Ramai ‘Sirkuit’ Arah Pajambon, Warga Cisantana Angkat Suara!

KUNINGANSATU.COM,- Polemik perubahan bentang lahan di kawasan Arunika kembali memunculkan suara keberatan dari masyarakat. Setelah video pinpoint Google Earth yang menampilkan pola lahan menyerupai jalur berkelok dan bagian tanah yang tampak dikupas menjadi viral, warga Desa Cisantana kini ikut menyuarakan kekhawatirannya. Arunika berada di wilayah administratif Desa Cisantana, sehingga perubahan yang terlihat di lapangan dianggap langsung menyentuh ruang hidup warga setempat.

Yoga Sunandar, salah satu warga Cisantana sekaligus pribumi Palutungan, menyampaikan bahwa aktivitas pembukaan lahan yang disertai penebangan pohon membuat masyarakat resah. Ia menegaskan bahwa kondisi lingkungan di Cisantana dan Palutungan sangat rentan, terlebih wilayah lereng Gunung Ciremai memiliki sejarah bencana longsor.

“Saya berharap kepada siapapun yang menjadi pihak yang bertanggung jawab atas perluasan lahan tersebut, dapat mengambil kebijakan yang lebih mempertimbangkan kondisi lingkungan. Seharusnya kebijakan dibuat dengan bijak, bukan justru mendukung tindakan yang berisiko. Kenapa pohon-pohon ditebang begitu saja? Anda tahu sendiri apa akibatnya kalau hutan dibuka sembarangan. Saat hujan besar, wilayah itu rawan longsor. Kami sebagai warga sangat khawatir,” ujar Yoga, Minggu (30/11/2025).

Ia menambahkan bahwa warga lokal sangat bergantung pada kelestarian alam, sehingga pembukaan lahan tanpa kontrol dianggap sebagai ancaman serius.

“Saya sebagai pribumi Palutungan sangat kecewa melihat pohon-pohon ditebang begitu saja. Kami khawatir kondisi ini bisa memicu bencana, apalagi sekarang banyak kasus banjir besar seperti yang terjadi di Sumatra. Jangan sampai daerah kami mengalami hal serupa hanya karena pembukaan lahan yang tidak terkontrol,” ujarnya.

Tidak hanya soal lingkungan, Yoga juga menyoroti sikap pemerintah Desa Cisantana yang dinilai perlu memberikan penjelasan resmi kepada masyarakat.

“Warga juga mempertanyakan sikap pemerintah desa. Mengingat perubahan lahan ini sudah menjadi pembicaraan publik, masyarakat berharap kepala desa tidak diam dan segera memberikan penjelasan. Transparansi penting agar warga memahami apa yang sebenarnya terjadi serta bagaimana rencana pengelolaan lingkungannya ke depan,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, keresahan warga juga datang dari Desa Pajambon yang berbatasan langsung dengan kawasan Arunika. Manarul Hidayat, tokoh muda Desa Pajambon, mengaku terkejut setelah melihat pola perubahan lahan dalam video yang viral tersebut.

“Saat saya lihat videonya, jujur saja itu terlihat seperti sirkuit. Jalurnya berkelok dan lebarnya cukup besar. Saya sendiri tinggal di Pajambon, tapi sampai sekarang tidak tahu itu mau dijadikan apa. Apa pun rencananya, tolong pikirkan lingkungan. Di Cilengkrang kemarin pernah longsor dan berdampak pada masyarakat,” kata Manarul.

Kekhawatiran itu selaras dengan pandangan Kepala Desa Pajambon, Dra. Nani Ariningsih, yang menegaskan bahwa keselamatan warga harus menjadi prioritas utama.

“Menurut saya, saya juga sangat setuju untuk menjaga keselamatan agar tidak terjadinya bencana. Harus ada penanganan sedini mungkin. Untuk menolak kayaknya tidak bisa karena itu sudah hak pemiliknya, tetapi saya berharap memperhatikan keselamatannya agar tidak terjadi bencana yang imbasnya ke desa kami,” ujar Nani.

Dengan mengemukanya pandangan dari masyarakat Cisantana dan Pajambon, publik semakin mendesak pemerintah daerah, instansi lingkungan hidup, serta pihak pengelola Arunika untuk memberikan penjelasan terbuka. Masyarakat berharap proses pengembangan wisata tetap mengedepankan perlindungan lingkungan, mitigasi risiko bencana, dan keterlibatan warga dalam setiap kebijakan yang berpotensi mengubah bentang alam di lereng Gunung Ciremai.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Dana1742

    https://shorturl.fm/nE86G

    Reply
Sudah ditampilkan semua
Tutup