Sekolah Islam dan Gender ke-IV, Alan Suwgiri: Perempuan Harus Matre!

KUNINGANSATU.COM,- “Perempuan adalah pilar kekuatan yang membentuk masa depan bangsa, dengan kecerdasan, keberanian, dan kasih sayang.” Kalimat pembuka itu dilontarkan tokoh muda Kabupaten Kuningan, Alan Suwgiri, saat mengisi kegiatan Sekolah Islam dan Gender ke-IV yang digelar KOPRI Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Kuningan (UNIKU) di Gedung PC NU Kabupaten Kuningan, Minggu (25/1/2026).

Sejak awal, forum tersebut terasa tidak biasa, karena pembahasan perempuan tidak diletakkan pada wilayah romantisme, tetapi pada logika dan realitas hidup.
Kegiatan yang mengusung tema “Penguatan Peran Kader Perempuan PMII Sebagai Agen Perubahan yang Berintegritas” itu diikuti oleh kader perempuan PMII Komisariat UNIKU.

Ruang diskusi tidak hanya dipenuhi narasi kesetaraan gender yang normatif, tetapi juga ajakan untuk membongkar cara pandang lama yang kerap menempatkan perempuan sekadar sebagai objek perjuangan.

Dalam pemaparannya, Alan secara terbuka menantang cara berpikir yang menurutnya masih menjebak perempuan pada wilayah perasaan semata.

“Perempuan hari ini harus logis dan realistis. Dunia tidak berjalan hanya dengan cinta dan niat baik,” ujarnya.

Ia menilai bahwa keberanian perempuan justru diuji ketika mampu mengambil keputusan secara rasional di tengah tekanan sosial dan budaya.

Pernyataan Alan semakin menyita perhatian ketika ia menyinggung soal kemandirian ekonomi dengan istilah yang tidak lazim di forum akademik.

“Perempuan itu harus matre,” katanya lugas.

Namun ia segera memberi penekanan bahwa yang dimaksud bukanlah sikap materialistis sempit, melainkan kesadaran akan nilai diri dan masa depan.

“Tidak bisa hanya bicara cinta atau rasa suka, karena perempuan saat ini memiliki peluang yang sama dengan laki-laki,” lanjutnya.

Menurut Alan, menyadari realitas ekonomi justru merupakan bentuk tanggung jawab perempuan terhadap hidupnya sendiri. Ia menilai perempuan yang mampu menghitung masa depan secara rasional adalah perempuan yang siap berdiri sejajar, bukan bergantung. Dalam konteks ini, logika dan realisme dipandang sebagai senjata penting bagi perempuan dalam memperjuangkan keadilan dan kemandirian.

Lebih jauh, Alan menegaskan bahwa kader perempuan PMII memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan yang tidak hanya kritis secara wacana, tetapi juga tajam membaca realitas. Dengan basis keislaman, keilmuan, dan gerakan, perempuan PMII didorong untuk tidak terjebak pada simbol atau jargon semata, melainkan mampu menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat.

Ia berharap Sekolah Islam dan Gender tidak berhenti sebagai ruang diskusi tahunan, tetapi menjadi titik tolak lahirnya kader perempuan PMII Komisariat UNIKU yang berani bersuara, berani mengambil keputusan, serta berani bersikap logis dan realistis dalam menghadapi masa depan.

Di tengah tantangan zaman yang kian keras, Alan menilai perempuan justru harus tampil lebih rasional, tanpa kehilangan nilai, empati, dan integritas sebagai kekuatan utamanya.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup