Bijak Finansial Saat Lebaran, Alan Suwgiri Ingatkan Jangan Habis Demi Gengsi
KUNINGANSATU.COM – Momentum Idulfitri selalu hadir dengan suasana hangat dan penuh kebersamaan. Namun di balik itu, ada realitas lain yang kerap terjadi, yakni meningkatnya pengeluaran yang tidak selalu sejalan dengan kebutuhan.
Tokoh muda Kabupaten Kuningan, Alan Suwgiri, menilai fenomena ini sebagai pola yang terus berulang setiap tahun. Ia melihat dorongan untuk tampil baik di hadapan keluarga dan lingkungan sering kali membuat seseorang mengabaikan kondisi keuangannya sendiri.
“Orang lain belum tentu bantu. Jangan habiskan semua uang hanya untuk satu momentum, apalagi hanya untuk membuat orang lain terkesan,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).
Menurutnya, momen Lebaran yang seharusnya menjadi ruang silaturahmi perlahan bergeser menjadi ajang perbandingan. Percakapan yang awalnya sederhana dapat berubah menjadi tolok ukur pencapaian, mulai dari pekerjaan hingga gaya hidup. Tanpa disadari, situasi ini menciptakan tekanan sosial yang mendorong perilaku konsumtif.
“Sudah jadi kebiasaan bahwa di momentum Lebaran bertemu sanak saudara yang terjadi adalah mungkin pamer atau adu pencapaian. Kamu tidak perlu ikutan, lebih baik perhatikan kebutuhan keluarga itu lebih penting,” katanya.
Alan yang juga dosen di beberapa perguruan tinggi ini juga mengingatkan bahwa euforia Lebaran hanya berlangsung sementara, sedangkan kebutuhan hidup tetap berjalan. Setelah hari raya usai, berbagai kewajiban tetap harus dipenuhi.
“Karena masih ada kehidupan setelah Lebaran, untuk makan, biaya anak sekolah, mungkin cicilan bulanan, atau tagihan air dan listrik, dan masih banyak lagi, kamu yang lebih paham,” ungkapnya.
Ia menegaskan pentingnya kesadaran dalam mengelola keuangan sejak awal. Langkah sederhana seperti menghitung kebutuhan hingga gajian berikutnya serta memisahkan anggaran dinilai dapat membantu menjaga kestabilan ekonomi keluarga.
“Coba hitung berapa kebutuhan sampai gajian nanti, bisa dipisahkan budget dari sekarang, simpan dan jangan dipakai sampai setelah Lebaran,” tutupnya.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa Lebaran bukan hanya soal perayaan, tetapi juga tentang bagaimana menjaga keseimbangan antara kebahagiaan sesaat dan keberlanjutan hidup setelahnya.***
















