Aksi Alamku di Gedung Sate: Ratusan Warga Kuningan Adukan Kerusakan Gunung Ciremai

KUNINGANSATU.COM,- Ratusan warga Kabupaten Kuningan yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Kuningan (Alamku) kembali menggelar aksi unjuk rasa, Selasa (6/1/2026). Kali ini, aksi dipusatkan di Gedung Sate, Kota Bandung, sebagai bentuk pengaduan langsung kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait berbagai persoalan yang terjadi di kawasan Gunung Ciremai.
Massa aksi bertolak dari Kabupaten Kuningan menggunakan tiga unit bus dan satu mobil pribadi. Titik kumpul ditetapkan di depan Taman Pandapa, Pendopo Kuningan. Rombongan berangkat sekitar pukul 00.00 WIB dan tiba di Bandung pada pukul 04.30 WIB, dengan titik kumpul di Taman Telkom.
Sambil menunggu bergabungnya massa lainnya, peserta aksi melakukan istirahat, salat, dan makan (isoma). Sekitar pukul 09.15 WIB, massa kemudian melakukan long march dari Taman Telkom menuju Gedung Sate.
Di sepanjang perjalanan long march, Yusuf Dandi, salah satu koordinator lapangan (korlap) Alamku, menyapa warga Kota Bandung sekaligus menyampaikan permohonan maaf atas potensi terganggunya arus lalu lintas.
“Wilujeng enjing wargi Bandung, sampurasun. Hari ini masyarakat Kuningan datang ke Kota Bandung untuk bertemu Bapa Aing, mengadukan beberapa permasalahan yang terjadi di Gunung Ciremai. Kami mohon maaf kepada warga Kota Bandung jika kehadiran kami menyebabkan kemacetan sementara,” ucap Yusuf Dandi melalui pengeras suara.
Setibanya di Gedung Sate, massa langsung menggelar orasi pembukaan yang dipimpin langsung oleh Yusuf Dandi. Dalam orasinya, ia menegaskan bahwa kondisi Gunung Ciremai saat ini dinilai sudah mengkhawatirkan dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan serius jika tidak segera ditata dan diawasi secara ketat.
“Gunung Ciremai, gunung tertinggi yang menjadi ikon Jawa Barat, hari ini sudah tidak baik-baik saja. Geus tereh ngaburusut. Kalau tidak diatur dan ditata, jangan sampai wilayah Kuningan, Cirebon, Indramayu, dan Majalengka mengalami krisis seperti yang terjadi di daerah lain,” tegasnya.
Ia juga menyoroti dampak langsung kerusakan lingkungan terhadap kehidupan masyarakat, terutama soal krisis air bersih yang dirasakan warga.
“Ibu-ibu hari ini meninggalkan anak dan keluarganya karena persoalan air. Kalau air susah, nyuci susah, anak bisa tidak sekolah. Kalau air PDAM kotor, masak juga jadi berbahaya. Ini persoalan dasar yang kami suarakan hari ini,” lanjutnya.
Meski membawa sejumlah tuntutan, Yusuf menegaskan bahwa aksi tersebut akan berlangsung damai dan tertib. Ia menyebutkan jumlah massa sekitar 150 orang, serta aksi akan diisi dengan orasi, pementasan simbolik, pemaparan data, dan penyampaian tuntutan resmi kepada pihak terkait.
“Insya Allah aksi ini kami laksanakan dengan damai. Kami tidak datang untuk membuat gaduh, tetapi untuk menyampaikan fakta, tuntutan, dan harapan masyarakat Kuningan agar Gunung Ciremai tetap lestari,” pungkasnya.


















