Harga Plastik Meroket, Toni Kusumanto Dorong Pola Belanja Ramah Lingkungan

KUNINGANSATU.COM – Lonjakan harga plastik yang mulai menekan pelaku UMKM, pedagang kecil, hingga sektor pertanian di Kabupaten Kuningan mendapat perhatian dari Pemerintah Daerah. Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian (Diskopdagperin) Kabupaten Kuningan, H Toni Kusumanto, AP., M.Si, menilai kondisi ini perlu diantisipasi secara menyeluruh, terutama dari sisi perilaku pasar dan pola konsumsi masyarakat.
Saat dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp pribadinya, Sabtu (4/4/2026), Toni menegaskan kenaikan harga plastik merupakan imbas dari situasi global yang dampaknya tidak hanya dirasakan Kuningan, tetapi juga hampir seluruh daerah.
“Ini efek global, dampaknya pasti bukan hanya Kuningan. Perlu antisipasi dampak secara menyeluruh, terutama perilaku pasar,” ujar Toni.
Menurutnya, karena plastik bukan termasuk komoditas bahan pokok, pemerintah daerah belum bisa memasukkannya ke dalam skema prioritas intervensi harga seperti kebutuhan pokok masyarakat lainnya.
“Plastik belum masuk bahan pokok, jadi kita belum masuk dalam prioritas intervensi produk, apalagi itu produk pabrikan,” jelasnya.
Sebagai langkah paling realistis dalam jangka pendek, Toni mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat agar tidak terlalu bergantung pada plastik sekali pakai. Ia menyebut kebiasaan membawa wadah belanja sendiri dari rumah bisa menjadi solusi sederhana namun efektif untuk menekan dampak kenaikan harga.
“Kalau langkah antisipasi, masyarakat harus mengubah penggunaan bahan plastik. Kalau bisa bekal dari rumah tempat khusus belanja dan dapat dipergunakan secara berulang,” katanya.
Ia juga menilai hingga saat ini belum ada bahan pengganti yang benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara masif, sehingga perubahan perilaku menjadi opsi paling logis.
“Sampai saat ini belum ada bahan pengganti. Yang paling logis salah satunya merubah pola belanja dan perilaku yang menggunakan bahan plastik, terutama bagi masyarakat, mengurangi take away, dan penyediaan tempat khusus dari rumah. Contoh kalau beli bakso, bawa rantang dari rumah,” tambahnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa lonjakan harga plastik bukan hanya persoalan industri, tetapi juga momentum untuk mendorong perubahan budaya konsumsi masyarakat. Di tengah tekanan biaya yang dirasakan UMKM, pedagang warung, hingga penjual bakso, kebiasaan menggunakan wadah pakai ulang dinilai dapat menjadi jalan tengah antara menjaga daya beli dan mengurangi beban ongkos usaha.
Jika gejolak pasokan bahan baku global masih berlanjut, perubahan perilaku konsumen diperkirakan akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas usaha kecil dan pola belanja rumah tangga di Kabupaten Kuningan.***


















