyat yang sempat terstigma, kini perlahan bergerak menjadi olahraga pikiran yang diakui secara sosial dan kelembagaan.

Perjalanan panjang domino menunjukkan bahwa sebuah permainan dapat berevolusi mengikuti zaman. Dari akar budaya Tiongkok kuno hingga menjadi bagian dari kompetisi modern di Indonesia, domino kini tidak hanya menjadi warisan tradisi, tetapi juga simbol perubahan cara pandang masyarakat terhadap permainan rakyat yang lebih sehat, terstruktur, dan bermartabat.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup