Dari Timbang ke Kamboja, APR dan AF Ungkap Tawaran Kerja, Scam Love, Target Rp60 Juta hingga “Tukar Kepala”

KUNINGANSATU.COM – Kabar kematian seorang pria kelahiran Kabupaten Kuningan berinisial J di negara Laos dalam kondisi mengenaskan akhirnya membuka tabir yang lebih luas terkait dugaan pemberangkatan tenaga kerja secara ilegal ke luar negeri dengan iming-iming gaji puluhan hingga ratusan juta rupiah. Dari Desa Timbang, Kecamatan Cigandamekar, Kabupaten Kuningan, perjalanan sejumlah warga menuju pekerjaan di luar negeri bermula. Dalam kesaksian APR dan AF, Kamis (10/9/2026) Desa Timbang disebut menjadi titik pemberangkatan beberapa orang baik dari Kuningan maupun luar daerah yang kemudian bekerja di luar negeri, termasuk mereka yang berangkat ke Kamboja.

APR menjadi salah satu warga yang berangkat dan berhasil melarikan diri dari tempatnya bekerja. Perempuan berusia lebih dari 40 tahun itu menceritakan pengalaman yang dialaminya sejak menerima tawaran pekerjaan hingga akhirnya berhasil keluar dari Kamboja dan kembali ke Indonesia.

Bagi APR, tawaran tersebut awalnya menjadi kesempatan untuk mendapatkan penghasilan lebih baik. Sebagai orang tua tunggal dengan tiga anak sekaligus tulang punggung keluarga, ia membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

APR mengaku kesempatan mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan besar menjadi salah satu alasan dirinya berani berangkat. Terlebih, menurutnya, mencari pekerjaan dengan penghasilan yang sesuai di Kuningan bukan perkara mudah.

Namun, setelah sampai di Kamboja, pekerjaan yang dijalani ternyata berbeda dari gambaran awal.

APR menceritakan pekerjaan tersebut berkaitan dengan aktivitas scam love. Para pekerja melakukan pendekatan kepada calon korban melalui komunikasi secara intensif, membangun kedekatan dan kepercayaan, kemudian mengarahkan korban untuk melakukan investasi.

Keterangan APR tersebut diperkuat AF yang juga menjalani pekerjaan serupa yang juga berhasil melarikan diri.

“Awalnya PDKT, bikin dia percaya. Setelah percaya, diarahkan untuk investasi,” ungkap AF.

AF menjelaskan, pada tahap awal korban dibuat seolah mendapatkan keuntungan dari investasi yang dilakukan. Setelah kepercayaan terbentuk, korban kemudian memasukkan uang dengan jumlah lebih besar.

Ketika uang yang masuk sudah mencapai ratusan juta rupiah, komunikasi dengan korban kemudian diputus.

“Kalau sudah besar, ratusan juta, komunikasinya diputus,” kata AF.

Menurut AF, sebagian korban yang menjadi target mereka berasal dari Malaysia. Data calon korban sudah tersedia di tempat mereka bekerja.

Pekerjaan tersebut juga memiliki target pemasukan harian. AF menyebut terdapat dua kelompok kerja atau line dengan target berbeda.

“Line satu targetnya Rp30 juta, line dua Rp60 juta sehari,” ujar AF.

AF mengatakan dirinya memperoleh sekitar 10 persen dari target yang didapatkan. Pembayaran disebut dilakukan secara tunai menggunakan dolar Amerika Serikat.

Selain target, APR juga menceritakan kondisi tempat mereka bekerja. Lokasinya disebut menyerupai kompleks resort atau vila.

Para pekerja berada di dalam kawasan tersebut dan tidak bebas keluar. Jika hendak meninggalkan lokasi, mereka harus meminta izin.

Berbagai kebutuhan pekerja disebut tersedia di dalam kawasan, termasuk makanan dan hiburan. Menurut APR dan AF, terdapat pula pemeriksaan dari pihak kepolisian di sekitar lokasi.

AF kemudian menceritakan kondisi pekerja yang tidak mampu memenuhi target. Ia menyebut adanya hukuman fisik, termasuk penyetruman dan pemukulan.

APR dan AF juga mengatakan paspor mereka kemudian dipegang pihak lain setelah proses pekerjaan berlangsung.

Untuk dapat keluar dari lokasi, mereka menyebut istilah “paiku”, dengan nilai sekitar Rp80 juta. Uang tersebut harus disiapkan secara tunai.

Dalam proses keluar itu, mereka juga menyebut adanya agen serta istilah “tukar kepala” dimana jika ada pekerja yang pulang harus ada pekerja yang masuk menggantikannya.

Kesempatan untuk meninggalkan lokasi akhirnya datang ketika terjadi operasi besar di tempat mereka bekerja.

APR dan AF kemudian memanfaatkan situasi tersebut untuk keluar. Mereka menggunakan kendaraan perusahaan untuk meninggalkan lokasi, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan taksi menuju sebuah hotel.

Biaya taksi yang dikeluarkan disebut sekitar 100 dolar Amerika Serikat.

Dari hotel, keduanya kemudian mencari bantuan hingga akhirnya berhubungan dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

Karena persoalan dokumen perjalanan, mereka menjalani proses pengurusan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) sebelum dapat kembali ke Indonesia.

Proses kepulangan tersebut membutuhkan waktu berbeda. Salah satunya sekitar setengah bulan, sementara yang lainnya hampir dua bulan.

Setelah tiba di Indonesia, APR dan AF kembali dimintai keterangan mengenai perjalanan dan pengalaman mereka selama berada di luar negeri.

Data serta kronologi mereka juga disebut dikumpulkan oleh pihak Polda Jawa Barat bagian Siber ketika mereka tiba di Indonesia.

Dalam wawancara tersebut, APR dan AF kembali menceritakan soal warga Desa Timbang yang berangkat ke luar negeri.

Menurut keduanya, Desa Timbang disebut menjadi titik pemberangkatan sejumlah warga yang kemudian bekerja ke luar negeri. Beberapa inisial yang muncul dalam cerita mereka adalah F, AF, APR, S dan J yang terakhir dikabarkan tewas dalam kondisi mengenaskan.

Nama FR disebut dalam kaitan dengan proses perekrutan dan pemberangkatan. Sementara keterangan mengenai komunikasi terakhir dengan FR disampaikan oleh AF.

AF menceritakan komunikasi terakhir tersebut berdasarkan apa yang dialaminya dalam rangkaian proses pemberangkatan dan keberangkatan ke luar negeri.

APR dan AF juga menyebut seseorang berinisial J yang kemudian meninggal dunia.

Sementara seseorang berinisial S atau PS, menurut informasi yang diterima APR dan AF, masih berada di luar negeri dan terakhir disebut berpindah ke Sri Lanka.

Bagi APR, pengalaman tersebut menjadi pelajaran besar.

Ia mengatakan keputusan berangkat saat itu tidak terlepas dari kondisi keluarga. Dengan usia lebih dari 40 tahun, tiga anak yang harus dinafkahi, serta posisi sebagai orang tua tunggal, APR mengaku membutuhkan pekerjaan dengan penghasilan yang cukup.

Kini, APR dan AF mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran pekerjaan ke luar negeri hanya karena melihat besarnya penghasilan.

Mereka meminta calon pekerja memastikan jenis pekerjaan, perusahaan, agen penyalur, kontrak kerja, serta proses keberangkatannya sebelum memutuskan berangkat.

APR dan AF juga berharap pemerintah dapat membuka lebih banyak lapangan pekerjaan di Kabupaten Kuningan sehingga masyarakat memiliki pilihan pekerjaan dengan penghasilan yang layak.

Bagi APR, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa tawaran pekerjaan harus dipelajari terlebih dahulu secara menyeluruh sebelum seseorang memutuskan berangkat.

“Yang penting jangan sampai orang lain mengalami seperti saya. Kalau ada tawaran kerja ke luar negeri, cari tahu dulu semuanya, jangan hanya melihat gajinya besar,” ujar APR.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup