Mahasiswa UMKU Soroti Mundurnya Direktur PDAU: Saatnya Evaluasi Sistem, Bukan Sekadar Ganti Orang
KUNINGANSATU.COM,- Suara reflektif datang dari kalangan akademisi muda setelah mundurnya Heni Susilawati dari jabatan Direktur PDAU Darma Putra Kertaraharja. Salah satunya disampaikan oleh Yoga Sunandar, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kuningan (UMKU), yang menilai pengunduran diri tersebut bukan sekadar pergantian posisi, melainkan cerminan tantangan besar dalam tata kelola lembaga daerah.
“Pengunduran diri Heni Susilawati bukan cuma soal ganti posisi, tapi jadi cerminan kalau pengelolaan lembaga daerah masih punya tantangan besar,” ujar Yoga saat ditemui di Kampus UMKU, Senin (3/11/2025).
Menurutnya, dalam konteks modernisasi pemerintahan, lembaga seperti PDAU harus dijalankan dengan prinsip profesional dan terus berinovasi agar mampu bertahan menghadapi perubahan.
Yoga menilai, permasalahan utama BUMD daerah sering kali bukan pada niat baik pimpinan, tetapi pada lemahnya sistem pengelolaan yang belum berbasis profesionalisme dan inovasi.
“Lembaga seperti PDAU perlu dijalankan dengan profesional dan terus berinovasi. Kalau hanya mengandalkan sosok, bukan sistem, maka setiap kali direkturnya mundur atau ganti, kinerjanya bisa jatuh lagi,” ucapnya.
Ia mengingatkan pentingnya penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2017 tentang Badan Usaha Milik Daerah, yang menekankan transparansi, akuntabilitas, dan efektivitas bisnis sebagai fondasi utama pengelolaan BUMD.
Dalam pandangannya, sikap Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, yang menghormati keputusan Heni untuk mundur, menunjukkan kedewasaan birokrasi dan penghargaan terhadap otonomi individu.
“Sikap Bupati Dian Rachmat Yanuar yang tidak menghalangi keputusan itu menunjukkan kalau beliau menghargai pilihan individu, tapi juga sadar pentingnya sistem yang kuat supaya organisasi tidak bergantung pada satu orang saja,” lanjut Yoga.
Ia menilai langkah itu sejalan dengan prinsip kepemimpinan modern yang menempatkan sistem sebagai kekuatan utama lembaga, bukan figur semata.
Lebih jauh, Yoga menganggap pergantian kepemimpinan ini dapat menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk melakukan reformasi manajerial di tubuh PDAU. Ia mendorong agar proses seleksi pengganti dilakukan secara terbuka, berbasis kompetensi, dan tidak hanya mempertimbangkan kedekatan birokratis atau politis.
“Pergantian ini sebenarnya bisa jadi momen penting untuk memperbaiki kinerja PDAU dan membuatnya lebih berkontribusi bagi kemajuan daerah,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Yoga mengingatkan bahwa generasi muda, termasuk mahasiswa, memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mengawasi dan memberi ide pembaruan bagi lembaga daerah.
“Kami di kampus belajar bahwa pemerintahan yang baik itu bukan hanya soal struktur, tapi juga kultur. PDAU bisa jadi contoh transformasi kalau pemerintah daerah berani berbenah dan membuka ruang partisipasi bagi masyarakat dan kalangan akademik,” tutupnya dengan optimisme.***















