SMK Pertiwi Buka Suara soal Penganiayaan, Siswa Pilih Mundur
KUNINGANSATU.COM,- Pihak SMK Pertiwi mengaku baru mengetahui kasus Penganiayaan yang melibatkan salah seorang siswanya setelah informasi tersebut mencuat di pemberitaan pada Sabtu (12/9/2026) malam.
Hal itu disampaikan Wakasek Hubinmas dan Kesiswaan SMK Pertiwi, Darajat Subagja, saat ditemui pada Senin (14/9/2026). Menurutnya, pihak sekolah sebelumnya tidak mengetahui adanya persoalan tersebut.
“Jujur, kami dari kejadian baru tahu Sabtu malam. Tidak tahu sama sekali,” kata Darajat.
Setelah mengetahui bahwa persoalan tersebut melibatkan siswa SMK Pertiwi, pihak sekolah kemudian melakukan pengecekan dengan mendatangi rumah siswa yang bersangkutan.
Darajat mengatakan, pihak sekolah juga mendatangi rumah korban pada Senin pagi untuk melihat kondisi korban sekaligus memberikan santunan.
“Kebetulan kemarin saya pribadi mengurus istri yang sedang sakit. Jadi tadi pagi saya langsung ke sana dan sudah melihat kondisi korban juga, serta memberikan santunan dari sekolah,” ujarnya.
Di tengah persoalan tersebut, siswa yang bersangkutan disebut telah mengundurkan diri dari SMK Pertiwi. Pengunduran diri dilakukan pada Senin pagi dengan didampingi orang tuanya.
Darajat menyebut keputusan tersebut kemungkinan dipengaruhi kondisi mental siswa yang merasa tertekan setelah kasus yang melibatkannya menjadi perhatian publik.
“Tadi pagi anaknya mengundurkan diri dengan orang tuanya ke sini. Mungkin karena tekanan mental, mungkin down mental karena sudah merasa viral. Si anak merasa sendiri mungkin,” tuturnya.
Terkait upaya mediasi antara keluarga korban dan keluarga siswa, Darajat menegaskan bahwa proses tersebut bukan dilakukan oleh pihak sekolah.
Menurut informasi yang diterimanya, mediasi dilakukan secara kekeluargaan dengan melibatkan aparat desa dari kedua pihak. Pertemuan tersebut disebut berlangsung di wilayah Sembawa.
“Kalau mediasi, bukan sekolah justru. Aparat desa dengan aparat desa. Katanya mediasi itu di Sembawa,” katanya.
Sementara mengenai sikap sekolah setelah adanya kasus tersebut, termasuk kemungkinan sanksi terhadap institusi SMK Pertiwi, Darajat memilih tidak memberikan komentar lebih jauh. Ia mengatakan persoalan tersebut sudah masuk ke ranah kebijakan sekolah sehingga akan disampaikan langsung oleh kepala sekolah.
“Kalau sudah ke ranah itu, mungkin nanti Pak Kepala yang menyampaikan. Saya takut salah berkomentar,” ujarnya.
Darajat menambahkan, SMK Pertiwi selama ini telah melakukan pembinaan kepada siswa untuk mencegah berbagai persoalan, mulai dari tawuran, narkoba, bullying hingga tindakan yang dapat merugikan siswa maupun sekolah.
Pembinaan dilakukan melalui wali kelas, bagian kesiswaan hingga kegiatan bersama seluruh siswa di gedung olahraga sekolah.
Dengan adanya kejadian tersebut, pihak sekolah berencana meningkatkan intensitas pembinaan dan memperkuat komunikasi dengan orang tua siswa.
“Kita jadikan ini pelajaran supaya tidak terjadi lagi. Kita lebih intens lagi ke anak-anak melalui wali kelas, bekerja sama dengan orang tua siswa,” kata Darajat.
Ia menegaskan, pembinaan karakter akan terus dilakukan sebagai bagian dari upaya mencegah terulangnya persoalan serupa di kemudian hari.















