PKBM Desa Asuh Jadi Jurus Disdikbud Kuningan Rangkul Warga Putus Sekolah

KUNINGANSATU.COM – Di tengah masih tingginya angka warga putus sekolah dan keterbatasan akses pendidikan di sejumlah wilayah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan mulai memperkuat jalur pendidikan nonformal melalui program “PKBM Desa Asuh”. Program ini disiapkan sebagai strategi baru untuk mendekatkan layanan pendidikan kesetaraan langsung ke desa-desa.

Melalui skema tersebut, satu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) akan membina tiga hingga empat desa agar masyarakat lebih mudah mengakses layanan pendidikan nonformal tanpa harus terkendala jarak maupun keterbatasan ekonomi.

Kepala Bidang PAUD dan Dikmas Disdikbud Kabupaten Kuningan, Dicky Mahardika, mengatakan pendidikan kesetaraan masih menjadi kebutuhan penting di Kabupaten Kuningan, terutama bagi warga putus sekolah, pekerja muda, hingga masyarakat usia dewasa yang belum menyelesaikan pendidikan formal.

“Dengan implementasi PKBM Desa Asuh diharapkan seluruh PKBM mampu berperan aktif di desa binaan masing-masing sehingga masyarakat melalui pemerintah desa bisa lebih mudah dalam mengakses pendidikan kesetaraan,” ujar Dicky, Senin (18/5/2026).

Saat ini, Kabupaten Kuningan memiliki sekitar 113 PKBM aktif yang tersebar di berbagai kecamatan. Keberadaan PKBM dinilai menjadi ujung tombak layanan pendidikan masyarakat bagi warga yang tidak dapat mengikuti pendidikan formal secara reguler.

Layanan yang diberikan pun cukup beragam, mulai dari Paket A setara SD, Paket B setara SMP, hingga Paket C setara SMA. Tidak hanya itu, PKBM juga mulai berkembang menjadi ruang pemberdayaan masyarakat melalui berbagai pelatihan keterampilan dan pendidikan kecakapan hidup.

Dicky menjelaskan, pola pendidikan nonformal kini terus diarahkan lebih fleksibel dan adaptif mengikuti kebutuhan masyarakat. Sistem pembelajaran tidak lagi kaku seperti sekolah formal pada umumnya.

“Program kesetaraan juga mulai lebih fleksibel, jadwal belajar menyesuaikan warga belajar, pembelajaran berbasis proyek, serta pendekatan kontekstual sesuai kebutuhan masyarakat,” katanya.

Selain pendidikan kesetaraan, penguatan program Dikmas di Kabupaten Kuningan juga dilakukan melalui kursus keterampilan, pendidikan kecakapan kerja, pelatihan wirausaha, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Beberapa bidang keterampilan yang mulai berkembang di antaranya tata boga, menjahit, komputer, tata rias, pengasuhan anak, hingga keterampilan berbasis UMKM. Program tersebut diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru sekaligus meningkatkan kemandirian masyarakat.

Untuk memperkuat jangkauan program, Disdikbud Kuningan juga mendorong setiap PKBM aktif melakukan sosialisasi rutin di desa binaan masing-masing. Pemerintah daerah bahkan mendorong adanya workshop dan edukasi masyarakat secara berkala agar warga yang sempat putus sekolah kembali memiliki motivasi melanjutkan pendidikan.

“Disdikbud mendorong adanya program rutin seperti sosialisasi tiap triwulan atau mengadakan workshop oleh PKBM di desa binaan tersebut,” jelasnya.

Menurut Dicky, pendidikan masyarakat tidak lagi bisa dipandang sebagai jalur pendidikan alternatif semata. Lebih dari itu, pendidikan nonformal kini menjadi instrumen penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia secara inklusif hingga ke tingkat desa.

Melalui program PKBM Desa Asuh, Disdikbud berharap akses pendidikan di Kabupaten Kuningan semakin merata, sekaligus menjadi langkah konkret menekan kesenjangan pendidikan dan angka putus sekolah di daerah.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup