Belum Tuntas, Luapan Sungai Porak-Porandakan Proyek Jembatan Cijemit
KUNINGANSATU.COM -Pemerintah Kabupaten Kuningan sebelumnya terus mengebut progres rehabilitasi Jembatan Cipedak atau yang dikenal sebagai Jembatan Cijemit, yang menjadi akses vital penghubung Desa Ciniru, Cijemit, Gunungmanik, dan Pinara di Kecamatan Ciniru. Proyek ini bahkan ditargetkan rampung sebelum Hari Raya Idul Fitri 2026, dengan dorongan langsung dari Sekretaris Daerah U Kusmana yang meminta penambahan tenaga teknis guna mempercepat pekerjaan.
Namun, upaya percepatan tersebut kembali menghadapi hambatan serius. Pada Sabtu (28/3/2026), hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Ciniru sejak sore hari menyebabkan debit air sungai meningkat drastis hingga meluap ke area proyek rehabilitasi jembatan.
Luapan air dengan arus deras menghantam lokasi pekerjaan, mengakibatkan material konstruksi yang telah dipersiapkan menjadi porak-poranda. Besi-besi berukuran besar yang digunakan untuk kebutuhan pembesian tampak terseret arus sungai, menggambarkan betapa kuatnya tekanan air yang melanda kawasan tersebut.
Tak hanya berdampak pada material proyek, derasnya arus juga menghancurkan jembatan bambu yang selama ini digunakan warga sebagai akses darurat untuk menyeberang. Struktur sederhana tersebut dilaporkan hancur total dan ikut terbawa arus, sehingga tidak lagi dapat difungsikan.
Peristiwa ini pertama kali diketahui dari sejumlah video yang beredar di kalangan warga dan diterima redaksi. Dalam rekaman tersebut, terlihat kondisi sungai yang meluap dengan arus deras menghantam area proyek serta menyeret berbagai material yang berada di sekitarnya. Suara gemuruh air yang mengalir deras turut memperlihatkan situasi mencekam di lokasi kejadian.
Salah seorang warga setempat, Komeng, ketika dikonfirmasi kuningansatu.com melalui sambungan selular mengungkapkan bahwa kondisi air sungai saat kejadian berada di luar kebiasaan dan membawa dampak besar terhadap lingkungan sekitar, termasuk area proyek.
“Airnya besar sekali, arusnya deras dan seperti nggak ada yang bisa nahan. Besi-besi besar di proyek itu ikut hanyut, kebawa arus begitu saja. Baru kali ini saya lihat air sampai sekuat itu,” ujar Komeng.
Ia menambahkan, hancurnya jembatan bambu yang selama ini menjadi jalur sementara membuat aktivitas warga terganggu, terutama bagi mereka yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
“Jembatan bambu yang biasa dipakai warga buat nyebrang sudah hancur, habis semua kebawa arus. Sekarang warga kalau mau lewat harus memutar cukup jauh. Untuk yang kerja, sekolah, atau ke pasar jadi lebih lama,” tambahnya.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada mobilitas warga, tetapi juga berpotensi menghambat aktivitas ekonomi di wilayah sekitar yang selama ini bergantung pada akses tersebut.
Sejumlah warga lainnya juga mengaku khawatir apabila kondisi cuaca ekstrem masih terus berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Mereka menilai, jika tidak segera ada penanganan, dampaknya bisa semakin meluas, baik terhadap progres proyek maupun aktivitas masyarakat.
Sementara itu, hingga berita ini dipublikasikan, belum ada keterangan resmi dari pihak pemerintah desa setempat, pemerintah daerah, maupun pihak pelaksana konstruksi terkait besaran kerugian, kondisi terkini material proyek, serta langkah penanganan lanjutan pascakejadian tersebut.
Peristiwa ini menjadi tantangan baru bagi target percepatan rehabilitasi Jembatan Cijemit yang sebelumnya dikejar agar dapat difungsikan kembali menjelang Lebaran. Kini, dengan adanya kerusakan tambahan akibat banjir, proses pengerjaan diperkirakan akan menghadapi hambatan lanjutan, terutama jika kondisi cuaca tidak bersahabat.***
















