725 Hektare Lahan di Kuningan Siap Dioptimalkan, OPLAH 2026 Jadi Andalan Swasembada Pangan

KUNINGANSATU.COM,- Pemerintah Kabupaten Kuningan mematangkan persiapan pelaksanaan Program Optimasi Lahan (OPLAH) Tahun Anggaran 2026 melalui penyusunan Survey Investigation Design (SID) dan Detail Engineering Design (DED). Langkah tersebut dinilai menjadi penentu keberhasilan program yang akan mengoptimalkan 725 hektare lahan pertanian di 20 kecamatan dan 29 desa atau kelompok tani.

Komitmen itu ditegaskan dalam Focus Group Discussion (FGD) Hasil SID OPLAH Non Rawa Jawa Barat Tahap II Tahun Anggaran 2026 yang berlangsung di Aula Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Kuningan, Kamis (30/7/2026).

Kegiatan merupakan kolaborasi Kementerian Pertanian bersama Pusat Riset Dinamika Pembangunan dan Inovasi Sumber Daya Kewilayahan Universitas Padjadjaran (Unpad). FGD dihadiri perangkat daerah, peneliti, tenaga ahli, UPTD, penyuluh pertanian, hingga perwakilan kelompok tani untuk menyamakan persepsi sebelum program dijalankan.

Kepala DKPP Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., menegaskan keberhasilan OPLAH tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau luas lahan yang dikelola, melainkan diawali dengan perencanaan yang matang dan berbasis kondisi nyata di lapangan.

“SID dan DED bukan sekadar dokumen administratif, tetapi menjadi fondasi utama untuk memastikan setiap hektare lahan yang dioptimalkan sesuai dengan karakteristik wilayah, kebutuhan petani, serta target peningkatan produksi pangan. Karena itu, sinergi antara pemerintah, tim Unpad, UPTD, penyuluh, dan kelompok tani menjadi kunci agar pelaksanaan OPLAH tepat sasaran, tepat mutu, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Wahyu, dokumen SID dan DED akan menjadi acuan teknis dalam menentukan lokasi prioritas, desain infrastruktur pertanian, volume pekerjaan, hingga penetapan penerima manfaat. Dengan perencanaan yang rinci, pelaksanaan program diharapkan berjalan lebih efektif sekaligus meminimalkan berbagai kendala di lapangan.

Program OPLAH 2026 juga tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur pertanian. Lebih dari itu, program diarahkan untuk meningkatkan produktivitas lahan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, menaikkan indeks pertanaman sehingga lahan dapat ditanami lebih dari satu kali dalam setahun, memperkuat produksi padi dan komoditas pangan strategis, serta mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air melalui perbaikan jaringan irigasi sesuai karakteristik wilayah.

Optimalisasi lahan tersebut diharapkan mampu memperluas areal tanam efektif, mengatasi berbagai faktor pembatas pertanian, memperkuat ketahanan pangan daerah, sekaligus meningkatkan pendapatan petani melalui produktivitas usaha tani yang lebih tinggi.

“Perencanaan berbasis SID dan DED juga membuka ruang penerapan teknologi budidaya yang lebih tepat guna sesuai kondisi spesifik lokasi. Yang tidak kalah penting, seluruh proses harus melibatkan UPTD, penyuluh, dan kelompok tani sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan agar hasilnya benar-benar memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi petani,” tambah Wahyu.

Melalui forum tersebut, seluruh pemangku kepentingan menyepakati pentingnya memperkuat kesiapan administratif maupun teknis sebelum OPLAH 2026 dijalankan. Dengan fondasi perencanaan yang matang, Pemkab Kuningan optimistis program ini mampu meningkatkan produktivitas lahan, mendukung kesejahteraan petani, sekaligus memperkuat kontribusi daerah terhadap target swasembada pangan nasional.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup