Tour de Linggarjati 2025 Dikritik, Yusup: Apa Urgensinya?

KUNINGANSATU.COM,- Pemerintah Kabupaten Kuningan tetap memaksakan penyelenggaraan Tour de Linggarjati (TDL) 2025 meski kondisi daerah dan negara sedang tidak baik-baik saja. Acara yang diklaim sebagai bagian dari rangkaian Hari Jadi Kuningan itu menuai kritik keras dari kalangan masyarakat sipil.

Aktivis Masyarakat Peduli Kuningan (MPK), Yusup Dandi Asih, menilai alasan pemerintah bahwa kegiatan tersebut tidak membebani APBD karena mengandalkan sponsor merupakan narasi menyesatkan. 

“Faktanya, perbaikan jalan di sepanjang lintasan tetap menggunakan dana daerah, sementara banyak ruas jalan lain tetap rusak dan tidak tersentuh,” tegasnya, Selasa (2/9/2025).

Rute TDL 2025 memang panjang dan menantang sekitar 111 km melintasi 17 kecamatan, ditambah kategori Kriterium 2,9 km di pusat kota serta Fun Bike 20 km. Namun menurut Yusup, manfaat yang dirasakan masyarakat jauh dari kata signifikan.

“Yang menikmati justru hanya segelintir pihak, seperti hotel dan restoran. Dampak ekonomi jangka panjangnya hampir tidak ada,” ujarnya.

Data pariwisata pun memperlihatkan paradoks. Kunjungan wisata ke Kuningan tahun 2023 memang mencapai 2,4 juta orang, melampaui target. Namun kontribusi wisatawan mancanegara masih sangat kecil, hanya 35 orang pada 2022. Meskipun rata-rata lama menginap turis asing meningkat menjadi 2,40 malam pada April 2025, angka itu menunjukkan potensi wisata belum tergarap strategis.

Lebih jauh, Yusup menyoroti sederet kelemahan mendasar TDL 2025, mulai dari infrastruktur yang diperbaiki secara parsial, manfaat ekonomi yang timpang, hingga beban tersembunyi pada APBD. Penutupan jalan juga dinilai mengganggu aktivitas warga, sementara aspek ekologis luput dari perhatian. Ironisnya, dengan dalih modernisasi, acara budaya sakral seperti Saptonan justru dihilangkan. 

“Tradisi ini adalah identitas turun-temurun masyarakat Kuningan. Menghapusnya sama saja mengikis nilai historis dan sosial rakyat sendiri,” kritiknya.

Yusup menegaskan, penyelenggaraan Tour de Linggarjati hanya berorientasi pada pencitraan dan prestise seremonial. 

“Pertanyaan mendasar harus dijawab dengan jujur, apa urgensi TDL di tengah keterbatasan nyata rakyat Kuningan? Apakah hanya kebanggaan sesaat, atau benar-benar ada timbal balik strategis untuk kesejahteraan masyarakat?” pungkasnya.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup