Kuningan Harus Melesat, Dadan: Pembangunan Jalan Terus, Alam Tetap Dijaga!

KUNINGANSATU.COM,- Pengamat kebijakan publik Kabupaten Kuningan, Dadan Satyavadin, menilai polemik tentang ekspansi lahan, isu jalur mirip sirkuit di kawasan Arunika-Pajambon, serta kritik terhadap arah pembangunan daerah menunjukkan bahwa Kuningan sedang berada pada fase penting dalam menentukan masa depan ekonominya.

Menurutnya, tekanan ekologis di Kuningan memang nyata, terutama pada kawasan tangkapan air yang harus dijaga ketat. Namun ia menegaskan bahwa menjadikan setiap pembangunan sebagai ancaman adalah cara pandang yang keliru.

“Yang salah itu bukan pembangunan. Yang salah adalah pembangunan tanpa kendali,” ujarnya, Minggu (30/11/2025).

Dadan menyebut Kuningan tidak boleh terus terjebak dalam stigma sebagai daerah dengan kemampuan fiskal lemah. Ia menilai, kondisi PAD yang stagnan justru mengharuskan pemerintah membuka ruang ekonomi baru melalui pembangunan yang terarah.

“Kalau semua ekspansi ditolak, Kuningan akan tertinggal jauh. Jawa Barat sedang berubah cepat, kita tidak bisa hanya jadi penonton,” katanya.

Ia menekankan perlunya sikap yang lebih dewasa dan komprehensif dalam menilai pembangunan. Karena, menurutnya, ekonomi daerah membutuhkan ruang tumbuh, pariwisata butuh aksesibilitas, dunia usaha memerlukan kepastian, dan masyarakat membutuhkan peluang hidup yang lebih baik. Karena itu, setiap rencana pembangunan jalan, jalur wisata, atau proyek strategis, menurut Dadan, semestinya dikawal agar dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan bukan ditolak secara membabi buta.

“Keselamatan rakyat itu penting, tetapi menghindari kemiskinan struktural juga bagian dari keselamatan,” ucapnya, mengutip prinsip klasik salus populi suprema lex esto.

Sebagai solusi, Dadan menawarkan dua langkah konkret. Pertama, pembangunan tetap dilanjutkan namun melalui audit ketat, termasuk kajian geologi-hidrologi, pemetaan titik rawan longsor, serta pengawasan independen sebelum alat berat mulai bekerja. Ia menilai menunda seluruh pembangunan hanya karena ketakutan berlebihan dapat menjadi bumerang jangka panjang bagi daerah.

Kedua, ia mendorong pemerintah menetapkan program wajib penanaman “1000 Pohon Beringin” di setiap ruang terbuka kritis sebagai kompensasi ekologis. Menurutnya, beringin dipilih bukan karena simbolik semata, melainkan karena akarnya yang kuat untuk mengikat tanah serta cocok untuk wilayah rawan erosi.

“Ini bukan mitigasi biasa, ini cara membuat pembangunan tetap berjalan tapi alam tetap dipulihkan,” tuturnya.

Dadan menilai sebagian narasi publik saat ini terlalu ekstrem, seolah satu kegiatan pembukaan lahan akan langsung membawa bencana ekologis. Ia mengingatkan bahwa narasi ketakutan tidak boleh menghambat daerah mengambil keputusan penting. Potensi wisata dan geografis Kuningan, katanya, tidak akan berkembang tanpa keberanian membangun akses serta membuka ruang ekonomi yang selama ini tersendat.

“Kuningan harus melaju. Bukan maju serampangan, tapi juga bukan diam dalam ketakutan. Pembangunan jalan terus, alam tetap dijaga, dan kita tanam 1000 beringin untuk masa depan,” jelasnya.

Dadan menutup pernyataannya dengan optimis bahwa Kuningan bisa keluar dari stagnasi fiskal bila mengambil langkah progresif namun bertanggung jawab.

“Kita bisa maju dengan bijak. Itu pilihan terbaik untuk Kuningan,” pungkasnya.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup