Update MBG Diganti Uang Tunai: SPPI Mengundurkan Diri, 205 Siswa Terima Kompensasi Rp8.000
KUNINGANSATU.COM,- Polemik dugaan penggantian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan uang tunai di Kecamatan Lebakwangi terus berlanjut. Berdasarkan klarifikasi terbaru yang diterima redaksi KuninganSatu.com, pihak sekolah yang sebelumnya disebut dalam polemik ini adalah SD Negeri 2 Cinagara, Kecamatan Lebakwangi, Kabupaten Kuningan.
Melalui keterangan resmi yang disampaikan pihak sekolah, dijelaskan bahwa pemberian kompensasi uang tunai sebesar Rp8.000 per siswa dilakukan oleh pihak dapur pada saat launching program MBG, Senin (29/9/2025), sebagai bentuk permintaan maaf.
“Sebagai klarifikasi dari SD Negeri 2 Cinagara, terkait pemberian MBG pada saat launching, dari pihak dapur memberikan kompensasi sebesar Rp8.000 sebagai bentuk permintaan maaf dari pihak dapur. Selanjutnya, hari Rabu dapat, Jumat dapat, sekaligus paket untuk hari Sabtu. Kemudian hari Senin (6/10/2025) dapat, Selasa tidak dapat, dan sekarang (Rabu) sampai Sabtu dapat normal setiap hari,” demikian disampaikan pihak sekolah, Rabu (8/10/2025).
Pihak SD Negeri 2 Cinagara juga menambahkan bahwa kompensasi tersebut diberikan kepada 205 siswa, dengan total nilai kompensasi sebesar Rp1.640.000, bersumber dari pihak dapur, bukan dari dana negara.
Sementara itu, Koordinator Wilayah (Korwil) SPPI Kuningan, Nisa Rahmi, saat dikonfirmasi turut memberikan penjelasan tambahan terkait temuan tersebut. Ia menegaskan bahwa uang Rp8.000 yang diberikan kepada siswa bukan bersumber dari anggaran pemerintah, melainkan inisiatif pribadi dari pihak mitra dapur.
“Kemarin saya langsung datang dan ketemu dengan mitranya buat mengklarifikasi. Untuk yang Rp8.000 itu bukan penggunaan dana negara, tapi uang pribadi. Pun menu makan yang kurangnya itu diganti di akhir minggu ini. Jadi pemberian uang itu inisiatif dari mitranya pakai uang pribadi,” jelas Nisa.
Terkait alasan mengapa muncul nominal Rp8.000, Nisa menerangkan bahwa hal itu disebabkan oleh porsi makan yang kurang saat launching.
“Karena porsinya kurang, Pak. Bisa aja karena perhitungan kebutuhan yang salah. Dapodik emang datanya pasti, tapi perhitungan bahan baku bisa jadi butuh waktu untuk penyesuaian perhitungannya,” ujarnya.
Di sisi lain, berdasarkan informasi yang diterima redaksi, SPPI dari dapur MBG yang diketahui berlokasi di Desa Pagundan dikabarkan telah mengundurkan diri. Sebelumnya, pihak pemilik dapur atau mitra sempat menyampaikan bahwa mereka mengalami kebingungan dalam menjalankan operasional SPPG, karena sejak awal program hingga saat ini, pihak SPPI belum pernah hadir di lokasi dapur dengan alasan sakit. Kondisi ini disebut-sebut menjadi salah satu faktor teknis yang menyebabkan ketidaksesuaian pada awal pelaksanaan program MBG di sekolah tersebut.
Dengan perkembangan ini, publik berharap agar pihak-pihak terkait, termasuk pemerintah daerah dan pengelola program MBG, dapat segera melakukan evaluasi menyeluruh demi memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai ketentuan, transparan, serta tepat sasaran, agar semangat program pemenuhan gizi bagi siswa tidak tercederai oleh persoalan teknis dan miskomunikasi di lapangan.***
















