Bukan Sekadar Jual Kopi, Barista Banjar Bidik Relasi dan Kopi Kuningan di Ciremai Coffee Culture
KUNINGANSATU.COM,- Festival kopi bertajuk Ciremai Coffee Culture di Pandapa Paramarta, Kabupaten Kuningan, Jumat (4/9/2026), tak hanya menjadi ruang bagi pelaku usaha kopi lokal untuk memperkenalkan produknya.
Sejumlah pelaku usaha kopi dari luar daerah juga turut hadir. Salah satunya Puba Wal Fakhri, barista dari Silogisme Kopi yang datang dari Kota Banjar.
Puba mengatakan, kehadirannya di Kuningan merupakan bagian dari undangan pelaku UMKM setempat untuk ikut berpartisipasi sekaligus mewakili Kota Banjar dalam festival tersebut.
“Kita dari Banjar itu cuma dua orang, digabung dengan kopi dari Ciamis juga satu orang,” kata Puba saat ditemui di lokasi acara.
Dalam festival tersebut, Silogisme Kopi membawa sejumlah produk, mulai dari roast bean hingga minuman kopi siap konsumsi. Jenis kopi yang ditawarkan terdiri dari robusta dan arabika.
Untuk biji kopinya, Puba menyebut sebagian produk yang dibawa berasal dari kawasan Dayeuhluhur, daerah yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Menurutnya, kopi robusta dari kawasan tersebut memiliki karakter yang cukup kuat atau bold. Karakter tersebut dinilai cocok untuk sejumlah racikan minuman, termasuk es kopi susu.
“Untuk kopi robusta dari pertengahan antara Jawa Tengah sama Jawa Barat itu memang dominan enak, lebih bold untuk es kopi susu,” ujarnya.
Kehadiran Puba di Ciremai Coffee Culture juga menjadi kesempatan untuk mengenal lebih jauh potensi kopi Kuningan.
Ia menilai festival tersebut memberikan ruang bagi pelaku kopi dari berbagai daerah untuk saling bertemu, bertukar pengalaman, sekaligus mengenalkan produk kopi masing-masing.
“Menurut saya acara ini bagus untuk mengenal kopi-kopi lokal Kuningan. Kita juga banyak diundang dari luar kota, termasuk dari Banjar, Ciamis, Pangandaran, dan Cilacap,” katanya.
Bahkan, bukan tidak mungkin kopi asal Kuningan nantinya masuk ke produk yang dikembangkan Silogisma Kopi.
Puba mengaku tertarik mencoba biji kopi Kuningan melalui agenda cupping yang menjadi bagian dari rangkaian festival. Jika karakter kopinya sesuai, ia membuka peluang untuk mengambil biji kopi Kuningan dan memperkenalkannya di Kota Banjar.
“Bisa jadi nanti kita mencoba untuk ngambil kopi biji dari Kuningan untuk kita di-cupping di kota kita sendiri,” ucapnya.
Bagi Pulba, mengikuti festival kopi seperti Ciremai Coffee Culture bukan semata-mata soal menjual produk.
Ada hal lain yang menurutnya jauh lebih penting, yakni membangun relasi dengan sesama pelaku usaha kopi.
Relasi tersebut dinilai dapat membuka peluang kerja sama ketika ada kebutuhan atau kegiatan kopi di luar daerah.
“Kalau untuk nyari, ya sama relasi. Supaya nanti kalau misalkan ada kebutuhan atau event di luar kota, kita bisa berkomunikasi yang enak. Nambah-nambah wawasan juga dari hal yang lain,” tuturnya.
Puba sendiri mengaku sudah mencoba kopi Kuningan. Salah satu yang menurutnya cukup dikenal adalah kopi Cibulakan.
Dari sisi rasa, ia menilai kopi Kuningan memiliki banyak variasi. Sementara untuk harga, menurutnya masih cukup terjangkau dan sepadan dengan kualitas yang ditawarkan.
“Enak sih kalau untuk kopi Kuningan, karena banyak variasinya untuk rasa. Kalau harga affordable, sepadan, enggak terlalu mahal,” katanya.
Meski memiliki potensi, Puba menilai kopi Kuningan perlu memiliki identitas yang kuat agar semakin mudah diterima oleh pengusaha kopi dari luar daerah.
Menurutnya, karakter atau ciri khas menjadi salah satu hal penting yang harus dimiliki kopi Kuningan. Selain itu, penguatan branding juga diperlukan agar produk kopi daerah lebih mudah dikenal.
“Mungkin harus ada ciri khas tersendiri dari kopi Kuningan tersebut, sama lebih ke branding-nya memang bagus,” ujarnya.
Ciremai Coffee Culture pun akhirnya tidak hanya menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli kopi. Festival tersebut membuka ruang pertemuan antarpelaku kopi lintas daerah, sekaligus menjadi pintu bagi kopi Kuningan untuk dikenal lebih luas.
Bagi pelaku usaha seperti Puba, satu cangkir kopi yang dicicipi hari ini bisa saja menjadi awal dari kerja sama baru di kemudian hari.















