Dari Pelengkap Jadi Pengambil Kebijakan, Sri Laelasari Bicara Masa Depan Politik Perempuan Kuningan
KUNINGANSATU.COM – Dinamika politik di Kabupaten Kuningan perlahan mengalami perubahan. Jika dulu perempuan lebih sering ditempatkan sebagai pelengkap dalam panggung demokrasi, kini mereka mulai tampil di garis depan sebagai pengambil kebijakan dan penentu arah politik daerah.
Fenomena itu terlihat dari meningkatnya jumlah perempuan yang duduk di kursi legislatif DPRD Kabupaten Kuningan pada periode saat ini. Dari total 50 anggota dewan, sebanyak 17 di antaranya merupakan perempuan atau mencapai 34 persen, melampaui target keterwakilan perempuan sebesar 30 persen.
Anggota DPRD Kabupaten Kuningan Fraksi Partai Gerindra, Sri Laelasari, menilai capaian tersebut menjadi sinyal bahwa perempuan mulai mendapatkan ruang yang lebih kuat dalam politik lokal.
“Peran perempuan dalam dinamika politik Kabupaten Kuningan mengalami perkembangan yang signifikan. Tidak lagi menjadi pelengkap, tapi mulai tampil sebagai pengambil kebijakan,” ujar Sri saat berbincang dengan kuningansatu.com, Minggu (17/5/2026).
Meski demikian, Sri menilai perjuangan perempuan di dunia politik belum sepenuhnya mudah. Menurutnya, perempuan masih harus menghadapi tantangan yang lebih kompleks dibanding laki-laki, terutama dalam menjalankan peran ganda antara urusan domestik dan aktivitas publik.
“Tantangan terbesar yakni peran ganda menjalankan peran domestik dan peran publik. Tuntutannya lebih kompleks dibanding laki-laki,” katanya.
Tidak hanya itu, perempuan yang masuk dunia politik juga masih harus berhadapan dengan stigma dan keraguan publik terhadap kapasitas kepemimpinan mereka. Sri menyebut, perempuan kerap diuji lebih keras ketika tampil sebagai pemimpin.
“Kepercayaan publik juga masih diuji saat perempuan menjadi pemimpin, kadang masih diragukan dibanding laki-laki,” ucapnya.
Di tengah tingginya biaya politik, Sri juga menyoroti persoalan modal sosial dan finansial yang masih menjadi hambatan bagi perempuan untuk bertarung dalam kontestasi politik.
“Kebutuhan modal menjadi prioritas karena kontestasi politik membutuhkan modal sosial dan finansial yang tinggi,” lanjutnya.
Menurut Sri, keberhasilan perempuan menembus parlemen seharusnya tidak hanya berhenti pada angka statistik semata. Yang paling penting, kata dia, adalah bagaimana perempuan mampu memengaruhi arah kebijakan publik, terutama yang berkaitan dengan isu perempuan dan anak.
“Bukan bicara berapa jumlah di parlemen, tapi bagaimana pengaruh mereka terhadap kebijakan publik,” tegasnya.
Sri juga menilai pendidikan politik bagi perempuan muda harus diperkuat sejak dini. Ia mengatakan, keberanian perempuan untuk tampil di ruang publik menjadi bagian penting dalam melawan budaya patriarki yang selama ini masih melekat di masyarakat.
“Sangat penting terutama generasi muda karena itu sebagai pondasi membangun keberanian, kemampuan, dan kesadaran diri menjadi pemimpin,” ujarnya.
Selain pendidikan politik, ia menekankan pentingnya dukungan keluarga, kaderisasi organisasi dan partai politik, hingga hadirnya figur teladan perempuan agar semakin banyak perempuan berani masuk ke ruang pengambilan keputusan.
Dalam kesempatan itu, Sri turut menyoroti persoalan sosial yang saat ini menjadi perhatian serius, yakni tingginya angka perceraian. Ia menyebut kondisi tersebut berdampak langsung terhadap perlindungan perempuan dan anak.
“Sisi perlindungan perempuan dan anak terutama angka perceraian yang tinggi menjadi perhatian. Lebih memprihatinkan karena banyak perempuan yang mengajukan gugatan perceraian,” katanya.
Menurutnya, negara harus hadir melalui langkah konkret untuk menekan angka perceraian sekaligus memperkuat perlindungan terhadap perempuan dan anak.
Di akhir pernyataannya, Sri mengajak perempuan muda agar tidak takut masuk ke dunia politik. Ia menegaskan politik bukan ruang eksklusif milik laki-laki, melainkan tempat memperjuangkan gagasan, keadilan, dan masa depan masyarakat.
“Perempuan muda jangan pernah ragu masuk ke dunia politik. Jangan hanya menjadi penonton demokrasi, tetapi jadilah bagian dari pengambil keputusan,” pungkasnya.***















