Seluruh Siswa Sudah Pulang, Hasil Lab Dugaan Gangguan Kesehatan MBG Ciwaru Masih Ditunggu
KUNINGANSATU.COM,- Kondisi siswa yang sebelumnya mendapat penanganan medis setelah mengalami keluhan kesehatan usai menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Ciwaru, Kabupaten Kuningan, dilaporkan membaik.
Kepala Puskesmas Ciwaru, Yuyu Yuningsih, S.ST., Bdn., mengatakan seluruh siswa yang sempat menjalani pemeriksaan kini sudah diperbolehkan pulang.
Menurut Yuyu, hingga Selasa (15/9/2026) tidak ada laporan penambahan siswa dengan keluhan serupa. Sebagian siswa bahkan telah meninggalkan Puskesmas Ciwaru sejak Senin sore.
“Sudah pulang semua. Dari kemarin juga kan sore sudah pulang,” kata Yuyu saat ditemui Selasa (15/9/2026).
Meski seluruh pasien telah kembali, Puskesmas Ciwaru belum menghentikan pemantauan. Tenaga kesehatan, termasuk bidan desa, tetap disiapkan untuk merespons apabila muncul laporan baru dari siswa maupun masyarakat.
“Kita pantau terus, insyaallah, biar cepat pada sembuh,” ujarnya.
Yuyu menegaskan dugaan gangguan kesehatan tersebut belum bisa langsung dikaitkan dengan makanan MBG. Pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel yang telah dikirim ke Bandung.
Sampel tersebut sebelumnya diserahkan melalui Dinas Kesehatan dan kemudian dibawa ke Bandung untuk pemeriksaan sesuai prosedur.
“Sudah, kemarin itu langsung diantar ke Dinas Kesehatan. Terus dibawa ke Bandung. Karena sesuai SOP, untuk menjaga keakuratan hasil,” jelasnya.
Hingga Selasa, hasil pemeriksaan laboratorium tersebut belum diterima Puskesmas Ciwaru.
Karena itu, Yuyu belum dapat memastikan apakah keluhan yang dialami siswa berkaitan dengan bahan makanan tertentu, termasuk daging olahan yang dikonsumsi dalam menu MBG.
“Kalau kita belum tahu bahwa itu dari daging atau dari apa. Sampelnya belum ada hasil,” katanya.
Dalam kejadian tersebut, petugas Puskesmas melakukan pemeriksaan terhadap siswa yang mengeluhkan sejumlah gejala. Pemeriksaan mencakup kondisi umum, tekanan darah hingga pemeriksaan dokter.
Siswa dengan keluhan ringan mendapat penanganan berdasarkan gejala yang dialami, seperti mual, pusing, muntah dan sakit perut. Sedangkan siswa yang kondisinya lebih lemas mendapatkan tindakan medis seperti infus, suntikan dan pemberian oksigen.
“Tidak ada yang shock, alhamdulillah tidak ada yang berat,” ungkapnya.
Di sisi lain, Puskesmas Ciwaru menyatakan pengawasan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ciwaru 1 tetap dilakukan secara berkala.
Yuyu menyebut monitoring rutin dijadwalkan setiap tiga bulan. Tim yang terlibat di antaranya kepala Puskesmas, tenaga gizi, petugas kesehatan lingkungan, promosi kesehatan, dokter serta unsur terkait lainnya.
“Jadi tiga bulan sekali itu kita pantau,” tuturnya.
Aspek yang dipantau meliputi kebersihan, kandungan dan takaran gizi serta berbagai faktor kesehatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan MBG.
Bahkan, ke depan Puskesmas Ciwaru berencana mendorong pemeriksaan kesehatan seluruh karyawan SPPG secara berkala setiap tiga bulan.
“Ke depan itu tiga bulan akan melakukan cek tes kesehatan untuk semua karyawan SPPG,” jelas Yuyu.
Puskesmas Ciwaru juga menjadi bagian dari Satgas MBG di tingkat kecamatan. Untuk bahan pangan yang datang dari pemasok, pemeriksaan awal dilakukan oleh tim SPPG, sedangkan Puskesmas menjalankan fungsi pemantauan dan evaluasi sesuai kewenangannya.
“Yang terpenting diperiksa dulu oleh tim SPPG-nya. Kalau dirasa itu memang sehat, bagus, kami tidak terlalu intervensi ke situ, cuma kita pemantauan,” katanya.
Menurut Yuyu, SPPG Ciwaru 1 yang dikelola Yayasan Nurul Huda selama ini dinilai cukup baik dari sisi kebersihan dan prosedur.
Namun, evaluasi tetap akan dilakukan sebagai langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Mengenai adanya siswa yang mengalami keluhan sementara siswa lainnya tidak, Yuyu mengatakan berbagai kemungkinan tetap perlu diperhatikan. Salah satunya adalah faktor psikologis atau sugesti.
Ia menjelaskan, kondisi seseorang bisa ikut terpengaruh ketika melihat orang lain mengalami muntah atau mendengar informasi mengenai dugaan keracunan.
“Namanya sugesti negatif,” katanya.
Meski demikian, Yuyu menegaskan Puskesmas tidak mengabaikan setiap laporan keluhan. Semua siswa yang datang tetap diperiksa dan mendapatkan penanganan sesuai kondisi masing-masing.
“Puskesmas itu tidak diam, karena kita enggak mau, enggak ingin kejadian kayak gini,” tegasnya.
Yuyu menyebut kejadian tersebut merupakan kali pertama terjadi di SPPG Ciwaru 1. Ia juga menilai respons SPPG, pihak sekolah dan Puskesmas berlangsung cepat ketika laporan muncul.
“Pertama kali dan cepat respons dari SPPG, dari sekolah dan kita juga cepat merespons,” ujarnya.
Hingga Selasa (15/9/2026), seluruh siswa yang sebelumnya mendapatkan penanganan medis telah pulang dalam kondisi aman.
Sementara itu, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih menjadi tanda tanya. Puskesmas Ciwaru memilih menunggu hasil uji laboratorium sebelum menarik kesimpulan mengenai ada atau tidaknya kaitan dengan makanan MBG.















