Dulu Jualan Rokok di Gerobak, Kini Perantau Asal Kuningan Ini Jadi Raja Transaksi BRILink di Depok
KUNINGANSATU.COM – Perjalanan hidup Tatang Sutardi (56), perantau asal Desa Cineumbeuy, Kecamatan Lebakwangi, Kabupaten Kuningan, menjadi bukti bagaimana usaha kecil bisa berkembang besar lewat ketekunan dan konsistensi.
Berawal dari berjualan rokok dan minuman menggunakan gerobak di depan Kantor BRI Unit Proklamasi Depok sekitar tahun 2010-an, Tatang kini dikenal sebagai salah satu agen BRILink berprestasi di Kota Depok.
Lapaknya yang berada di Jalan Proklamasi Blok E No.34, Harjamukti, awalnya hanya menjadi tempat sederhana untuk menyambung hidup di tanah rantau. Namun dari lokasi kecil itulah, perlahan hidupnya berubah.
Tatang mengaku sempat beberapa kali ditawari menjadi agen BRILink sejak 2015, tetapi ia menolak karena merasa tidak yakin usahanya akan berjalan, terlebih lokasi kiosnya tepat berada di depan kantor bank.
“Tadinya mah saya enggak mau, sampai 2 tahun loh ditawarin. Karena lapak saya kan di depan BRI, mana mungkin laku sih, gitu mikirnya. Nah pas 2017 kebetulan kepala unitnya enak. Sharing-sharing, dia bilang ‘Udah pak kalau bapak enggak enak bukanya sore aja. BRI tutup, bapak buka’. OK, tapi bantuin ya pak ngomong ke nasabahnya kalau di BRI tutup, di depan bisa, di agen BRILink,” tutur Tatang seperti dikutip dari akurat.co, Sabtu (23/5/2026).
Pada awal membuka layanan BRILink tahun 2017, transaksi di kios Tatang masih sepi. Banyak orang belum percaya bahwa kios kecil di depan kantor bank itu merupakan agen resmi.
Namun setelah berjalan sekitar satu tahun, jumlah transaksi mulai meningkat drastis. Tatang bahkan berhasil menjadi agen pendatang baru terbaik hingga naik kelas menjadi agen Jawara.
“Setelah 3 bulan, mulai ah saya pikir kayaknya kalau buka dari siang bagus. Eh benar, setahun langsung melejit. Unit Proklamasi ini kan tahun 2010-an diresmikan ya. Saya dua tahun sejak jadi agen itu atau sekitar tahun 2019 alhamdulilah sudah mampu untuk beli kios. Akhirnya dagangan gerobak saya pidahin ke kios, kebetulan waktu itu BRI lagi dekorasi kantornya dan ada tukangnya, kios saya dibantu didekorasi juga,” kenang Tatang.
Sejak saat itu, Tatang menekuni bisnis keagenan BRILink hampir tanpa henti. Setiap hari ia membuka kios sejak pukul 06.00 WIB hingga tengah malam bersama istrinya yang bergantian menjaga warung.
Kerja keras tersebut membuahkan hasil besar. Selain mampu membeli kios sendiri, Tatang juga berhasil menyekolahkan ketiga putrinya hingga bekerja dan berkeluarga.
“Cucu saya ada 6. Putri saya ada 3. Pertama jadi guru di SMA 12 Cipayung Depok, kedua jadi perawat di Sentra Medika. Sekarang saya di sini sama istri saja berdua sama 1 cucu biar enggak sepi,” tuturnya.
Selama sembilan tahun menjadi agen BRILink, berbagai pencapaian berhasil diraih Tatang. Ia pernah menjadi juara 2 nasional agen BRILink tahun 2019 dan menjadi agen pertama di Depok yang menggunakan mesin MPOS.
“Saya agen BRILink pertama di Depok yang pakai MPOS (Mobile Point of Sale). Sebelumnya kan masih pakai HP, belum ada mesin EDC apalagi MPOS,” ujarnya.
Meski begitu, menurut Tatang, masa keemasan agen BRILink mulai menurun sejak tahun 2023 seiring berkembangnya transaksi digital dan bertambahnya jumlah agen.
“Kalau saya bilang, mulai 2023 lah mulai turun. Barangkali karena jumlah agen kian banyak dan aplikasi transaksi kian menjamur, sehingga jumlah transaksi bulanan tergerus. Dulu sebulan pernah 10.000 transaksi dengan nominal Rp12 miliaran sekarang paling 3.000-an transaksi nominal Rp8 miliaran. Fee based sekitar Rp6 jutaan,” ujar Tatang.
Ia menyebut perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor utama turunnya transaksi pembayaran melalui agen BRILink karena banyak pelanggan kini lebih memilih menggunakan aplikasi digital.
“Dulu satu nasabah sekali transaksi bisa 3 kali, tarik/setor tunai, sekalian bayar listrik dan bayar PDAM. Sekarang setor/tarik saja paling,” cerita Tatang.
Meski transaksi pembayaran mulai berkurang, aktivitas setor dan tarik tunai di kios Tatang tetap ramai, terutama dari kalangan pedagang pasar hingga bandar sapi dan kambing menjelang Hari Raya Iduladha.
“Mayoritas atau 90 persen pelanggan saya adalah pedagang. Ada yang sekali setor Rp140 juta, ada yang Rp36 juta, macem-macem. Tapi ada juga yang misal dapat uang mendadak, itu biasanya kelihatan dia selalu pengen tarik tunai semua yang ada di saldo dia tanpa disisakan. Tadi saja ada ibu-ibu tarik tunai Rp30 juta, pas saya cek saldo dia oh memang benar segitu dan pengen dia abisin (tarik tunai) semua. Sisa Rp50 ribu juga ingin dia tarik tunai. Yang seperti ini bukan orang yang biasa transaksi, punya uang mendadak diambil semua,” paparnya.
Dalam menjalankan usahanya, Tatang juga mengaku menghadapi banyak tantangan, mulai dari gangguan jaringan hingga persoalan rekening pelanggan bermasalah yang sempat membuat MPOS miliknya diblokir sementara.
“Sudah beberapa hari, semingguan lah, lagi sering pas transaksi muter-muter aja (MPOS). Bahayanya kalau kami sudah masukin PIN, harus pasti dicek ulang berhasil apa gagal transaksinya karena kadang bisa terjadi dua kali transaksi. Muter-muter saja kadang ilang (sinyal) itu yang bikin lama. Enggak tahu dari apanya tuh. Apa sinyal kali,” herannya.
Ia juga pernah harus mengurus sendiri pemblokiran MPOS akibat rekening pelanggan yang diduga terkait tindak kejahatan siber.
“Terus kami salahnya dimana kan? Harusnya bisa dilihat dulu dengan seksama cerita awalnya bagaimana kan. Masa tiap nasabah mau narik tunai kami tanya-tanya dulu ini Bapak uangnya bukan hasil nyolong kan? Kan enggak gitu. Waktu itu saya urus sendiri di CS dengan perjanjian di atas materai segala macam. Saya curhat 14 hari diblokir, katanya itu termasuk cepat pak yang ada yang sebulan. Bukan masalah 14 harinya, saya bahkan 2 hari saja lama itungannya untung punya 2 mesin MPOS kan coba kalau cuma 1? Kan ilang nanti langganan saya,” ketus Tatang.
Meski tantangan terus datang, Tatang tetap menjalankan usahanya dengan prinsip kehati-hatian dan pelayanan kepada pelanggan. Murahnya biaya admin yang dipasang menjadi salah satu alasan banyak pelanggan tetap setia bertransaksi di kios miliknya.
“Dari kantor kan cuma dapat biaya ganti Rp5 ribu. Di Pak Tatang dia mau untuk nominal setoran besar pun biaya adminnya hanya Rp10 ribu, jauh lebih murah dibanding agen dekat rumah bisa Rp20 ribu, kadang Rp40 ribu. Ya mungkin karena Pak Tatang setorannya dekat BRI tinggal nyebrang beberapa langkah ya,” ujar Jono, salah satu pelanggan.***
















