Arunika Jadi Sorotan, Dua Versi Penjelasan Muncul Soal Jalur dan Perluasan Lahan

KUNINGANSATU.COM,- PT Puspita Cipta Group memberikan klarifikasi panjang terkait viralnya video pinpoint Google Earth yang menampilkan jalur tanah berkelok di kawasan Arunika dan memicu dugaan adanya proyek besar menuju wilayah Pajambon. Mukhlis, staf Arunika sekaligus perwakilan PT Puspita Cipta Group, menjelaskan duduk perkara tersebut ketika dikonfirmasi wartawan melalui sambungan telepon pada Minggu (30/11/2025). Penjelasan perusahaan ini juga disertai oleh keterangan Kepala Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Ano Suratno, yang memberikan perspektif sedikit berbeda terkait rencana pemanfaatan wilayah tersebut.

Dalam keterangannya, Mukhlis membantah isu bahwa jalur yang terlihat dalam video merupakan jalan aspal. Ia menegaskan tidak ada pembangunan jalan beraspal di area tersebut. Satu-satunya jalur yang telah ada sebelumnya hanya jalan berpaving yang digunakan sebagai akses menuju pesantren Darut Tauhid yang sedang membangun masjid.

“Jalan nggak diaspal. Yang existing itu paping, dan itu pun hanya untuk ke Darut Tauhid,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa Arunika hanya mewakafkan lahan untuk pesantren tersebut, sedangkan pembangunan sepenuhnya dikerjakan pihak Darut Tauhid.

Menanggapi jalur tanah berkelok yang disebut menyerupai “sirkuit”, Mukhlis menjelaskan bahwa pola jalur tersebut muncul dari proses penggantian vegetasi. Saat lahan dibeli dari warga, kawasan itu didominasi pohon kaliandra. PT Puspita Cipta Group kini mengganti pohon non-endemik itu dengan tanaman kayu dan pohon endemik seperti damar, jamuju, pinus, hingga beringin. Jalur tanah dibuat melengkung untuk menghindari pohon-pohon yang dipertahankan.

“Kita lagi ganti-ganti kaliandra. Jalan tanah yang belok-belok itu karena kita menghindari pohon yang ingin dipertahankan,” ujarnya. Ia juga menegaskan penebangan hanya dilakukan pada jenis yang tidak endemik atau tidak masuk kategori konservasi.

Soal isu pembukaan lahan 30 hektare, Mukhlis menyebut angka itu tidak tepat. Ia mengaku tidak mengetahui rinciannya secara detail, namun merasa yakin luasnya tidak sebesar yang beredar. Ia juga menegaskan jalur tersebut bukan bagian dari kawasan wisata Arunika maupun proyek hotel, melainkan akses menuju pesantren yang dibangun oleh pewakaf, bukan pihak Arunika.

Terkait kekhawatiran longsor di lereng Ciremai, Mukhlis menjelaskan bahwa jalur menuju Darut Tauhid berada jauh dari tebing dan pengerjaan dilakukan dengan mempertimbangkan risiko lingkungan.

“Insyaallah kita berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menimbulkan akibat ke sekitar,” katanya.

Mukhlis juga menegaskan area yang terlihat dalam video bukan lokasi hotel Arunika. Pembangunan hotel sendiri telah mencapai sekitar 80 persen dengan estimasi 40 kamar dan struktur tiga lantai, namun belum dapat dipastikan waktu pembukaannya.

“Kayaknya enggak bisa tahun baru,” ujarnya. Ia menambahkan hotel diharapkan dapat membuka lapangan kerja dan berkontribusi lebih besar terhadap APBD Kabupaten Kuningan.

Sementara itu Kepala Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Ano, ketika dikonfirmasi wartawan justru mengungkap bahwa rencana pemanfaatan lahan di kawasan tersebut sebenarnya sudah dibahas sejak lama. Ia menyebut bahwa sejak akhir 2024 sempat ada pembahasan mengenai rencana pembangunan Tematik Educational Village yang melibatkan sebagian wilayah Desa Cisantana, Pajambon, dan Ragawacana. Rencana ini bahkan pernah masuk pembahasan di Forum Penataan Ruang Daerah (FPRD).

“Perluasan lahan Arunika yang tembus sampai Pajambon itu sepengetahuan saya sudah lama rencananya. Dibahas di FPRD sekitar akhir 2024. Untuk prosesnya saya tidak mengikuti. Soal amdal dan lainnya saya kurang tahu, cuma kalau tidak salah sekitar 26 hektar luasnya,” jelasnya.

Ano juga menyinggung isu geothermal yang beberapa kali dikaitkan dengan pembukaan lahan. Ia menegaskan bahwa isu itu sudah pernah dibahas dan berdasarkan kajian tim ahli dari ITB pada tahun 2024, titik geothermal di wilayah Cilengkrang dinyatakan tidak layak dikembangkan. Alasannya, kandungan panas bumi tidak sebanding dengan biaya produksi, dan air permukaan untuk kebutuhan injeksi tidak mencukupi.

“Kalau air permukaannya disemprotkan, itu berisiko menimbulkan kekeringan di Pajambon, Sukamukti, dan sekitarnya. Ada wacana titiknya pindah ke Darma, Karangsari, atau Subang. Tapi itu pun harus dikroscek lagi,” kata Ano.

Menurutnya, kajian tersebut sempat menjadi perhatian karena berpotensi berdampak besar pada masyarakat.

“Kesimpulan ahli ITB waktu itu, titik di Cilengkrang tidak memenuhi syarat dan berisiko, terutama kekeringan penduduk,” tambahnya.

Terkait lahan yang dibuka di kawasan Arunika, Ano menegaskan bahwa lahan tersebut merupakan lahan pribadi dan tidak terkait dengan aset negara. Ia menilai penting bagi masyarakat untuk memahami status lahan agar tidak muncul spekulasi yang keliru.

“Lahan yang digunakan itu lahan pribadi, bukan lahan negara,” tegasnya.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup